FPS INDONESIA

Y O U R....V I S I O N....I S....O U R....M I S S I O N

Tuesday, March 18, 2014

Mewujudkan Harapan dalam Kebersamaan



(Refleksi Jelang Usia Seperempat Abad)


Hari ini, tanggal 18 Maret merupakan hari istimewa bagi keluarga Iska Niaga Darma Group, karena tepat di hari ini 23 tahun yang lalu merupakan hari jadi PT Internusa Hasta Buana atau yang kita kenal sebagai Internusa. Dalam usia yang hampir seperempat abad ini, tentu saja, berbagai dinamika telah dilaluinya. Ada suka, ada duka; ada senang dan juga tidak sedikit kesulitan yang dihadapi. Sesuai filosofi yang diyakininya, di Internusa kita berpandangan bahwa kesabaran hendaknya menjadi pegangan saat kita berada dan mengalami kesulitan, dan sebaliknya, tidak lupa diri saat berkeleluasaan dan dikaruniai rezki yang berlebih. Untuk itulah, tema “kebersamaan” kembali dimunculkan pada peringatan milad/ulang tahun sebagaimana judul tulisan ini, sekaligus sebagai bahan refleksi semoga “kebersamaan” ini mampu pula diejawantahkan saat kita kembali berjaya esok hari.

Mengapa Internusa?
Pertanyaan yang barangkali muncul adalah “mengapa manajemen demikian respek terhadap milad Internusa”? Jawabannya kurang lebih adalah karena Internusa-lah yang “mengantarkan” Group Iska ini sampai pada kondisi yang dapat kita lihat hari ini. Ada PT FPS Indonesia yang dipecah dari Internusa (2006), ada PT Iska Niaga Darma yang dijadikan holding di Iska Group, dan ada pula unit-unit bisnis lain yang bermunculan sebagai tindakan memecah resiko dari bisnis umum Iska Group. Deklarasi pemecahan pada unit-unit bisnis itu sendiri dicanangkan pada Sales Meeting Ambarawa tahun 2005. Unit-unit bisnis ini tidak saja bergerak di bisnis shipping-forwarding, tapi juga “aneka” bisnis, sebut saja :  PT Intra Asia /WQA Indonesia dan PT NQA Indonesia (certification body), PT Ultrafilter Indonesia (purification devices and parts), PT Transport Related Part / TRP (maintenance dan penyedia suku cadang alat berat), Yusuf Anwar (konsultan pajak), dan yang lainnya. Sementara di bisnis shipping-forwarding itu sendiri ada FPS Indonesia, FPS Movers, Interlogistics, Intans Segara, dan Internusa Intan Segara.

Sales Meeting, Ambarawa, 2005

Belajar Survival ala Jepang
Mencermati dinamika yang kita alami selama ini, pada setiap peristiwa hendaknya ada pelajaran yang mampu kita ambil sebagai referensi. Di samping itu, konsistensi atas nilai yang kita yakini juga perlu direalisasikan dan diaktualisasikan dalam arti seluas-luasnya baik pada lingkungan terdekat (karyawan) maupun lingkungan yang jauh (saudara yang dalam musibah) dan sebagainya. Konsistensi dan nilai (value) inilah yang oleh Bangsa Jepang dengan sungguh-sungguh ditegakkan, dan secara khusus dilakukan dalam dekade setelah kekalahannya dalam Perang Dunia II.


Joseph M. Juran, pakar quality, menulis tentang bagaimana bagian dari kebangkitan Bangsa Jepang itu berlangsung, dalam kaitan dunia bisnisnya :

“The most spectacular twentieth-century demonstration of the power of competition in quality came from the Japanese. Following World War II, Japanese companies discovered that the West was unwilling to buy their products—Japan had acquired a reputation for making and exporting shoddy goods. The inability to sell became an alarm signal and a stimulus for launching the Japanese quality revolution during the 1950s. Within a few decades, that revolution propelled Japan into a position of world leadership in quality. This quality leadership in turn enabled Japan to become an economic superpower. It was a phenomenon without precedent in industrial history.”

Ya, kita tahu bahwa Jepang adalah musuh bagi bangsa barat khususnya pada masa Perang Dunia II. Bom atom Hiroshima dan Nagashaki (1945) yang meluluhlantakkan negara itu ditambah embargo Barat tidak menjadikannya terpuruk. Namun dalam hitungan tahun (1945 – 1950), mereka bangkit lagi dan setahap demi setahap merajai, tidak lagi di perlombaan senjata tapi di dunia bisnis, sampai sekarang.

Komitmen, konsistensi dan keuletan barangkali patut digarisbawahi sehingga dinamika yang merupakan sunatullah yang kita hadapi mampu kita lewati. Dan nampaknya, harapan itu di Internusa mulai mewujud di tahun ini. Amiin …

Kegiatan dalam rangka Milad
Sebagaimana tahun-tahun yang lalu, Panitia Milad telah merencanakan serangkaian kegiatan dalam rangka peringatan ini, yaitu :  Pertandingan Catur, Tenis Meja, Billyard, Futsal, Lomba Karaoke, Kegiatan Donor Darah, dan Pengajian/Motivasi.

Semua pertandingan dan lomba dilaksanakan mulai 18 Maret 2014, sedangkan untuk Pengajian/Motivasi pada 4 April 2014 dan Donor Darah pada 5 Mei 2014.

Tidak lupa, para pemenang I, II, dan III akan diganjar dengan pemberian hadiah berupa uang tunai dan piala.


Selamat Ulang Tahun ke-23!
Dirgahayu Internusa!

Wednesday, December 18, 2013

PROSEDUR VS PROSES

Dalam ISO 9001:2008 ditegaskan di sana bahwa pendekatan yang digunakan adalah pendekatan proses (process approach) yang juga merupakan salah satu dari Prinsip Manajemen Mutu.

Ini merupakan sesuatu yang positif di mana dalam pendekatan ini "kerja nyata" (pinjam istilahnya Hatta Rajasa) sangat ditekankan daripada uprek dengan dokumentasi. Artinya, orang yang "gedebak-gedebug" bekerja, sepanjang outputnya adalah nyata/terukur sesuai objective, maka dia telah melakukan sesuatu yang "benar" meskipun barangkali dia "menyalahi" prosedur. Tinggal diakurkan saja mana yang sebaiknya, apakah prosedurnya yang direvisi mengikuti "praktek" gedebak-gedebug tadi, ataukah aktivitasnya yang diluruskan agar efektif (atau malah efisien).

Kita selama ini dirancukan dengan istilah "prosedur" dan "proses", bagaimana sebenarnya kejelasannya. PAS 99:2012 pada klausul A.2 menegaskan :


"Oftern the word "procedure" is used in MSS and there can be confusion as to what a procedure is and how it relates to a process. In simple terms :

* a process is an activity;
* a procedure is the formalization of the process (i.e. stating how the process should be performed, which may be documented)."

Terjemahan untuk yang diberi pointer kira-kira :

* proses adalah suatu aktivitas;
* prosedur adalah formalisasi dari proses-proses (misalnya ketentuan bagaimana suatu proses harus dilaksanakan, yang di antaranya mungkin wajib didokumentasikan).


Ini penting khususnya bagi Tim Audit Internal agar dalam proses auditnya beranjak dari tadinya "document-minded" menuju ke "result minded".

Salam Quality (JS)

Thursday, October 17, 2013

Kepabeanan (7)

ISTILAH KEPABEANAN (Pemberitahuan RKSP)


1.     Barang diangkut lanjut adalah barang yang diangkut dengan sarana pengangkut melalui Kantor Pabean dengan dilakukan pembongkaran terlebih dahulu.

2.     Barang diangkut terus adalah barang yang diangkut dengan sarana pengangkut melalui Kantor Pabean tanpa dilakukan pembongkaran terlebih dahulu.

3.     Barang ekspor adalah barang yang dikeluarkan dari Daerah Pabean untuk dibawa atau dikirim ke luar negeri.

4.     Barang impor adalah barang yang dimasukkan ke dalam Daerah Pabean.

5.     Jadwal Kedatangan Sarana Pengangkut adalah pemberitahuan tentang rencana kedatangan sarana pengangkut yang mempunyai jadwal kedatangan secara teratur dalam suatu periode tertentu, yang disampaikan oleh pengangkut ke suatu Kantor Pabean.

6.     Jadwal Kedatangan Sarana Pengangkut adalah pemberitahuan tentang rencana kedatangan Sarana Pengangkut yang mempunyai jadwal kedatangan secara teratur dalam suatu periode tertentu, yang disampaikan oleh pengangkut ke suatu Kantor Pabean.

7.     Kantor Pabean adalah Kantor dalam lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai tempat dipenuhinya kewajiban Pabean.

8.     Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut (Outward Manifest), untuk selanjutnya disebut Outward Manifest adalah daftar muatan barang niaga yang diangkut oleh Sarana Pengangkut melalui laut, udara, dan darat pada saat meninggalkan Kawasan Pabean.

9.     Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut (Inward Manifest), untuk selanjutnya disebut Inward Manifest adalah daftar muatan barang niaga yang diangkut oleh Sarana Pengangkut melalui laut, udara, dan darat pada saat memasuki Kawasan Pabean.

10.   Media Penyimpan Data Elektronik adalah disket atau media penyimpan data elektronik lainnya.

11.   Pengangkut adalah orang, kuasanya, atau yang bertanggung jawab atas pengoperasian sarana pengangkut yang mengangkut barang dan/atau orang.

12.   Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut adalah pemberitahuan tentang rencana kedatangan sarana pengangkut yang disampaikan oleh pengangkut ke suatu Kantor Pabean.

13.   Saat keberangkatan sarana pengangkut adalah :
a.     untuk sarana pengangkut melalui laut pada saat sarana pengangkut tersebut angkat jangkar dari perairan pelabuhan dalam Kawasan Pabean;
b.     untuk sarana pengangkut melalui udara pada saat sarana pengangkut tersebut lepas landas dari landasan bandar udara dalam Kawasan Pabean;
c.      untuk sarana pengangkut melalui darat pada saat sarana pengangkut tersebut meninggalkan Kawasan Pabean di daerah lintas batas.

14.   Saat kedatangan sarana pengangkut adalah:
a.     untuk sarana pengangkut melalui laut pada saat sarana pengangkut tersebut lego jangkar di perairan pelabuhan;
b.     untuk sarana pengangkut melalui udara pada saat sarana pengangkut tersebut mendarat di landasan bandar udara;
c.      untuk sarana pengangkut melalui darat pada saat sarana pengangkut tersebut tiba di Kawasan Pabean di daerah lintas batas.

15.   Sarana Pengangkut adalah kendaraan/angkutan melalui laut, udara, atau darat yang dipakai untuk mengangkut barang dan/atau orang.

16.   Secara manual adalah proses penyerahan data tanpa menggunakan sarana komputer.

17.   Sistem Pertukaran Data Elektronik (PDE) adalah proses pertukaran data dengan menggunakan hubungan langsung antar computer melalui sistem pertukaran data elektronik.

Sumber :

a.     108/PMK.04/2006, Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan No. 39/PMK.04/2006 tentang Tatalaksana Penyerahan Pemberitahuan Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut, Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut, dan Manifest Keberangkatan Sarana Pengangkut.
P 19 /BC/2006, Perubahan Kedua atas Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai No. P-10/BC/2006 tentang Tatacara Penyerahan dan Penatausahaan Pemberitahuan Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut, Manifest Kedatangan Sarana Pengangkut, dan Manifest Keberangkatan Sarana Pengangkut.

Kepabeanan (6)

ISTILAH KEPABEANAN (Pengangkutan Barang)



1.     Bandar Udara adalah lapangan terbang yang dipergunakan untuk mendarat dan lepas landas pesawat udara, naik turun penumpang, dan/atau bongkar muat kargo dan/atau pos, serta dilengkapi dengan fasilitas keselamatan penerbangan dan sebagai tempat perpindahan antar moda transportasi.

2.     Barang impor adalah barang yang dimasukkan ke dalam Daerah Pabean.

3.     Barang untuk diangkut lanjut adalah barang impor atau ekspor yang diangkut dengan sarana pengangkut melalui kantor pabean bea dan cukai dengan dilakukan pembongkaran lebih dahulu.

4.     Barang untuk diangkut terus adalah barang impor atau ekspor yang diangkut dengan sarana pengangkut melalui kantor pabean bea dan cukai tanpa dilakukan pembongkaran lebih dahulu.

5.     Container Scanner Inspection System adalah sistem pemeriksaan fisik barang impor dalam peti kemas dengan menggunakan alat Container Scanner.

6.     Kantor Pabean adalah kantor dalam lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai tempat dipenuhinya kewajiban pabean sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Kepabeanan.

7.     Kawasan Pabean adalah kawasan dengan batas-batas tertentu di Pelabuhan Laut, Bandar Udara, atau Tempat Lain yang ditetapkan untuk lalu lintas barang yang sepenuhnya berada di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

8.     Pelabuhan Khusus yaitu pelabuhan yang dikelola untuk kepentingan sendiri guna menunjang kegiatan tertentu.

9.     Pelabuhan Laut adalah pelabuhan dan pelabuhan khusus.

10.   Pelabuhan yaitu tempat yang terdiri dari daratan dan perairan di sekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan ekonomi yang dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar, berlabuh, naik turun penumpang dan/atau bongkar muat barang yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi.

11.   Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara (Pengusaha TPS) adalah pengusaha yang mengelola lapangan atau gudang penumpukan kontainer atau barang impor dalam suatu kawasan pabean yang berada di dalam area pelabuhan, yang memiliki ijin sebagai Pengusaha TPS dari Menteri Keuangan berdasarkan Undang-undang Kepabeanan.

12.   Pindah Lokasi Penimbunan (PLP) adalah pemindahan lokasi penimbunan barang impor yang belum diselesaikan kewajiban kepabeanannya dari suatu gudang atau lapangan penumpukan Tempat Penimbunan Sementara (TPS) tertentu ke suatu gudang atau lapangan penumpukan tertentu atau TPS lainnya yang berada dalam satu wilayah pengawasan Kantor Pabean.

13.   Shed Occupancy Ratio (SOR) atau tingkat penggunaan gudang adalah perbandingan antara jumlah penggunaan ruang penumpukan dengan ruang penumpukan yang tersedia yang dihitung dalam satuan ton / hari atau m3 / hari.

14.   Tempat Lain adalah tempat tertentu di daratan yang berada dalam kawasan/area industri dan tempat tertentu lainnya yang berfungsi sebagai pelabuhan laut, yang mendukung kegiatan impor dan/ atau ekspor.

15.   Tempat Penimbunan Sementara (TPS) adalah bangunan dan/atau lapangan atau tempat lain yang disamakan dengan itu di kawasan pabean untuk menimbun barang, sementara menunggu pemuatan atau pengeluarannya.

16.   Yard Occupancy Ratio (YOR) atau tingkat penggunaan lapangan penumpukan adalah perbandingan antara jumlah penggunaan lapangan penumpukan dengan lapangan penumpukan yang tersedia (siap operasi) yang dihitung dalam satuan ton/ hari atau m3 / hari.


Sumber :
a.     70/PMK.04/2007, Kawasan Pabean dan Tempat Penimbunan Sementara
b.     90/PMK.04/2007, Pengeluaran Barang Impor atau Barang Ekspor dari Kawasan Pabean untuk Diangkut Terus atau Diangkut Lanjut dan Pengeluaran Barang Impor dari Kawasan Pabean untuk Diangkut ke Tempat Penimbunan Sementara di Kawasan Pabean Lainnya.
c.      P-26/BC/2007, Tatalaksana Pindah Lokasi Penimbunan Barang Impor yang Belum Diselesaikan Kewajiban Kepabeanannya dari Satu Tempat Penimbunan Sementara ke Tempat Penimbunan Sementara Lainnya.




Kepabeanan (5)

ISTILAH KEPABEANAN (Registrasi Kepabeanan)



1.     Ahli Kepabeanan adalah orang yang memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang kepabeanan dan memiliki Sertifikat Ahli Kepabeanan yang dikeluarkan oleh Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, Kementerian Keuangan.

2.     Eksportir adalah orang perseorangan atau badan hukum yang melakukan kegiatan mengeluarkan barang dari daerah pabean.

3.     Importir adalah orang perseorangan atau badan hukum yang melakukan kegiatan memasukkan barang ke dalam daerah pabean.

4.     Kantor Pabean adalah kantor dalam lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai tempat dipenuhinya kewajiban pabean sesuai dengan Undang-Undang Kepabeanan.

5.     Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, yang selanjutnya disebut Kawasan Bebas, adalah suatu kawasan yang berada dalam wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terpisah dari Daerah Pabean sehingga bebas dari pengenaan bea masuk, Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan atas Barang Mewah, dan Cukai.

6.     Nomor Identitas Kepabeanan yang selanjutnya disingkat NIK adalah nomor identitas yang bersifat pribadi yang diberikan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai kepada Pengguna Jasa yang telah melakukan Registrasi Kepabeanan untuk mengakses atau berhubungan dengan sistem kepabeanan yang menggunakan teknologi informasi maupun secara manual.

7.     Pengangkut adalah orang, kuasanya, atau yang bertanggung jawab atas pengoperasian sarana pengangkut yang mengangkut barang dan/atau orang.

8.     Pengguna Jasa adalah Importir, Eksportir, Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan, Pengangkut dan pengguna jasa kepabeanan lainnya yang akan melakukan pemenuhan kewajiban pabean ke Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

9.     Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan yang selanjutnya disingkat dengan PPJK adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pengurusan pemenuhan kewajiban pabean untuk dan atas kuasa Importir atau Eksportir.

10.  Registrasi Kepabeanan adalah kegiatan pendaftaran yang dilakukan pengguna jasa kepabeanan ke Direktorat Jenderal Bea dan Cukai untuk mendapatkan nomor identitas kepabeanan.

11.  Sistem Aplikasi Registrasi Kepabeanan adalah sistem aplikasi komputer yang digunakan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai untuk pelaksanaan Registrasi Kepabeanan.

12.  Tanda Terima Permohonan Registrasi Kepabeanan yang selanjutnya disebut TTP-RK adalah tanda yang diberikan kepada pengguna jasa yang menerangkan bahwa dokumen dan/atau data pendukung registrasi telah diterima Direktur Jenderal secara lengkap dan jelas.

13.  Unit Pengawasan adalah unit kerja pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang melakukan kegiatan pengawasan baik secara fisik maupun secara administrasi.


Sumber :
a.     95/PMK.04/2011, Registrasi Kepabeanan
b.     65/PMK.04/2007, Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan (PPJK)
c.     PER-21/BC/2011, Pedoman Teknis Pelaksanaan Registrasi Kepabeanan


Kepabeanan (4)

ISTILAH KEPABEANAN (Pemberitahuan Pabean)


1.     Daerah Pabean adalah wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat, perairan dan ruang udara diatasnya, serta tempat-tempat tertentu di Zona Ekonomi Eksklusif dan landas kontinen yang didalamnya berlaku Undang-Undang Kepabeanan.              

2.     Data Elektronik adalah informasi atau rangkaian informasi yang disusun dan/atau dihimpun untuk kegunaan khusus yang diterima, direkam, dikirim, disimpan, diproses, diambil kembali, atau diproduksi secara elektronik dengan menggunakan komputer atau perangkat pengolah data elektronik, optikal atau cara lain yang sejenis.              

3.     Eksportir adalah Orang yang melakukan kegiatan mengeluarkan barang dari daerah pabean.

4.     Identitas Pemberitahuan Pabean adalah kelompok elemen data yang merupakan tanda pengenal dari Pemberitahuan Pabean.              

5.     Informasi Elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, electronic data interchange (EDI), surat elektronik (electronic mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, kode akses, simbol, atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.              

6.     Jadwal Kedatangan Sarana Pengangkut adalah pemberitahuan tentang rencana kedatangan Sarana Pengangkut yang mempunyai jadwal kedatangan secara teratur dalam suatu periode tertentu, yang disampaikan oleh pengangkut ke suatu Kantor Pabean.

7.     Kantor Pabean adalah kantor dalam lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai tempat dipenuhinya kewajiban pabean sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Kepabeanan.

8.     Kewajiban Pabean adalah semua kegiatan di bidang kepabeanan yang wajib dilakukan untuk memenuhi ketentuan dalam Undang-Undang Kepabeanan.              

9.     Kewajiban Pabean Ekspor adalah semua kegiatan di bidang kepabeanan yang wajib dilakukan untuk memenuhi ketentuan ekspor dalam Undang-Undang Kepabeanan.

10.   Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut (Outward Manifest), untuk selanjutnya disebut Outward Manifest adalah daftar muatan barang niaga yang diangkut oleh Sarana Pengangkut melalui laut, udara, dan darat pada saat meninggalkan Kawasan Pabean.

11.   Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut (Inward Manifest), untuk selanjutnya disebut Inward Manifest adalah daftar muatan barang niaga yang diangkut oleh Sarana Pengangkut melalui laut, udara, dan darat pada saat memasuki Kawasan Pabean.

12.   Pemberitahuan Pabean adalah pernyataan yang dibuat oleh orang dalam rangka melaksanakan kewajiban pabean.              

13.   Pemberitahuan Pabean Ekspor adalah pernyataan yang dibuat oleh orang dalam rangka melaksanakan Kewajiban Pabean Ekspor dalam bentuk dan syarat yang ditetapkan dalam Undang-Undang Kepabeanan.

14.   Pemberitahuan Pabean Impor adalah pernyataan yang dibuat oleh orang dalam rangka melaksanakan Kewajiban Pabean Impor dalam bentuk dan syarat yang ditetapkan dalam Undang-Undang Kepabeanan.

15.   Pemberitahuan Pabean Pengangkutan Barang adalah pernyataan yang dibuat oleh pengangkut dalam rangka melaksanakan Kewajiban Pabean dalam bentuk dan syarat yang ditetapkan dalam Undang-Undang Kepabeanan.

16.   Pengangkut adalah orang, kuasanya, atau yang bertanggung jawab atas pengoperasian Sarana Pengangkut yang mengangkut barang dan/atau orang.

17.   Pengesahan Elektronik atau Tanda Tangan Digital adalah Informasi Elektronik yang dilekatkan, terasosiasi atau terkait dengan Informasi Elektronik lainnya yang digunakan sebagai alat verifikasi dan autentikasi yang disampaikan oleh pemberitahu atau kuasanya untuk menunjukkan identitas dan status yang bersangkutan.              

18.   Pertukaran Data Elektronik Kepabeanan yang selanjutnya disebut dengan PDE Kepabeanan adalah proses penyampaian dokumen pabean dalam bentuk pertukaran data elektronik melalui komunikasi antar aplikasi dan antar organisasi yang terintegrasi dengan menggunakan perangkat sistem komunikasi data.              

19.   Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut adalah pemberitahuan tentang rencana kedatangan Sarana Pengangkut yang disampaikan oleh pengangkut ke suatu Kantor Pabean.

20.   Sarana Pengangkut adalah kendaraan/angkutan melalui laut, udara, atau darat yang dipakai untuk mengangkut barang dan/atau orang.

21.   Tempat Penimbunan Berikat adalah bangunan, tempat, atau kawasan yang memenuhi persyaratan tertentu yang digunakan untuk menimbun barang dengan tujuan tertentu dengan mendapatkan penangguhan Bea Masuk.

22.   Uang Tunai adalah uang kertas maupun uang logam, baik berupa uang rupiah maupun mata uang asing yang dikeluarkan oleh suatu otoritas tertentu yang berlaku sebagai alat pembayaran yang sah.


Sumber :

a.     155/PMK.04/2008, Pemberitahuan Pabean
b.     P- 22/BC/2009, Pemberitahuan Impor
c.      P- 23/BC/2009, Pemberitahuan Pabean dalam rangka Pemasukan Barang dari Tempat Lain dalam Daerah Pabean ke Tempat yang Berada di bawah Pengawasan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
d.     P- 41/BC/2008, Pemberitahuan Pabean Ekspor
e.   P-21/BC/2009, Pemberitahuan Pabean Pengangkutan Barang