Pada hari Rabu, 11 Januari 2012 yang lalu Iska Group melepas dua sosok terbaiknya untuk memasuki masa purna tugas. Dua sosok itu adalah Bpk. Aep Suparman yang terakhir menjabat sebagai General Manajer PT Internusa Hasta Buana dan Bpk. Nico AT Kalangie yang terakhir menjabat Kepala Cabang FPS Medan dalam suatu acara penglepasan menuju masa purna tugas di lantai 9, Graha Iska, Jakarta. Keduanya telah bergabung dan mengabdi di Iska Group masing-masing 8 tahun lebih dan 20 tahun lebih. Penglepasan ini bagi Iska Group adalah yang kesekian kali dari sebelumnya (Sulaeman / satpam, Tugino / domestik, Jawawi / Operasional, dan Rakhmat Syaugi (alm)/Operasional).
“Perpisahan” ini tentu saja membuat kita merasa sangat kehilangan manakala demikian dekatnya kita dengan kedua bapak ini bahkan mungkin telah kita anggap sebagai sebuah keluarga (besar).
Meski demikian, kita yakini pula bahwa sunatullah tetap berlaku di muka bumi ini di mana masa-masa aktif dan masa istirahat harus dipertukarkan seperti halnya pergantian antara siang dan malam. Para Bapak ini sudah selayaknya beristirahat dan mengisi masa sepuhnya. Meski demikian, Pak Iskandar menegaskan dalam sambutannya bahwa berakhirnya masa tugas bukanlah sebuah perpisahan, “hari ini bukanlah hari perpisahan, silaturahmi harus tetap selalu disambung terus …”.
Penggerak Awal
Pak Nico (atau kawan-kawan senior biasa memanggil Om Nico), bergabung dengan Iska Group sejak Mei 1991 yang waktu itu masih menggunakan nama PT Internusa Intan Segara dan merupakan satu di antara personel awal yang menggerakkan roda bisnis freight forwarding Iska Group ini. Berkantor di satu ruangan sempit yang disekat di lantai 3 di bilangan Ancol, Jakarta, Pak Nico menjadi ujung tombak marketing awal yang kemudian secara berangsur-angsur direkrut personel yang lain.
Jejak pengabdian beliau tidaklah diragukan, selain sebagai seorang marketing beliau juga telah berkeliling menjadi leader di beberapa cabang utama, yaitu Bandung (1995-2001), Surabaya (2001-2006), Bandung (2006-2008) dan terakhir Medan (2008-2012). Inilah jejak seorang marketing dan perantau sejati di mana tempat dan waktu bukanlah suatu hambatan.
Karya Kedua
Jika Pak Nico separuh pengabdiannya dicurahkan pada Iska Group, Pak Aep lain lagi ceritanya. Bagi beliau, Iska Group adalah ladang karya kedua setelah 30 tahun berada di unit-unit bisnis dan anak perusahaan Samudera Indonesia (1973-2003). “Salah satu daya tarik kenapa saya mau dan bersedia bergabung dengan Iska Group adalah karena lingkungan kerja yang agamis”, kesan beliau di acara penglepasan itu. Setidaknya ada 7 unit bisnis dan anak perusahaan Samudera Indonesia baik di pusat maupun cabang-cabang yang tenaga dan pikirannya dicurahkan untuknya. Sebuah loyalitas, ketekunan dan ketelatenan yang patut kita teladani.
TSS, Penuh Perhatian
Tentu saja tagline “TSS” di atas sudah sangat kita kenal termasuk siapa si empunya, dialah Pak Nico. Slogan yang “dipopulerkan” oleh beliau bukanlah sekedar slogan. Mba’ Tanti dalam kesan-pesannya memberikan semacam testimoni, “Slogan Pak Nico “TSS” itu bukanlah sekedar slogan tapi benar-benar dilakukan dan ditunjukkan oleh beliau, salah satunya pada saat beliau terserang stroke di pertengahan 2010 lalu. Saat terbaring lemah di rumah sakit, beliau masih berbicara soal pekerjaan dan memotivasi kita-kita yang sehat.”
Tidak hanya itu, perhatian kepada teman sejawat maupun anak buahnya juga tidak tertandingi. Kue, roti atau gorengan kerap kali muncul tanpa diminta, tidak hitung-hitungan, dan tanpa mengenal waktu : pagi, siang atau sore. Remeh-temeh memang, tapi itu sangat membekas dan berarti dalam pemotivasian. Demikian seperti yang dituturkan oleh Mba’ Tanti itu.
Hal yang sama juga ditunjukkan oleh sosok Pak Aep meskipun dalam bentuk dan suasana yang berbeda. Bagi yang pernah “sowan” ke kediaman beliau, di Cisaat, Sukabumi suasana kekeluargaan yang hangat sangat terasa. Suatu kali teman-teman FPS Jakarta berkesempatan untuk outing. Karena dananya “urunan”, maka rumah Pak Aep menjadi salah satu tempat menginap. Ternyata, sambutan keluarga Pak Aep demikian besarnya, seolah memahami kebutuhan para peserta outing. Makanan disediakan demikian melimpah dalam kegiatan 1 ½ hari itu. Belum lagi sambutan Ibu Aep yang demikian “nyundani” (analogi yang bagi orang “Jawa” : njawani).
Sebagaimana dalam kehidupan kita, sosok orang tua senantiasa sangatlah kita butuhkan baik dalam bentuk sharing pengalaman, kegigihan, dan perjuangan di masa lalu maupun bimbingan-bimbingannya. Kesabaran yang diekspresikan juga diperlukan yang seolah menjadi penyejuk di suasana hiruk pikuk pekerjaan yang demikian ketat kompetisinya. Hal-hal seperti itu telah ditunjukkannya oleh kedua Bapak kita itu selama ini.
Saat ini, Para Bapak itu mungkin tidak lagi satu ruangan, satu gedung, atau satu perusahaan, tapi kita akan tetap mengenangnya dan menjadi kewajiban kita untuk selalu menyambungkan tali silaturahmi apalagi dengan bantuan kecanggihan teknologi komunikasi saat ini. Kitapun akan rindu udara segar Cisaat, dan rindu suatu saat diundang ke sana.
Kita kini harus mampu melanjutkan keteladanan yang telah mereka goreskan di Iska Group selama ini, yaitu keuletan, kegigihan, loyalitas, kesediaan membimbing yang diiringi dengan kesabaran, keikhlasan dan tidak hitung-hitungan atau pamrih berlebihan.
Selamat beristirahat dan menikmati masa sepuh kepada beliau Pak Aep dan Pak Nico, kami akan selalu merindukan bimbingan dan semangat yang seolah tiada henti itu.
(JS)
Y O U R....V I S I O N....I S....O U R....M I S S I O N
Friday, January 13, 2012
Tuesday, January 3, 2012
INFLASI 2011 CAPAI 3,79 PERSEN
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka Indeks Harga Konsumsi (IHK) atau biasa disebut inflasi selama Januari hingga Desember 2011 hanya mencapai 3,79 persen, jauh lebih rendah dibanding 2010 yang mencapai 6,96 persen.
“Jenis barang dan jasa yang dominan menyumbang inflasi utamanya beras yang mengkontribusi 0,54 persen, emas perhiasan 0,34 persen, rokok kretek filter 0,22 persen dan tarif sewa rumah 0,21 persen,” kata Pelaksana tugas Kepala BPS Suryamin dalam pemaparan dihadapan wartawan di Jakarta, Senin (2/1/2012).
Selain itu, inflasi juga disumbangkan oleh tarif angkutan udara 0,19 persen, ikan segar 0,18 persen, uang sekolah SLTA 0,10 persen, tarif kontrak rumah 0,09 persen dan nasi dengan lauk 0,08 persen.
"Dilihat dari besarnya sumbangan atau andil inflasi, kelompok bahan makanan merupakan penyumbang terbesar pada 2011 diikuti kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau," ujar Suryamin.
Dengan demikian, laju inflasi pada 2011 jauh dibawah asumsi yang ditetapkan pemerintah dalam APBN Perubahan sebesar 5,65 persen.
Suryamin mengatakan inflasi tertinggi pada 2011 terjadi pada Agustus sebesar 0,93 persen, karena adanya kenaikan emas perhiasan, ikan segar, beras dan tarif angkutan udara. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi pada Maret 0,32 persen dengan komoditas yang dominan penyumbang deflasi yaitu cabai merah, beras, cabai rawit dan bawang merah.
"Laju inflasi secara tahunan (year on year) juga tercatat sama dengan tahun kalender sebesar 3,79 persen," ujar Suryamin.
Sementara, pada Desember tercatat laju inflasi sebesar 0,57 persen, karena adanya kenaikan harga beras, cabai merah, tomat sayur, daging ayam ras dan ikan segar.
"Inflasi karena beras sebesar 0,15 persen, cabai merah 0,16 persen, telur ayam 0,03 persen dan ikan segar 0,03 persen," katanya.
Suryamin menjelaskan, harga komoditas yang mengalami penurunan pada Desember adalah emas perhiasan, bawang merah serta kacang panjang.
Dari 66 kota yang disurvei oleh BPS, seluruhnya mengalami inflasi selama Desember. Inflasi tertinggi terjadi di Kupang, Nusa Tenggara Timur sebesar 2,19 persen. Sementara itu, inflasi terendah terjadi di Tanjung Pinang sebesar 0,02 persen.
Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus yang berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Inflasi dan perekonomian Indonesia saling berkaitan. Apabila tingkat inflasi tinggi, sudah dipastikan akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi. (ant/vvn/ts)
Sumber : http://esq-news.com/2012/berita/01/02/inflasi-2011-capai-379-persen.html
“Jenis barang dan jasa yang dominan menyumbang inflasi utamanya beras yang mengkontribusi 0,54 persen, emas perhiasan 0,34 persen, rokok kretek filter 0,22 persen dan tarif sewa rumah 0,21 persen,” kata Pelaksana tugas Kepala BPS Suryamin dalam pemaparan dihadapan wartawan di Jakarta, Senin (2/1/2012).
Selain itu, inflasi juga disumbangkan oleh tarif angkutan udara 0,19 persen, ikan segar 0,18 persen, uang sekolah SLTA 0,10 persen, tarif kontrak rumah 0,09 persen dan nasi dengan lauk 0,08 persen.
"Dilihat dari besarnya sumbangan atau andil inflasi, kelompok bahan makanan merupakan penyumbang terbesar pada 2011 diikuti kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau," ujar Suryamin.
Dengan demikian, laju inflasi pada 2011 jauh dibawah asumsi yang ditetapkan pemerintah dalam APBN Perubahan sebesar 5,65 persen.
Suryamin mengatakan inflasi tertinggi pada 2011 terjadi pada Agustus sebesar 0,93 persen, karena adanya kenaikan emas perhiasan, ikan segar, beras dan tarif angkutan udara. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi pada Maret 0,32 persen dengan komoditas yang dominan penyumbang deflasi yaitu cabai merah, beras, cabai rawit dan bawang merah.
"Laju inflasi secara tahunan (year on year) juga tercatat sama dengan tahun kalender sebesar 3,79 persen," ujar Suryamin.
Sementara, pada Desember tercatat laju inflasi sebesar 0,57 persen, karena adanya kenaikan harga beras, cabai merah, tomat sayur, daging ayam ras dan ikan segar.
"Inflasi karena beras sebesar 0,15 persen, cabai merah 0,16 persen, telur ayam 0,03 persen dan ikan segar 0,03 persen," katanya.
Suryamin menjelaskan, harga komoditas yang mengalami penurunan pada Desember adalah emas perhiasan, bawang merah serta kacang panjang.
Dari 66 kota yang disurvei oleh BPS, seluruhnya mengalami inflasi selama Desember. Inflasi tertinggi terjadi di Kupang, Nusa Tenggara Timur sebesar 2,19 persen. Sementara itu, inflasi terendah terjadi di Tanjung Pinang sebesar 0,02 persen.
Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus yang berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Inflasi dan perekonomian Indonesia saling berkaitan. Apabila tingkat inflasi tinggi, sudah dipastikan akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi. (ant/vvn/ts)
Sumber : http://esq-news.com/2012/berita/01/02/inflasi-2011-capai-379-persen.html
Friday, December 23, 2011
S A M P A H
Health & Safety Awareness
Membaca subjek di atas, bayangan kita pastinya adalah seonggok barang yang berada di velbak, bak atau tempat sampah atau mungkin yang teronggok di pojokan pasar yang dikerubuti lalat dan dengan bau tidak sedap yang menyengat.
Anda tidak salah, tapi kali ini saya coba giring Anda pada sampah yang terdekat dengan kita sendiri yaitu :
1. sampah computer,
2. sampah dalam bentuk “waktu menunggu”, dan
3. sampah pembalut wanita !
1. Sampah Computer
Sangat sering sekali kita dengar teman kita atau mungkin kita sendiri yang komputernya mengalami masalah semisal hang, error atau data terhapus. Ternyata penyebabnya antara lain kita tidak pernah bertindak sebagai “tukang sapu” yang sebenarnya, yang dituntut untuk serajin mungkin membersihkan “halaman” computer, laptop atau gadget kita.
Sampah-sampah yang bisa kita identifikasi dari peralatan kita itu antara lain :
- onggokan SMS yang berbulan-bulan tidak kita hapus.
- onggokan incoming e-mail di mailbox Microsoft Outlook/Explorer kita.
- data-data lama yang sudah tidak relevan lagi dengan pekerjaan kita saat ini.
- foto-foto dokumentasi yang mestinya sudah dipindahkan ke media permanent (misal CD-ROM dsb.).
- file-file temporer dari kegiatan browsing di internet.
- program aplikasi tidak berguna yang tanpa sadar “nemplok” di computer/gadget kita.
- dan banyak lagi.
Sampah-sampah tersebut secara rutin mestinya dibersihkan. Kalau di rumah kita punya tukang sapu yang dipekerjakan untuk menyapu halaman rumah, maka untuk peralatan tersebut kitalah yang menjadi tukang sapunya.
Tips sederhana sebagai orang awam yang barangkali dapat Penulis berikan, antara lain :
1. Lakukan “disk clean-up” secara periodic (mingguan, bulanan, dst.).
2. Jika computer berjalan lamban, selain “disk clean-up”, lakukan “disk defragment”.
Mintalah teman yang paham untuk meletakkan dua aplikasi di atas di halaman desktop sehingga memudahkan menjalankannya.
2. Sampah dalam bentuk Waktu Menunggu
Sering kita dengar tentang “zero waste” atau terjemahan bebasnya “tidak ada sisa”. Zero waste dalam Kaizen adalah hal paling prinsip yang aplikasinya beragam bentuknya, salah satu yang kita kenal adalah “5S” (seiri, seiton, seiso, seiketsu, shitsuke) atau dalam istilah Bahasa Indonesia “5R” (ringkas, rapi, resik, rawat, rajin), sebuah aplikasi untuk housekeeping.
Sampah merupakan “produk ikutan” yang dihasilkan selain produk utama dari suatu proses. Jika itu proses produksi barang, maka sampahnya akan berupa sampah-sampah baik yang masih bernilai ekonomis (skrap dsb.) maupun yang tidak bernilai ekonomis semisal emisi gas buang dari cerobong-cerobong di pabrik-pabrik.
Lalu, apa bentuk “sampah” dari proses-proses jasa yang kita lakukan sehari-hari? Jawabannya adalah “waktu menunggu”. Konkritnya adalah, jika proses pekerjaan yang kita kerjakan menimbulkan akibat orang lain (atau proses setelah Anda) harus menunggu lama, maka “waktu” bagi orang yang menunggu itulah “sampah” kita.
Semakin Anda membuat orang “lama menunggu”, semakin menggununglah sampah yang Anda hasilkan! Coba kita renungkan hal ini !
3. Sampah pembalut wanita
Persepsi positif kita selama ini barangkali bahwa para penghuni gedung bertingkat (seperti penghuni Graha Iska, Jakarta) budayanya setinggi bangunan itu sendiri. Ternyata kita keliru !!!
Teman-teman kita dari Divisi HRD/GA ternyata setiap kali harus MEMUNGUTI sampah pembalut wanita dari septic tank yang terdapat di gedung Iska tersebut. Bahkan, sekali waktu (maaf), celana dalampun harus dipungut dari septic tank agar alat penampung ini tetap berfungsi dan tidak kepenuhan.
Sejatinya Penulis tidak paham / tidak pernah tahu apakah dalam kemasan produk “Pembalut Wanita” terdapat tata cara mengelola sampah pembalut ini, tapi mestinya sih ada. Sebab, seumur-umur tidak pernah melihat ceceran sampah “yang paling menyebalkan” ini (termasuk di rumah) selain info yang disampaikan teman-teman kita itu.
Masalah sebenarnya adalah kembali kepada diri kita sendiri, apakah budaya “membuang sampah pada tempatnya” – TERMASUK SAMPAH PEMBALUT – sudah menjadi kepribadian unggulan kita. Apakah tuntunan agama, “Kebersihan adalah Sebagian dari Iman” menjadi salah satu alat untuk menuju ketakwaan dalam proses keberagamaan kita?
Semoga tulisan “vulgar” ini dapat dijadikan penyadaran kita bahwa mengumbar “kesebelan” yang sejatinya adalah milik kita sendiri (privat) dan tak seorangpun mengetahui adalah tindakan primitive, TIDAK BERBUDAYA dan mengganggu lingkungan.
Kita sudah sebal dengan berita bertahun-tahun bahwa banjir yang terjadi di kota-kota besar salah satunya diakibatkan oleh sampah. Jika kita ingin menyumbang untuk “mengurangi” sampah fisik yang dimaksud, mulailah membentuk budaya dari kita, kita luruskan : Membuang dan mengelola sampah terdekat kita dengan benar.
(JS)
PS. Mohon maaf kepada PARA PEMBUANG SAMPAH PEMBALUT SEMBARANGAN dengan menerbitkan tulisan ini, dengan tujuan untuk menghentikan tindakan yang tidak baik itu.
Membaca subjek di atas, bayangan kita pastinya adalah seonggok barang yang berada di velbak, bak atau tempat sampah atau mungkin yang teronggok di pojokan pasar yang dikerubuti lalat dan dengan bau tidak sedap yang menyengat.
Anda tidak salah, tapi kali ini saya coba giring Anda pada sampah yang terdekat dengan kita sendiri yaitu :
1. sampah computer,
2. sampah dalam bentuk “waktu menunggu”, dan
3. sampah pembalut wanita !
1. Sampah Computer
Sangat sering sekali kita dengar teman kita atau mungkin kita sendiri yang komputernya mengalami masalah semisal hang, error atau data terhapus. Ternyata penyebabnya antara lain kita tidak pernah bertindak sebagai “tukang sapu” yang sebenarnya, yang dituntut untuk serajin mungkin membersihkan “halaman” computer, laptop atau gadget kita.
Sampah-sampah yang bisa kita identifikasi dari peralatan kita itu antara lain :
- onggokan SMS yang berbulan-bulan tidak kita hapus.
- onggokan incoming e-mail di mailbox Microsoft Outlook/Explorer kita.
- data-data lama yang sudah tidak relevan lagi dengan pekerjaan kita saat ini.
- foto-foto dokumentasi yang mestinya sudah dipindahkan ke media permanent (misal CD-ROM dsb.).
- file-file temporer dari kegiatan browsing di internet.
- program aplikasi tidak berguna yang tanpa sadar “nemplok” di computer/gadget kita.
- dan banyak lagi.
Sampah-sampah tersebut secara rutin mestinya dibersihkan. Kalau di rumah kita punya tukang sapu yang dipekerjakan untuk menyapu halaman rumah, maka untuk peralatan tersebut kitalah yang menjadi tukang sapunya.
Tips sederhana sebagai orang awam yang barangkali dapat Penulis berikan, antara lain :
1. Lakukan “disk clean-up” secara periodic (mingguan, bulanan, dst.).
2. Jika computer berjalan lamban, selain “disk clean-up”, lakukan “disk defragment”.
Mintalah teman yang paham untuk meletakkan dua aplikasi di atas di halaman desktop sehingga memudahkan menjalankannya.
2. Sampah dalam bentuk Waktu Menunggu
Sering kita dengar tentang “zero waste” atau terjemahan bebasnya “tidak ada sisa”. Zero waste dalam Kaizen adalah hal paling prinsip yang aplikasinya beragam bentuknya, salah satu yang kita kenal adalah “5S” (seiri, seiton, seiso, seiketsu, shitsuke) atau dalam istilah Bahasa Indonesia “5R” (ringkas, rapi, resik, rawat, rajin), sebuah aplikasi untuk housekeeping.
Sampah merupakan “produk ikutan” yang dihasilkan selain produk utama dari suatu proses. Jika itu proses produksi barang, maka sampahnya akan berupa sampah-sampah baik yang masih bernilai ekonomis (skrap dsb.) maupun yang tidak bernilai ekonomis semisal emisi gas buang dari cerobong-cerobong di pabrik-pabrik.
Lalu, apa bentuk “sampah” dari proses-proses jasa yang kita lakukan sehari-hari? Jawabannya adalah “waktu menunggu”. Konkritnya adalah, jika proses pekerjaan yang kita kerjakan menimbulkan akibat orang lain (atau proses setelah Anda) harus menunggu lama, maka “waktu” bagi orang yang menunggu itulah “sampah” kita.
Semakin Anda membuat orang “lama menunggu”, semakin menggununglah sampah yang Anda hasilkan! Coba kita renungkan hal ini !
3. Sampah pembalut wanita
Persepsi positif kita selama ini barangkali bahwa para penghuni gedung bertingkat (seperti penghuni Graha Iska, Jakarta) budayanya setinggi bangunan itu sendiri. Ternyata kita keliru !!!
Teman-teman kita dari Divisi HRD/GA ternyata setiap kali harus MEMUNGUTI sampah pembalut wanita dari septic tank yang terdapat di gedung Iska tersebut. Bahkan, sekali waktu (maaf), celana dalampun harus dipungut dari septic tank agar alat penampung ini tetap berfungsi dan tidak kepenuhan.
Sejatinya Penulis tidak paham / tidak pernah tahu apakah dalam kemasan produk “Pembalut Wanita” terdapat tata cara mengelola sampah pembalut ini, tapi mestinya sih ada. Sebab, seumur-umur tidak pernah melihat ceceran sampah “yang paling menyebalkan” ini (termasuk di rumah) selain info yang disampaikan teman-teman kita itu.
Masalah sebenarnya adalah kembali kepada diri kita sendiri, apakah budaya “membuang sampah pada tempatnya” – TERMASUK SAMPAH PEMBALUT – sudah menjadi kepribadian unggulan kita. Apakah tuntunan agama, “Kebersihan adalah Sebagian dari Iman” menjadi salah satu alat untuk menuju ketakwaan dalam proses keberagamaan kita?
Semoga tulisan “vulgar” ini dapat dijadikan penyadaran kita bahwa mengumbar “kesebelan” yang sejatinya adalah milik kita sendiri (privat) dan tak seorangpun mengetahui adalah tindakan primitive, TIDAK BERBUDAYA dan mengganggu lingkungan.
Kita sudah sebal dengan berita bertahun-tahun bahwa banjir yang terjadi di kota-kota besar salah satunya diakibatkan oleh sampah. Jika kita ingin menyumbang untuk “mengurangi” sampah fisik yang dimaksud, mulailah membentuk budaya dari kita, kita luruskan : Membuang dan mengelola sampah terdekat kita dengan benar.
(JS)
PS. Mohon maaf kepada PARA PEMBUANG SAMPAH PEMBALUT SEMBARANGAN dengan menerbitkan tulisan ini, dengan tujuan untuk menghentikan tindakan yang tidak baik itu.
Labels:
sampah,
sampah komputer,
sampah pembalut,
waktu menunggu
Thursday, December 15, 2011
FPS CONVENES AT BALI
Monday, November 14, 2011
The host of the AGM for this year was PT FPS Indonesia, whose Head Office is based in Jakarta.
The theme for this year's AGM was "TOGETHER WE ARE STRONG" and represents the idea of "UNITY" and "TEAMWORK" which is the foundation of our success and the very essence of which has earned us respect from many of our clientele and competitors globally.
Total delegation that attended was 126 people represented by 40 countries from 60 offices.
Every two years, the Advisory Board members step down and new members are nominated and selected and this year, the structure of the 2nd term Advisory Board is as follows. The period that they will serve the group globally is October 2011 – October 2013.
The newly selected board members are:
Chairman: Mr Gihan Nanayakkara from FPS Sri Lanka (Colombo)
Advisory Board Members:
Ms Michele Dougal from FPS Brisbane (responsible for It Development)
Working with Michele Dougal on the IT side is Mr Chito Rollan of FPS Philippines (Manila)
Mr Jens-Ole Holmager from Team Freight Denmark (responsible for Agency Development
Mr Hendramoko Walujo from PT FPS Indonesia (Jakarta) (responsible for Sales and Marketing)
Treasurer is Mr Benny Ling (FPS Hong Kong)
Secretariat based in Hong Kong is Ms Cindy Ko
Source : http://www.fps-group.net/News.aspx?id=83
The host of the AGM for this year was PT FPS Indonesia, whose Head Office is based in Jakarta.
The theme for this year's AGM was "TOGETHER WE ARE STRONG" and represents the idea of "UNITY" and "TEAMWORK" which is the foundation of our success and the very essence of which has earned us respect from many of our clientele and competitors globally.
Total delegation that attended was 126 people represented by 40 countries from 60 offices.
Every two years, the Advisory Board members step down and new members are nominated and selected and this year, the structure of the 2nd term Advisory Board is as follows. The period that they will serve the group globally is October 2011 – October 2013.
The newly selected board members are:
Chairman: Mr Gihan Nanayakkara from FPS Sri Lanka (Colombo)
Advisory Board Members:
Ms Michele Dougal from FPS Brisbane (responsible for It Development)
Working with Michele Dougal on the IT side is Mr Chito Rollan of FPS Philippines (Manila)
Mr Jens-Ole Holmager from Team Freight Denmark (responsible for Agency Development
Mr Hendramoko Walujo from PT FPS Indonesia (Jakarta) (responsible for Sales and Marketing)
Treasurer is Mr Benny Ling (FPS Hong Kong)
Secretariat based in Hong Kong is Ms Cindy Ko
Source : http://www.fps-group.net/News.aspx?id=83
FPS INDONESIA AWARDED FOR THE COMPANY EMPLOYED DISABILITIES PEOPLE
In line with the corporate value adopted : “care and share”, employment of disabilities people has been started more than 15 years ago in PT FPS Indonesia.
Continuously, maintenance of the values by this employment going on spreading out not only in FPS Jakarta as a main office but also in some branch offices. They’re employed to various of positions such as tele-marketing, customer service, accounting/finance and EDP/IT.
For the effort by number of years, The Government of Jakarta awarded PT FPS Indonesia as a Private Logistic Company Employed Disabilities People at the event of 2011 International Disabled Day on 7th of December 2011.
This award is a testimony to the company that creating an added-value to stakeholders is corporate objective as a whole synchronous with the government policy. It’s not just money solely.
(JS)
Continuously, maintenance of the values by this employment going on spreading out not only in FPS Jakarta as a main office but also in some branch offices. They’re employed to various of positions such as tele-marketing, customer service, accounting/finance and EDP/IT.
For the effort by number of years, The Government of Jakarta awarded PT FPS Indonesia as a Private Logistic Company Employed Disabilities People at the event of 2011 International Disabled Day on 7th of December 2011.
This award is a testimony to the company that creating an added-value to stakeholders is corporate objective as a whole synchronous with the government policy. It’s not just money solely.
(JS)
Monday, December 5, 2011
MEMBANGUN KOMITMEN ORGANISASI
Pengertian Komitmen Organisasi
Pengertian komitmen organisasi menurut Riggio (2000, p.227) “Organizational commitment is a worker’s feelings and attitudes about the entire work organization” artinya komitmen organisasi adalah semua perasaan dan sikap karyawan terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan organisasi dimana mereka bekerja termasuk pada pekerjaan mereka.
Luthans (1995, p.130) mengartikan komitmen organisasi sebagai :
a. A strong desire to remain a member of particular organization (Keinginan yang kuat untuk mempertahankan seorang anggota organisasi tertentu).
b. A willingness to exert high levels of effort on behalf of the organization (Sebuah kemauan yang kuat untuk berusaha mempertahankan nama organisasi).
c. A definite belief in, and acceptance of, the values and goals of the organization (Keyakinan dan penerima-an.nilai-nilai dan tujuan organisasi.
Menurut Robbins (2001, p.140) komitmen pada organisasi merupakan suatu keadaan di mana seorang karyawan memihak pada suatu organisasi dan tujuan-tujuannya, serta berniat memelihara keanggotaan dalam organisasi itu.
“Organizational commitment is the collection of feelings and beliefs that people have about their organization as a whole.” Level komitmen bisa dimulai dari sangat tinggi sampai sangat rendah, orang-orang bisa mempunyai sikap tentang berbagai aspek organisasi mereka seperti saat praktek promosi organisasi, kualitas produk organisasi dan perbedaan budaya organisasi. (Jenifer dan Gareth, 2002, p. 76)
Komitmen organisasi mencerminkan bagaimana seorang individu mengidentifikasikan dirinya dengan organisasi dan terikat dengan tujuan-tujuannya. Para manajer disarankan untuk meningkatkan kepuasan kerja dengan tujuan untuk mendapat-kan tingkat komitmen yang lebih tinggi. Selanjutnya, komitmen yang lebih tinggi dapat mempermudah terwujudnya produktivitas yang lebih tinggi. (Kreitner dan Kinicki, 2003, p.274).
Dimensi Komitmen Organisasi
Luthans (1995, p. 131) mengemukakan tiga dimensi didalam komitmen organisasi, antara lain :
a. Affective commitment involves the employee’s emotional attachment to, identification with, and involvement in the organization.
Affective commitment mengacu pada keterikatan emosional, identifikasi serta keterlibatan seorang karyawan pada suatu organisasi. Komitmen afektif seseorang akan menjadi lebih kuat bila pengalamannya dalam suatu organisasi konsisten dengan harapan-harapan dan memuaskan kebutuhan dasarnya dan sebaliknya.
Goal congruence orientation seseorang terhadap organisasi menekankan pada sejauh mana seseorang mengidentifikasikan dirinya dengan organisasi memiliki tujuan-tujuan pribadi yang sejalan dengan tujuan-tujuan organisasi. Pendekatan ini mencerminkan keinginan seseorang untuk menerima dan berusaha mewujudkan tujuan-tujuan organisasi. Ada suatu jenis komitmen yang berhubungan dengan pendekatan kongruensi tujuan (goal congruence approach), yaitu komitmen afektif (affective commitment) yang menunjukkan kuatnya keinginan seseorang untuk terus bekerja bagi suatu organisasi karena ia memang setuju dengan organisasi itu dan memang berkeinginan melakukannya. Pegawai yang mempunyai komitmen afektif yang kuat tetap bekerja dengan perusahaan
karena mereka menginginkan untuk bekerja di perusahaan itu.
b. Continuance commitment involves commitment based on the costs that the employee associates with leaving the organization.
Konsep side-bets orientation yang menekankan pada sumbangan seseorang yang sewaktu-waktu dapat hilang jika orang
meninggalkan organisasi. Tindakan meninggalkan organisasi menjadi sesuatu yang berresiko tinggi karena orang merasa takut akan kehilangan sumbangan yang mereka tanamkan pada organisasi itu dan menyadari bahwa mereka tak mungkin mencari gantinya.
c. Normative commitment involves the employee’s feelings of obligation to stay with organization
Komitmen normatif bisa dipengaruhi beberapa aspek antara lain sosialisasi awal dan bentuk peran seseorang dari pengalaman organisasinya.
Keterkaitan yang kuat antara komitmen dan pemberdayaan disebabkan karena adanya keinginan dan kesiapan karyawan dalam organisasi untuk diberdayakan dengan menerima berbagai tantangan dan tanggung jawab. Argyris dalam Rokhman (1998) membagi komitmen menjadi dua yaitu komitmen internal dan eskternal :
1. Komitmen internal merupakan komitmen yang berasal dari diri karyawan untuk menyelesaikan berbagai tugas, tanggung jawab dan wewenang berdasarkan pada alasan dan motivasi yang dimiliki. Pemberdayaan sangat terkait dengan komitmen internal karyawan. Proses pemberdayaan akan berhasil bila ada motivasi dan kemauan yang kuat untuk mengembangkan diri dan memacu kreativitas individu dalam menerima tanggung jawab yang lebih besar.
2. Komitmen eksternal dibentuk oleh lingkungan kerja. Komitmen ini muncul karena adanya tuntutan terhadap penyelesaian tugas dan tanggung jawab yang harus diselesaikan oleh para karyawan. Peran supervisor sangat penting dalam menentukan timbulnya komitmen ini karena belum adanya suatu kesadaran individual atas tugas yang diberikan.
Pemberdayaan merupakan serangkaian proses yang dilakukan secara bertahap dalam organisasi agar dapat dicapai secara optimal dan membangun kesadaran dari karyawan akan pentingnya proses pemberdayaan sehingga perlu adanya komitmen dari anggota terhadap organisasi, dengan pemberian wewenang dan tanggung jawab akan menimbulkan motivasi dan komitmen organisasi terhadap organisasi.
Pemberdayaan yang dapat dikembangkan untuk memperkuat komitmen organisasi yaitu (Sharafat Khan dalam Rokhman, 1997) :
1. Lama bekerja (Time)
Merupakan waktu yang telah dijalani seorang dalam melakukan pekerjaan pada perusahaan. Semakin lama seseorang bertahan dalam perusahaan maka terlihat bahwa dia berkomitmen terhadap perusahaan.
2. Kepercayaan (Trust)
Setelah pemberdayaan dilakukan oleh pihak manajemen, langkah selanjutnya yaitu membangun kepercayaan antara manajemen dan karyawan. Adanya saling percaya diantara anggota organisasi akan tercipta kondisi yang baik untuk pertukaran informasi dan saran tanpa adanya rasa takut. Kepercayaan antara keduanya dapat diciptakan dengan cara antara lain : (1) Menyediakan waktu dan sumber daya yang cukup bagi karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan ; (2) Menyediakan pelatihan yang mencukupi bagi kebutuhan kerja ; (3) menghargai perbedaan pandangan dan perbedaan kesuksesan yang diraih karyawan ; (4) menyediakan akses informasi yang cukup.
3. Rasa percaya diri (Confident)
Menimbulkan rasa percaya diri karyawan dengan menghargai kemampuan yang dimiliki karyawan sehingga komitmen terhadap perusahaan semakin tinggi. Keyakinan karyawan dapat ditimbulkan melalui antara lain : (1) mendelegasikan tugas penting kepada karyawan ; (2) menggali saran dan ide dari karyawan ; (3) memperluas tugas dan membangun jaringan antar departemen ; (4) menyediakan instruksi tugas untuk penyelesaian pekerjaan yang baik.
4. Kredibilitas (Credibility)
Menjaga kredibilitas dengan penghargaan dan mengembangkan lingkungan kerja yang mendorong kompetisi yang sehat sehingga tercipta organisasi yang memiliki kinerja tinggi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara antara lain : (1) memandang karyawan sebagai partner strategis ; (2) peningkatan target di semua bagian pekerjaan ; (3) mendorong inisiatif individu untuk melakukan perubahan melalui partisipasi ; (4) membantu menyelesaikan perbedaan dalam penentuan tujuan dan prioritas.
5. Pertanggungjawaban (Accountability)
Pertanggungjawaban karyawan pada wewenang yang diberikan dengan menetapkan secara konsisten dan jelas tentang peran, standar dan tujuan tentang penilaian terhadap kinerja karyawan. Tahap ini sebagai sarana evaluasi terhadap kinerja karyawan dalam penyelesaian dan tanggung jawab terhadap wewenang yang diberikan. Akuntabilitas dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : (1) menggunakan jalur training dalam mengevaluasi kinerja karyawan ; (2) memberikan tugas yang jelas dan ukuran yang jelas ; (3) melibatkan karyawan dalam penentuan standar dan ukuran kinerja ; (4)memberikan saran dan bantuan kepada karyawan dalam menyelesaikantugasnya.
Jika karyawan memiliki tanggungjawab yang besar terhadap pekerjaannya,kecilnya peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang lain, adanya pengalaman yang baik dalam bekerja dan adanya usaha yang sungguh-sungguh dari organisasi untuk membantu karyawan baru dalam belajar tentang organisasi dan pekerjaannya, maka akan tercipta komitmen pada organisasi.
sumber : http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/04/membangun-komitmen-organisasi.html
Pengertian komitmen organisasi menurut Riggio (2000, p.227) “Organizational commitment is a worker’s feelings and attitudes about the entire work organization” artinya komitmen organisasi adalah semua perasaan dan sikap karyawan terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan organisasi dimana mereka bekerja termasuk pada pekerjaan mereka.
Luthans (1995, p.130) mengartikan komitmen organisasi sebagai :
a. A strong desire to remain a member of particular organization (Keinginan yang kuat untuk mempertahankan seorang anggota organisasi tertentu).
b. A willingness to exert high levels of effort on behalf of the organization (Sebuah kemauan yang kuat untuk berusaha mempertahankan nama organisasi).
c. A definite belief in, and acceptance of, the values and goals of the organization (Keyakinan dan penerima-an.nilai-nilai dan tujuan organisasi.
Menurut Robbins (2001, p.140) komitmen pada organisasi merupakan suatu keadaan di mana seorang karyawan memihak pada suatu organisasi dan tujuan-tujuannya, serta berniat memelihara keanggotaan dalam organisasi itu.
“Organizational commitment is the collection of feelings and beliefs that people have about their organization as a whole.” Level komitmen bisa dimulai dari sangat tinggi sampai sangat rendah, orang-orang bisa mempunyai sikap tentang berbagai aspek organisasi mereka seperti saat praktek promosi organisasi, kualitas produk organisasi dan perbedaan budaya organisasi. (Jenifer dan Gareth, 2002, p. 76)
Komitmen organisasi mencerminkan bagaimana seorang individu mengidentifikasikan dirinya dengan organisasi dan terikat dengan tujuan-tujuannya. Para manajer disarankan untuk meningkatkan kepuasan kerja dengan tujuan untuk mendapat-kan tingkat komitmen yang lebih tinggi. Selanjutnya, komitmen yang lebih tinggi dapat mempermudah terwujudnya produktivitas yang lebih tinggi. (Kreitner dan Kinicki, 2003, p.274).
Dimensi Komitmen Organisasi
Luthans (1995, p. 131) mengemukakan tiga dimensi didalam komitmen organisasi, antara lain :
a. Affective commitment involves the employee’s emotional attachment to, identification with, and involvement in the organization.
Affective commitment mengacu pada keterikatan emosional, identifikasi serta keterlibatan seorang karyawan pada suatu organisasi. Komitmen afektif seseorang akan menjadi lebih kuat bila pengalamannya dalam suatu organisasi konsisten dengan harapan-harapan dan memuaskan kebutuhan dasarnya dan sebaliknya.
Goal congruence orientation seseorang terhadap organisasi menekankan pada sejauh mana seseorang mengidentifikasikan dirinya dengan organisasi memiliki tujuan-tujuan pribadi yang sejalan dengan tujuan-tujuan organisasi. Pendekatan ini mencerminkan keinginan seseorang untuk menerima dan berusaha mewujudkan tujuan-tujuan organisasi. Ada suatu jenis komitmen yang berhubungan dengan pendekatan kongruensi tujuan (goal congruence approach), yaitu komitmen afektif (affective commitment) yang menunjukkan kuatnya keinginan seseorang untuk terus bekerja bagi suatu organisasi karena ia memang setuju dengan organisasi itu dan memang berkeinginan melakukannya. Pegawai yang mempunyai komitmen afektif yang kuat tetap bekerja dengan perusahaan
karena mereka menginginkan untuk bekerja di perusahaan itu.
b. Continuance commitment involves commitment based on the costs that the employee associates with leaving the organization.
Konsep side-bets orientation yang menekankan pada sumbangan seseorang yang sewaktu-waktu dapat hilang jika orang
meninggalkan organisasi. Tindakan meninggalkan organisasi menjadi sesuatu yang berresiko tinggi karena orang merasa takut akan kehilangan sumbangan yang mereka tanamkan pada organisasi itu dan menyadari bahwa mereka tak mungkin mencari gantinya.
c. Normative commitment involves the employee’s feelings of obligation to stay with organization
Komitmen normatif bisa dipengaruhi beberapa aspek antara lain sosialisasi awal dan bentuk peran seseorang dari pengalaman organisasinya.
Keterkaitan yang kuat antara komitmen dan pemberdayaan disebabkan karena adanya keinginan dan kesiapan karyawan dalam organisasi untuk diberdayakan dengan menerima berbagai tantangan dan tanggung jawab. Argyris dalam Rokhman (1998) membagi komitmen menjadi dua yaitu komitmen internal dan eskternal :
1. Komitmen internal merupakan komitmen yang berasal dari diri karyawan untuk menyelesaikan berbagai tugas, tanggung jawab dan wewenang berdasarkan pada alasan dan motivasi yang dimiliki. Pemberdayaan sangat terkait dengan komitmen internal karyawan. Proses pemberdayaan akan berhasil bila ada motivasi dan kemauan yang kuat untuk mengembangkan diri dan memacu kreativitas individu dalam menerima tanggung jawab yang lebih besar.
2. Komitmen eksternal dibentuk oleh lingkungan kerja. Komitmen ini muncul karena adanya tuntutan terhadap penyelesaian tugas dan tanggung jawab yang harus diselesaikan oleh para karyawan. Peran supervisor sangat penting dalam menentukan timbulnya komitmen ini karena belum adanya suatu kesadaran individual atas tugas yang diberikan.
Pemberdayaan merupakan serangkaian proses yang dilakukan secara bertahap dalam organisasi agar dapat dicapai secara optimal dan membangun kesadaran dari karyawan akan pentingnya proses pemberdayaan sehingga perlu adanya komitmen dari anggota terhadap organisasi, dengan pemberian wewenang dan tanggung jawab akan menimbulkan motivasi dan komitmen organisasi terhadap organisasi.
Pemberdayaan yang dapat dikembangkan untuk memperkuat komitmen organisasi yaitu (Sharafat Khan dalam Rokhman, 1997) :
1. Lama bekerja (Time)
Merupakan waktu yang telah dijalani seorang dalam melakukan pekerjaan pada perusahaan. Semakin lama seseorang bertahan dalam perusahaan maka terlihat bahwa dia berkomitmen terhadap perusahaan.
2. Kepercayaan (Trust)
Setelah pemberdayaan dilakukan oleh pihak manajemen, langkah selanjutnya yaitu membangun kepercayaan antara manajemen dan karyawan. Adanya saling percaya diantara anggota organisasi akan tercipta kondisi yang baik untuk pertukaran informasi dan saran tanpa adanya rasa takut. Kepercayaan antara keduanya dapat diciptakan dengan cara antara lain : (1) Menyediakan waktu dan sumber daya yang cukup bagi karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan ; (2) Menyediakan pelatihan yang mencukupi bagi kebutuhan kerja ; (3) menghargai perbedaan pandangan dan perbedaan kesuksesan yang diraih karyawan ; (4) menyediakan akses informasi yang cukup.
3. Rasa percaya diri (Confident)
Menimbulkan rasa percaya diri karyawan dengan menghargai kemampuan yang dimiliki karyawan sehingga komitmen terhadap perusahaan semakin tinggi. Keyakinan karyawan dapat ditimbulkan melalui antara lain : (1) mendelegasikan tugas penting kepada karyawan ; (2) menggali saran dan ide dari karyawan ; (3) memperluas tugas dan membangun jaringan antar departemen ; (4) menyediakan instruksi tugas untuk penyelesaian pekerjaan yang baik.
4. Kredibilitas (Credibility)
Menjaga kredibilitas dengan penghargaan dan mengembangkan lingkungan kerja yang mendorong kompetisi yang sehat sehingga tercipta organisasi yang memiliki kinerja tinggi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara antara lain : (1) memandang karyawan sebagai partner strategis ; (2) peningkatan target di semua bagian pekerjaan ; (3) mendorong inisiatif individu untuk melakukan perubahan melalui partisipasi ; (4) membantu menyelesaikan perbedaan dalam penentuan tujuan dan prioritas.
5. Pertanggungjawaban (Accountability)
Pertanggungjawaban karyawan pada wewenang yang diberikan dengan menetapkan secara konsisten dan jelas tentang peran, standar dan tujuan tentang penilaian terhadap kinerja karyawan. Tahap ini sebagai sarana evaluasi terhadap kinerja karyawan dalam penyelesaian dan tanggung jawab terhadap wewenang yang diberikan. Akuntabilitas dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : (1) menggunakan jalur training dalam mengevaluasi kinerja karyawan ; (2) memberikan tugas yang jelas dan ukuran yang jelas ; (3) melibatkan karyawan dalam penentuan standar dan ukuran kinerja ; (4)memberikan saran dan bantuan kepada karyawan dalam menyelesaikantugasnya.
Jika karyawan memiliki tanggungjawab yang besar terhadap pekerjaannya,kecilnya peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang lain, adanya pengalaman yang baik dalam bekerja dan adanya usaha yang sungguh-sungguh dari organisasi untuk membantu karyawan baru dalam belajar tentang organisasi dan pekerjaannya, maka akan tercipta komitmen pada organisasi.
sumber : http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/04/membangun-komitmen-organisasi.html
Labels:
komitmen,
komitmen organisasi,
organisasi,
sdm
Tuesday, November 15, 2011
INTERNAL CONSOLIDATION GOES ON
Bali meeting October 18th – 21st was over, several home works have to be conducted by FPS Indonesia and Iska Group including its internal affair. During October – November 2011 the activities with the atmosphere of internal consolidation was done. The activities with content of awareness, consistency and social piety were training and fire emergency drill, internal and external audit of QMS and OHSMS, and slaughter of Idul Adha.
Training and Fire Emergency Drill
It is the requirement of OHSAS 18001:2007 where FPS Indonesia certified, that company have to organize an emergency drill regularly. Emergency scenario was arrange with the fifth floor of Graha Iska Building where FPS Indonesia official office located pointed as starting point that the emergency situation was occurred. In the drills, some activities facing the emergency situation including evacuation process of pregnant women was practiced. Evaluation Team recorded that it need 1 minute 36.6 second to evacuate pregnant women from the fifth floor to the assembly point nearby the building.
Internal and External Audit of QMS and OHSMS
Other important aspect that focused by FPS Indonesia management is performance and result of work evaluation particulary the aspect of quality and safety and compliance to the implemented standard of QMS and OHSMS. Respectively, on 2nd – 4th November 2011 and 9th – 10th November 2011 FPS Indonesia has performed internal and external combine audit based on ISO 9001:2008 and OHSAS 18001:2007 international standard.
Both audits carried out as a combine audit for time effectivity. For the next time, the activities proposed to be done as an integrated. In connecting with internal audit, improving the competency of the auditor is the must. Competency of personnel as a whole also to be focused of the company in line with coming Free Asian Trade in nearly time.
At the end of audit, assessment body concluded tha FPS Indonesia still recommended to certify by both standard.
Slaughter of Idul Adha
Same as number of years previously, FPS Indonesia and Iska Group, and its branch-offices as well, carried out a slaughter to celebrate Idul Adha. This observance was purposed to sharpen the social piety within the society. Sacrifice as the core of the observance should be a differentiator characteristic from other group of communities.
Sincere qurban worship could bring us to the learning of that sacrifice is not only in the situation of ‘the have’ but is could be in all situation including ‘the have not’ and other situation of suffering. Belove to fellow human beings is the highest value of this worship.
(Jaeroni Setyadhi)
Training and Fire Emergency Drill
It is the requirement of OHSAS 18001:2007 where FPS Indonesia certified, that company have to organize an emergency drill regularly. Emergency scenario was arrange with the fifth floor of Graha Iska Building where FPS Indonesia official office located pointed as starting point that the emergency situation was occurred. In the drills, some activities facing the emergency situation including evacuation process of pregnant women was practiced. Evaluation Team recorded that it need 1 minute 36.6 second to evacuate pregnant women from the fifth floor to the assembly point nearby the building.
Internal and External Audit of QMS and OHSMS
Other important aspect that focused by FPS Indonesia management is performance and result of work evaluation particulary the aspect of quality and safety and compliance to the implemented standard of QMS and OHSMS. Respectively, on 2nd – 4th November 2011 and 9th – 10th November 2011 FPS Indonesia has performed internal and external combine audit based on ISO 9001:2008 and OHSAS 18001:2007 international standard.
Both audits carried out as a combine audit for time effectivity. For the next time, the activities proposed to be done as an integrated. In connecting with internal audit, improving the competency of the auditor is the must. Competency of personnel as a whole also to be focused of the company in line with coming Free Asian Trade in nearly time.
At the end of audit, assessment body concluded tha FPS Indonesia still recommended to certify by both standard.
Slaughter of Idul Adha
Same as number of years previously, FPS Indonesia and Iska Group, and its branch-offices as well, carried out a slaughter to celebrate Idul Adha. This observance was purposed to sharpen the social piety within the society. Sacrifice as the core of the observance should be a differentiator characteristic from other group of communities.
Sincere qurban worship could bring us to the learning of that sacrifice is not only in the situation of ‘the have’ but is could be in all situation including ‘the have not’ and other situation of suffering. Belove to fellow human beings is the highest value of this worship.
(Jaeroni Setyadhi)
Subscribe to:
Posts (Atom)