FPS INDONESIA

Y O U R....V I S I O N....I S....O U R....M I S S I O N

Thursday, April 9, 2015

TRANSPORT INDUSTRY FACES BIG CONCENTRATION OF CLAIM CAUSES

March 25, 2015
The TT Club is alerting the supply chain industry globally to the stark fact that there is a persistence of claims in a handful of loss types. As a leading international transport, freight and logistics insurance provider, we have found that 66% of claims by number and 62% by value over a five year period can be categorized into just five causes.

 The analysis, which was conducted on 7,000 insurance claims each costing more than US$10,000 recorded between 2010 and 2014, totalling US$425 million, revealed that the same five generic causes identified in its previous five year analysis continue to disrupt and cost dearly. We particularly draw attention to the continuing concentration of these causes, rather than the ordering of each individual cause since these proportions can be volatile, especially in terms of headline claim value.

Risk management and loss prevention initiatives really can be effective in reducing not only losses, but also the largely hidden costs of disruption that ensues. There are many prevention strategies and actions that can be put in place to reduce costs and occurrence of claims, and these should be of paramount importance for the transport industry.

It is notable that traffic accidents and collisions are significant through the transport industry, firstly outside the port/terminal area, where the cost is US$68 million, but also similar incidents within the port/terminal operations, accounting for a further US$57 million in the statistics. Thus, the entire industry – represented by freight forwarders, logistics operators, container shipping lines, and ports and terminals – are exposed. The detailed causes may be varied, but it is striking that these broad causes dominate. The biggest issues for collisions within cargo handling operations continue to be quay crane boom to ship collisions and overall stack collisions. In these instances, emerging technologies can almost eliminate the risks, particularly where combined with automation.

Many traffic incidents and collisions are due to inappropriate speed, but detailed case review frequently demonstrates the impact that effective management culture can have on preventing losses. For example, technology solutions, such as the use of GPS tracking or anti-collision sensors, can only be effective when regularly enforced and integrated into staff management.

The remainder of the top five causes reflect the old chestnuts of theft, fire and cargo packing, which we have repeatedly highlighted. Theft accounts for US$54 million, where the most vulnerable part of the supply chain, unsurprisingly, is while cargo is in transit, although standard site security measures continue to prove critical to reduce theft. A clear emerging risk is cybercrime as increasingly internet capabilities are used to identify, track and intercept cargo.

Fire is the fourth-most costly area, currently accounting for US$44 million, although this is a most volatile cost area, as evidenced by the disparity in proportion between the number and value of claims. By its nature fire can be devastating and threaten the very survival of a business. Its volatility in impact in the supply chain, however, relates to the fact that both on board ships and in warehouses there is concentration of value. In both these scenarios the impact of cargo mis-declaration is a real and continuing concern, although a significant number of fires can be traced to design or maintenance issues. Building fires are mostly caused by electrical faults and mobile equipment fires by hydraulic faults.

Related to some fires, and currently subject of much international focus, was the issue of cargo packing, amounting to US$41 million in the analysis. Sixty-five percent of cargo damage incidents can be attributed in part to poor or incorrect packing. The importance of the industry developing good practice guidance, such as the CTU Code, cannot be under-estimated; the challenge for the supply chain industry is to raise its game in terms of its understanding of good practice and awareness of global requirements.

Conducting a thorough claim analysis is an essential part of our risk management strategy. Advising our members on incident prevention strategies and actions that can be put in place to reduce costs and occurrence is of paramount importance.

By Peregrine Storrs-Fox
Risk Management Director, TT Club | London

Source :  http://www.asiacargonews.com/en/news/detail?id=152



Wednesday, March 25, 2015

PERAYAAN ULANG TAHUN, REFLEKSI SEBUAH PERJALANAN

Pada setiap perayaan ulang tahun, kita selalu mencoba melakukan perenungan (contemplation) sekaligus penyadaran (awareness) bahwa adanya saat ini karena adanya masa lalu, adanya keberhasilan (sekecil apapun itu) karena adanya perjuangan yang mendahuluinya. Refleksi dari kedua hal tersebut mewujud dalam bentuk rasa syukur sekaligus evaluasi dan mawas diri apakah kita sudah berhasil dalam arti yang sesungguhnya :  perwujudan “rasa berhasil” baik secara individu orang-perorang, menyeluruh, dan kolektif. Jika ya, keberhasilan itu mendekati arti yang sesungguhnya, tapi jika tidak maka perlu kearifan untuk menterjemahkannya. Tentu saja hal itu harus dikontekskan pula dengan dinamika yang ada.


Dalam konteks evaluasi keberhasilan, pembandingan adalah hal yang biasanya kita lakukan semisal membandingkan dua gedung di atas. Gambar kiri adalah Gedung Internusa yang diambil pada tahun 2005, beralamat di Jl. RE Martadinata No. 12PQ, Ancol, Jakarta Utara. Sedangkan yang sebelah kanan adalah Gedung Graha Iska 165 saat ini. Saya yakin bahwa sebagian besar dari kita tidak tahu bahkan mungkin tidak pernah menginjakkan kakinya di gedung Ancol sana. Meskipun sekarang bukan lagi milik Internusa, tapi itulah rekaman sejarah Internusa sampai dengan saat ini.

Saat di kantor Ancol dulu, hanya ada dua business unit di sana :  PT Internusa Intan Segara dan PT Internusa Hasta Buana. PT Internusa Intan Segara yang dulu fokus bisnisnya lebih kepada NVOCC dan shpping agency (bandingkan dengan PT Intan Segara sekarang yang juga bergerak di freight forwarder). Sedangkan PT Internusa Hasta Buana (Internusa) meliputi seluruh bisnis freight forwarder secara utuh di luar shipping agency. Baru pada tahun 2006 dipecahlah unit sea freight-nya menjadi PT FPS Indonesia mengikuti tuntutan FPS Group Network yang berlaku global dengan mengusung brand FPS atau Famous Pacific Shipping. Pemecahan unit bisnis ini adalah langkah awal dari hasil evaluasi dan perencanaan jangka panjang oleh manajemen yang puncaknya dipresentasikan di Ambarawa 2005.

Di Gedung Graha Iska 165 saat ini berkumpul lebih dari 10 business unit dan beberapa yayasan termasuk beberapa yang tergolong baru. Romantisme dari hanya beberapa hingga belasan karyawan saat di kantor Ancol serasa menyeruak saat perayaan ulang tahun Internusa ke-24 ini. Kini, selain kita berada di “keluarga” masing-masing dengan mungkin hanya beberapa atau belasan karyawan, kita juga punya keluarga besar bernama Iska Niaga Darma Group.

Value Awareness
Tentunya, saat perayaan ulang tahun semacam ini ada pesan yang ingin disampaikan kepada keluarga besar Iska Niaga Darma yang berupa nilai (values). Termasuk ke dalam nilai ini adalah keuletan, kesungguhan, konsistensi, kerja keras dan do’a. Nilai-nilai ini barangkali yang membedakan antara group perusahaan di bawah Iska Niaga Darma dengan perusahaan di luar.


Lebih jauh, fakta yang ada telah membuktikan bahwa dengan keyakinan atas nilai-nilai tersebut pembagian resiko (risk share/split) telah mewujud dalam bentuk pemecahan unit-unit usaha, diversifikasi usaha serta bertambahnya karyawan. Internusa dipecah menjadi FPS Indonesia dan Interlogistics, FPS Indonesia membentuk FPS Movers, dan seterusnya.

Contoh lain adalah pemecahan segmentasi oleh unit bisnis sertifikasi yang tindakan riilnya adalah pendirian unit usaha baru yang dilakukan oleh WQA. Awalnya, hanya WQA saja yang berdiri pada tahun 2004, menyusul kemudian NQA pada 2009 yang antara lain ditunjukkan untuk meredam kompetisi sengit yang terjadi di pasar bisnis sertifikasi itu.


Business Continuity dan Business Sustainability
Pemecahan unit-unit dan juga diversivikasi usaha antara lain ditujukan agar secara group bisnis berjalan sustained (berkesinambungan). Namun demikian, dalam prakteknya hal ini tidak selalu berjalan mulus. Contohnya antara lain adalah bahwa di lingkungan Iska pernah berdiri PBM (perusahaan bongkar muat) yang sekarang sudah tidak aktif lagi. PBM itu bernama PT Internusa Mitra Sedaya, beroperasi di sekitar tahun 2008 - 2010. Sementara itu unit dan bisnis usaha yang lainnya masih mencoba untuk survive dan benar-benar existed.

Selain melakukan renungan perjalanan, perayaan ulang tahun di tahun ini juga dibarengi dengan suasana berkumpul bersama terutama dengan kedatangan Team WQA yang untuk sementara berkantor di lantai 5 Graha Iska imbas dari kebakaran yang terjadi pada 9 Maret 2015 yang menimpa Wisma Kosgoro tempat WQA berkantor. Rasa syukur disertai takbir, tahmid dan tasbih terus diulang karena adanya “mukjizat” yang dialami Team WQA.

“Berkat rakhmat dan izin Allah semata, kantor WQA di Wisma Kosgoro lantai 18 terbebas dari amukan api yang berlangsung lebih dari 12 jam. Ini sungguh suatu “mukjizat”. Allahu Akbar!”, ucap Pak Iskandar setengah berteriak saat memberikan sambutan di acara perayaan ulang tahun siang itu.

WQA yang mensertifikasi institusi publik dengan Sistem Manajemen Kelangsungan Bisnis (Business Continuity Management Systems, ISO 22301) merasakan sendiri betapa bencana yang menimpa tidak harus menjadikan bisnis juga berhenti. Selang sehari setelah kejadian, tim sudah berkantor normal di lantai 5 Graha Iska. Inisiatif dari tim juga tergolong luar biasa dengan menyelamatkan server yang berisi data dan clients property pada saat kebakaran mulai menghanguskan gedung. Meski barangkali termasuk “kebetulan”, pengelolaan operasional perusahaan yang kembali normal dalam hitungan 1-2 hari termasuk yang patut disyukuri dan dapat diambil hikmah di dalamnya.

Business continuity (keberlangsungan bisnis) dan business sustainability (kesinambungan bisnis) keduanya merupakan bagian dari lingkup manajemen resiko yang jika tidak terkelola dapat memberikan dampak merugikan termasuk yang mungkin bisa dialami oleh para pelanggannya sebagai imbas.



Pengenalan Unit Bisnis Baru
Saat memberikan sambutan, unit-unit bisnis baru beserta timnya diperkenalkan di hadapan karyawan dan undangan. Unit-unit bisnis itu adalah :
-  PT Pandi Protection Marine, bergerak di bidang asuransi kapal (hull marine)
-  PT Atria Technology Indonesia, bergerak di bidang teknologi informasi berbasis “cloud”.
-  Amanah Mikro Muamalat Indonesia, bergerak di bidang pengelolaan dana ZIS.

Di tengah acara juga dilangsungkan penandatanganan akta pendirian PT Sarana Harapan Mulia, unit bisnis baru yang nantinya bergerak di bidang pembangunan perumahan.

Aktivitas Ulang Tahun
Aktivitas dalam rangkaian peringatan ulang tahun Internusa sebagaimana tahun-tahun yang lalu juga diramaikan dengan beberapa pertandingan dan perlombaan, yaitu bilyar, catur, tenis meja, futsal dan karaoke. Pertandingan/perlombaan akan berlangsung mulai dari jam 16.00 atau selepas jam kerja kantor sampai selesai dan diperkirakan memakan waktu sekitar satu minggu ke depan.

Selain untuk tujuan kebersamaan, panitia biasanya menyediakan hadiah bagi peserta yang meraih juara 1, 2 dan 3 yang diumumkan pada kesempatan acara yang akan diadakan kemudian.


Dirgahayu Internusa,
Selamat Ulang Tahun / Milad yang ke-24!



(Jaeroni Setyadhi)

MENGURANGI RESIKO PENGIRIMAN UDARA

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pengiriman cargo lewat udara (airfreight) lebih beresiko ketimbang via laut (seafreight). Resiko dimaksud pada umumnya adalah terkait dengan masalah tagihan yang tidak saja menunggak lama (long overdue) tapi juga tagihan yang bahkan tidak dibayar/diundur pembayarannya oleh shipper lantaran berbagai sebab. Meskipun hal ini kelihatannya “jamak” di dunia freight forwarder, tapi nyatanya hal ini sangat mengganggu “cash flow” di sisi keuangan. Kejamakan yang dimaksudkan dalam bisnis freight forwarder adalah bahwa ciri khas sebuah freight forwarder adalah memberikan fasilitas tempo pembayaran (credit term). Padahal, setiap pengiriman udara pembayaran kepada penerbangan haruslah tunai (cash against documents).

Identifikasi Resiko
Dari sisi teknis pelaksanaan pengiriman terdapat beberapa pihak yang terkait dalam suatu “rantai” yang memungkinkan suatu resiko bisa dialihkan. Selain maskapai penerbangan (airline), terdapat cargo agent yang biasanya adalah freight forwarder serta “sub-agent” yang biasanya juga sebuah freight forwarder. Agent dan sub-agent ini, yang adalah forwarder, biasanya memberikan fasilitas tempo pembayaran dengan harga sedikit di atas dibanding ke penerbangan langsung.

Di sisi pengirim barang, selain pengirim sesungguhnya (ultimate shipper) terdapat juga forwarder lain yang mengirim lewat kita. Mengapa sesama forwarder kok saling meng-coload? Di sinilah, langkah pengidentifikasian resiko itu berlangsung. Wujudnya adalah bahwa si shipper mencari coloader yang memiliki overseas network agent yang baik yang memungkinkan kendali tetap di tangan, semacam meng-hold cargo sampai pembayaran lunas oleh shipper dan sebagainya.

Secara umum, kenapa pengiriman udara beresiko, antara lain adalah karena hal-hal berikut :
a.      waktu tempuh pengiriman udara relative cepat (dalam hitungan jam biasanya).
b.     pembayaran ke vendor sesuai praktek adalah cash, sedangkan tagihan ke shipper biasanya tempo.
c.      release barang di tujuan, sesuai sifat modanya, adalah cepat.
d.     dokumentasi pengiriman memungkinkan barang dirilis tanpa perlu original dokumen.
e.  dengan waktu tempuh yang cepat pemenuhan persyaratan (requirement) baik terhadap barang (packing dsb.) maupun regulasi (perijinan dsb.) harus terpenuhi dan akurat sebelum barang berangkat.

Knowing Your Customer
Dalam rangka berjaga-jaga terhadap resiko buruk atas pengiriman barang penyampaian “pepeling” tersebut selalu saja actual. Teringat pemberitaan media tentang “pemenang tender UPS Pemda DKI” ternyata adalah sebuah gudang atau tempat service kulkas dan sebagainya, mestinya dapat dijadikan pelajaran dan analogi bahwa kitapun suatu saat dapat “dikadali” manakala kita menerima order. Berkunjung adalah cara yang paling pas untuk tidak saja berkenalan langsung dengan shipper tapi juga mengobservasi apakah calon customer ini pantas untuk dilayani. Dalam pemahaman perbankan malah ada istilah 5C (singkatan dari character, capacity, collateral, capital dan condition), sebagai sebuah prasyarat sebelum kredit diberikan.

Straight Document, ciri Dokumentasi Airfreight
Menahan (hold) dokumen biasanya cara ampuh agar permasalahan dengan shipper, semisal pembayaran, dapat terselesaikan. Tapi apakah mungkin dengan karakter pengiriman sebagaimana disebutkan di atas? Di atas sekilas dijelaskan bahwa selain ke penerbangan langsung, kita juga bisa bermitra dengan co-loader yang memiliki overseas network yang bagus. Dan, jangan lupa syarat yang kedua adalah bahwa mereka menerbitkan House Air Waybill (HAWB) yang nanti dipakai sebagai “filter” manakala kita harus menginstruksikan untuk meng-hold cargo.

Catatan :  meng-hold cargo ini sebenarnya tindakan tidak fair karena jika di HAWB tertulis “freight prepaid”, maka asumsinya adalah bahwa freight sudah dibayar lunas. Cara lain yang memungkinkan untuk dicantumkan dalam HAWB adalah “freight prepaid as arranged”, meskipun ini menyiratkan sesuatu yang ambigu.

Pemahaman tentang “straight documents” adalah kebalikan dari “to order documents”. Pada straight documents, penerima barang di tujuan adalah yang nyata-nyata tertulis di kolom consignee dalam Airwaybill. Sebaliknya, pada “to order documents”, siapapun yang “memiliki order” atau “berkepentingan atas order” bisa melakukan kewenangannya atas barang dan/atau dokumen.

Lantas apa kaitannya dengan pengurangan resiko atas pengiriman?

Direct Master Air Waybill
Berikut dicontohkan Air Waybill yang diterbitkan oleh airline (Eva Air) atas pengiriman suku cadang pesawat dari PT Worthmore Estelia Int’l, Jakarta ke penerima Unical Aviation, California yang dilaksanakan oleh kita (Internusa, 28 Maret 2014). AWB diterbitkan langsung penerbangan, dan oleh karenanya biasa disebut “direct master AWB”.


Pengiriman yang dicover dengan AWB di atas akan otomatis direlease langsung kepada penerima (consignee) yang tertulis di sana tanpa harus menunjukkan yang asli (original documents). Barang bisa direlease tanpa original documents, tanpa kompromi!

House Air Waybill (HAWB)
Coba bandingkan dengan coverage pengiriman yang menggunakan HAWB di bawah ini!

Pada saat pesawat berangkat, maka HAWB diterbitkan untuk shipper yang nantinya dikirim ke penerima (consignee) di tujuan untuk release barang. Pada saat yang sama, kita menerima MAWB dari penerbangan yang nantinya bersamaan dengan HAWB dikirim ke Agent di tujuan untuk keperluan dekonsolidasi (unstuffing) dan release barang. Dengan MAWB di tangan, maka kita “berkuasa” atas barang, atau dengan kata lain transfer tanggung jawab/kepemilikan barang “masih” ada pada kita.

Saat ada masalah, kita tinggal menginstruksikan Agent di tujuan untuk meng-hold barang sebagaimana disebut di atas.


Jadi, dari sisi dokumentasi ada 2 cara agar kita tetap pada posisi mengendalikan pengiriman sehingga resiko dapat dikurangi yaitu :
1.  Menerbitkan HAWB, dengan catatan kita punya Agent untuk destinasi yang dituju, dan
2.  Melakukan co-load dengan forwarder yang overseas agent-nya bagus, dan mintakan HAWB kepadanya.

Dalam kaitan inilah, apa yang diistilahkan bahwa kita bertindak sebagai “Principal” atas shipment tersebut, dan penerbitan HAWB (seperti halnya penerbitan HB/L) inilah yang merupakan ciri khas freight forwarder jika dibandingkan dengan Carrier (penerbangan atau pelayaran). Ada ruang antara dokumen HAWB/HBL dengan MAWB/MBL di mana bisnis freight forwarding ini senantiasa dibutuhkan oleh dunia usaha di dalamnya.

Manajemen Resiko
Mengacu pada kebijakan kepabeanan belasan tahun yang lalu yang sudah menerapkan manajemen resiko dengan cara menerapkan kebijakan penjaluran (terdiri dari jalur MITA-pri, MITA-nonpri, merah, kuning dan hijau), kita semestinya juga sudah mulai mengadopsi manajemen resiko ini. Sejalan dengan seabreg permasalahan, resiko yang dihadapi sebuah freight forwarder tidak kalah banyaknya. Mulai dari SDM, operasional, kompetisi, business fraud, dan seabreg hal lainnya. Mengelola resiko sama saja dengan berjaga-jaga agar kejadian buruk tidak menimpa atau setidak-tidaknya dapat diminimalisir sehingga ada pada tingkat yang di dalamnya telah ada “upaya” untuk mencegahnya.

Berkaitan dengan manajemen resiko ini, ISO (organisasi standarisasi internasional) pada tahun ini menerbitkan Standar ISO 9001 versi tahun 2015 (ISO 9001:2015) yang memasukkan pengidentifikasian aspek resiko yang harus dipenuhi oleh perusahaan yang disertifikasi standar ini. Sebuah informasi yang bukanlah suatu kebetulan bahwa resiko-resiko yang ada harus diidentifikasi, disadari, dikelola, dan dihitung untung ruginya. Apalagi FIATA (federasi forwarder dunia) dan ALFI (asosiasi logistic forwarder indonesia) juga telah lama merekomendasikan agar setiap membernya disertifikasi ISO 9001 ini.

Semoga dapat dijadikan wawasan dan bahan pembelajaran sekaligus sebagai bahan koreksi dan tindakan pencegahan dari beberapa kasus yang secara riil kita hadapi yang diharapkan di kemudian hari tidak lagi terjadi.



Jakarta, 11 Maret 2015
Jaeroni Setyadhi

Tuesday, March 3, 2015

MEA : Kerjasama Dalam Persaingan

(Seminar Nasional Peluang dan Tantangan Indonesia dalam MEA, 30 Januari 2015 di Jakarta)


Jakarta. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mulai berlaku 31 Desember 2015, artinya efektif berlaku sejak tahun 2016. Sekarang ini, kita tengah melakukan persiapan yang akan dilakukan pada akhir tahun ini atau awal tahun depan. MEA itu sebenarnya suatu komunitas yang ingin bekerjasama dengan dasar awal perdagangan bebas. “Apa yang bebas? Yang bebas itu flow barang, orang dan jasa sehingga tidak ada halangan atau borderless,” ucap Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla pada pembukaan Seminar Nasional Peluang dan Tantangan Indonesia dalam MEA di Hotel Borobudur, Jumat 30 Januari 2015.

Lebih jauh Wapres menjelaskan jika melihat dari sisi perdagangan, MEA adalah cooperative in competition atau kerjasama dalam persaingan. Itu prinsip berjalan di ASEAN tahun depan. “Karena tidak mungkin kita tidak bekerjasama, tetapi juga harus bersaing,” ucap Wapres.

Walaupun sebenarnya, kerjasama di antara negara-negara ASEAN bukanlah sesuatu yang baru, karena telah banyak kerjasama bilateral antar negara, seperti antara Indonesia dan Thailand. “Mobil yang dirakit di Indonesia dan Thailand menjadi mobil bersama dan bebas bea masuk dalam hal indsutri. Jadi itu kerjasama bilateral,” ujar Wapres.

Dengan dimulainya era MEA maka setiap persaingan yang berdasarkan kerjasama adalah complementary atau saling melengkapi. Sementara dasar pesaingan adalah bersaing yang lebih baik, mudah dan cepat. Hal seperti ini berlaku pada semua bidang, baik industri, sumber daya manusia dan jasa.

Latar Belakang


Di awal sambutannya, Wapres menjelaskan bahwa jika kita berbicara MEA maka kita harus melihat latar belakang bagaimana sebuah kerjasama di suatu kawasan terbentuk. Setelah Perang Dunia (PD) II, terjadi sebuah perubahan yang lebih dikenal dengan sebutan perang dingin. “Tidak perang tapi berseteru,” ucap Wapres.

Saat itu, timbul dua blok, yakni blok timur dan blok barat, yang melahirkan North Atlantic Treaty Organization (NATO) yang beranggotakan negara-negara Eropa barat dan Amerika Serikat serta Pakta Warsawa sebagai sebuah aliansi militer negara-negara Blok Timur di Eropa Timur. “Jadi pakta itu berdasarkan pakta ideologis dan pakta keamanan, selalu masih ada kemungkinan perang,” kata Wapres.

Di antara waktu itu, kata Wapres, kita menghargai Bung karno karena mendirikan Gerakan Non Blok (GNB) bersama pemimpin negara lain, seperti Perdana Menteri (PM) India Jawaharlal Nehru dan Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser. GNB adalah suatu organisasi internasional yang beranggotakan 100 negara yang bukan negara pengikut blok timur dan juga bukan blok barat, bukan pula anggota NATO atau Pakta Warsawa, bukan komunis dan bukan juga kapitalis.

Usai perang dingin pada tahun 1970-an, timbul ideologi neoliberalism, yang intinya adalah perdagangan yang bebas, yang disebabkan oleh teknologi yang semakin berkembang di awal tahun 1970-an. Kemudian, perdagangan yang baik itu menyebabkan kemajuan di bidang industry dan bidang ekonomi lainnya. Ideologi inilah yang mendorong kerjasama antar negara menjadi kerjasama regional, seperti lahirnya North America Free Trade Area, Union of South American Nations, ASEAN, dan ada pula kerjasama antara negara di kawasan Asia Selatan, serta negara-negara di kawasan Afrika Utara. “Intinya adalah kerjasama di bidang ekonomi dan perdagangan yang lebih dekat karena memberikan efisiensi kepada masing-masing ekonomi negara,” ucap Wapres.

Kerjasama ini terus berkembang, walau masih terbatas dalam hubungan komunitas. Dimulai dari berlakukannya perjalanan lintas negara tanpa visa dan bea cukai nol, tujuannya adalah agar menjadi suatu perdagangan yang lancar. “Tahun berikutnya di Eropa, pertengahan tahun 1990-an, mulailah setelah direncanakan hampir 15 tahun, mulailah muncul mata uang tunggal dan European Community menjadi European Union,” kata Wapres.

Saat itu, Eropa menjadi satu ekonomi, satu mata uang dan satu sistem ekonomi. Tetapi, apakah pengalaman mereka sepenuhnya menuai keberhasilan atau tidak, kita harus melihat apa yang terjadi pada periode itu.

Sementara itu, pada tahun 1992 di ASEAN ditandatangani kesepakatan menuju ASEAN Community. Kesepakatan ini dipersiapkan setelah di ASEAN dilakukan kerjasama yang longgar di berbagai bidang, baik ekonomi, budaya, perhubungan, perdagangan, kesehatan. “Tujuannya menjamin kerjsama itu sehingga menimbulkan pula kedamaian di wilayah ASEAN, sehingga timbullah kekuatan-kekuatan,” kata Wapres.

Pergerakan Manusia dan Investasi


Tahun 2015 adalah tahun yang disepakati pada tahun 1992 dimulainya ASEAN Community, yang sebenarnya memiliki cita2 menjadi semacam European Union (Uni Eropa). “Apakah satu sistem? Tentu tidaklah mudah kita jalankan seperti itu. Setelah belajar dari pengalaman Eropa tidaklah mungkin,karena Uni Eropa tidaklah mudah,” ujar Wapres.

Melihat perkembangan yang terjadi di dataran Eropa, suatu sistem keuangan atau satu sistem teknis bukan hal yang mudah, karena seringkali terjadi tarik-mernarik. “Karena akibat krisis di yunani, Portugal, Italia, Spanyol mendorong mata uang Euro melemah, sehingga akibatnya seluruh Eropa terkena dampak krisis,” kata Wapres.

Maka dua negara yang memilih bertahan untuk tidak menggunakan mata uang Euro, yakni Inggris yang tetap bertahan dengan mata uang Poundsterling dan Denmark dengan mata uang Daish Krone, berkesimpulan bahwa Euro tidak tepat untuk mempersatukan ekonomi Eropa. “Sehingga banyak masalah-masalah yang timbul,” ucap Wapres.

Banyak yang khawatir jika MEA mulai berjalan maka akan terjadi pergerakan orang besar-besaran ke Indonesia. Dalam hal ini, Wapres memiliki pendapat yang berbeda. Dalam sejarahnya, kata Wapres, di Eropa setelah terbentuknya European Community, pergerakan orang yang terjadi dari Polandia, Ceko, Hongaria dan Yunani ke negara-negara maju seperti Perancis dan Inggris. Tetapi, sebaliknya para pengusaha dari negara maju, seperti Jerman dan Perancis dengan mudahnya berinvestasi di Hongaria, Ceko, Yunani, dan negara lainnya. “Artinya dalam perdagangan, pergerakan orang untuk bekerja selalu bergerak dari pendapatan rendah ke pendapatan tinggi.  Tidak ada pergerakan dari tinggi ke rendah,” ucap Wapres.

Melihat kondisi seperti itu di Eropa, maka di ASEAN akan banyak tenaga kerja Indonesia, baik yang trampil dan tidak trampil mencari tempat yang lebih tinggi pendapatannya, seperti bekerja di Singapura dan Malaysia. “Tidak mau dokter dari Singapura yang bertarif Rp. 3-4 juta bekerja di Indoensia, sementara dokter di kita tarifnya hanya Rp. 300-400 ribu,” kata Wapres.

Wapres memperkirakan tenaga kerja Indonesia akan banyak bekerja hanya di dua negara itu, Singapura dan Malaysia. “Karena hanya dua negara itu yang bisa dimengerti bahasanya oleh kita,” ujar Wapres.

Bagi Wapres, Filipina memiliki kondisi ekonomi yang tidak jauh berbeda dengan Indonesia sehingga tidak akan terjadi pergerakan dari Indonesia ke Filipina dan sebaliknya. “Tidak ada orang Indonesia yang kerja di Kamboja, Vietnam, Thailand,” ucap Wapres.

Jadi, ucap Wapres, tidak perlu takut akan terjadi pergerakan orang dari ASEAN ke Indonesia, justru akan banyak pergerakan dari Indonesia ke negara-negara ASEAN. “Di Malaysia, mungkin jumlah tenaga kerja Indonesia maenjadi 2 juta, karena tidak perlu visa dan ada kemudahan lainnya,” kata Wapres.

Di Indonesia sendiri, dijelaskan Wapres, Menteri Tenaga Kerja tengah membuat aturan menyambut MEA, seperti semua tenaga kerja harus bisa berbicara bahasa Indonesia.

Wapres mengingatkan jika kita ingin memperbaiki neraca perdagangan di ASEAN, yang kita butuhkan adalah produktivitas. Produktivitas tentu dasarnya teknologi, orang (sumber daya manusia, kemudian infrastruktur. Oleh karena itulah konsep indsutri harus diimbangi dengan konsep dasar penopang industri. “Kita membutuhkan teknologi dan inftrastruktur,” kata Wapres.

Dengan diberlakukannya MEA, makla di antara negara-negara ASEAN akan saling melengkapi dan juga saling bersaing. Kerjasama yang dijalankan dan dapat menjadi contoh adalah industry mobil. “Apapun, salah satu prinsip efisiensi adalah produksi dalam volume besar. Misalnya, besi dari Indonesia, body di Thailand  dan menghasilkan volume besar. Jadi persaingan bukan antar ASEAN tapi di luar ASEAN. Begitu juga yang lainnya,” ucap Wapres.

Mengenai investasi yang terjadi saat diberlakukannya MEA, Wapres memperkirakan semua pihak yang berinvestasi pasti mencari pasar. Pasar di ASEAN menjadi 550 jutaorang atau hampir 600 juta orang, dan hampir 50 persen ada di indoensia. “Artinya investasi yang berada di Indonesia akan memberikan dampak yang baik di pasar ASEAN,” ucap Wapres.

Di akhir sambutannya, Wapres menjelaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai program menyambut MEA, di antaranya adalah memperbaiki infrastruktur untuk memudahkan industri; memperkuat ketahanan pangan sehingga tidak perlu lagi mengimpor bahan-bahan pokok seperti padi dan jagung; serta meningkatkan industri manufaktur, karena industri manufaktur adalah industri yang dapat meningkatkan penghasilan dan juga membuka lapangan pekerjaan.

Turut hadir mendampingi Wapres, Menteri Keuangan Bambang Brojonegoro, Sekretaris Wakil Presiden Mohamad Oemar, Deputi Seswapres bidang Kesejahteraan Rakyat dan Penanggulangan Kemiskinan Bambang Widianto, serta Ketua Ikatan Alumni Universitas Airlangga Theo Lekatompessy.

*** DARTO ***

Thursday, February 26, 2015

DIS Approved and Progresses to FDIS. ISO 9001:2015 Development Process Remains on Time

The buzz about voting on the ISO 9001:2015 has been all over the internet recently. There has been an unbelievable amount of dissent in the discussions from the American camp. Does nobody out there except my colleagues and I think this is a great evolution of the standard? Everybody seems to be moaning about it. They don’t like “risk” – it’s not defined enough. Requirements are thin. There is no management rep. They don’t like the change in terminology. They don’t like “strategic” stuff. Often they don’t explain, they just whine! Very little of the discussion is positive or even hopeful. You don’t have to look far.
So with the doom and gloom group leading the way, we went into the vote. The vote from the US TAG group was to vote to disapprove the DIS standard. They didn’t like “risk”, they didn’t like……you get the idea. The detail is not officially available yet but again, you don’t have to look far. The US TAG voted among them to disapprove. They wanted to stop this DIS and cause a rewrite which would probably create a 6-9 month delay in the process – delaying ISO 9001:2015 well into 2016. Why?
The vote among the US group was about 100+ votes against, and 0 for, and about 40-50 non-abstaining missed votes. They REALLY wanted to kill this standard. Does this make sense to anybody else? How does an unbiased vote get 100% of the vote? This group includes the “experts” and professionals and other interested parties. Who influenced them to all vote one way? Perhaps we should just assume for the moment that they were all-in with the negative comments.
Then we hear tentative information about the international vote. The DIS passed the international vote with a 90% vote in favor. It was “pointed out” that those that disapproved are mostly involved in the working groups (who work on the wording etc.). I read this to mean that generally the world thinks it’s a pretty good standard. I can’t wait to hear why the US “experts” think the rest of the world is wrong.
And so the development of basically a good new standard moves forward, on time. In this camp, we are looking forward to the FDIS in early/mid 2015.
Source :  http://www.cavendishscott.com/articles-news/dis-approved-and-progresses-to-fdis-iso-90012015-development-process-remains-on-time/

Tuesday, March 18, 2014

Mewujudkan Harapan dalam Kebersamaan

(Refleksi Jelang Usia Seperempat Abad)

Hari ini, tanggal 18 Maret merupakan hari istimewa bagi keluarga Iska Niaga Darma Group, karena tepat di hari ini 23 tahun yang lalu merupakan hari jadi PT Internusa Hasta Buana atau yang kita kenal sebagai Internusa. Dalam usia yang hampir seperempat abad ini, tentu saja, berbagai dinamika telah dilaluinya. Ada suka, ada duka; ada senang dan juga tidak sedikit kesulitan yang dihadapi. Sesuai filosofi yang diyakininya, di Internusa kita berpandangan bahwa kesabaran hendaknya menjadi pegangan saat kita berada dan mengalami kesulitan, dan sebaliknya, tidak lupa diri saat berkeleluasaan dan dikaruniai rezki yang berlebih. Untuk itulah, tema “kebersamaan” kembali dimunculkan pada peringatan milad/ulang tahun sebagaimana judul tulisan ini, sekaligus sebagai bahan refleksi semoga “kebersamaan” ini mampu pula diejawantahkan saat kita kembali berjaya esok hari.

Mengapa Internusa?
Pertanyaan yang barangkali muncul adalah “mengapa manajemen demikian respek terhadap milad Internusa”? Jawabannya kurang lebih adalah karena Internusa-lah yang “mengantarkan” Group Iska ini sampai pada kondisi yang dapat kita lihat hari ini. Ada PT FPS Indonesia yang dipecah dari Internusa (2006), ada PT Iska Niaga Darma yang dijadikan holding di Iska Group, dan ada pula unit-unit bisnis lain yang bermunculan sebagai tindakan memecah resiko dari bisnis umum Iska Group. Deklarasi pemecahan pada unit-unit bisnis itu sendiri dicanangkan pada Sales Meeting Ambarawa tahun 2005. Unit-unit bisnis ini tidak saja bergerak di bisnis shipping-forwarding, tapi juga “aneka” bisnis, sebut saja :  PT Intra Asia /WQA Indonesia dan PT NQA Indonesia (certification body), PT Ultrafilter Indonesia (purification devices and parts), PT Transport Related Part / TRP (maintenance dan penyedia suku cadang alat berat), Yusuf Anwar (konsultan pajak), dan yang lainnya. Sementara di bisnis shipping-forwarding itu sendiri ada FPS Indonesia, FPS Movers, Interlogistics, Intans Segara, dan Internusa Intan Segara.

Sales Meeting, Ambarawa, 2005
Belajar Survival ala Jepang
Mencermati dinamika yang kita alami selama ini, pada setiap peristiwa hendaknya ada pelajaran yang mampu kita ambil sebagai referensi. Di samping itu, konsistensi atas nilai yang kita yakini juga perlu direalisasikan dan diaktualisasikan dalam arti seluas-luasnya baik pada lingkungan terdekat (karyawan) maupun lingkungan yang jauh (saudara yang dalam musibah) dan sebagainya. Konsistensi dan nilai (value) inilah yang oleh Bangsa Jepang dengan sungguh-sungguh ditegakkan, dan secara khusus dilakukan dalam dekade setelah kekalahannya dalam Perang Dunia II.


Joseph M. Juran, pakar quality, menulis tentang bagaimana bagian dari kebangkitan Bangsa Jepang itu berlangsung, dalam kaitan dunia bisnisnya:

“The most spectacular twentieth-century demonstration of the power of competition in quality came from the Japanese. Following World War II, Japanese companies discovered that the West was unwilling to buy their products—Japan had acquired a reputation for making and exporting shoddy goods. The inability to sell became an alarm signal and a stimulus for launching the Japanese quality revolution during the 1950s. Within a few decades, that revolution propelled Japan into a position of world leadership in quality. This quality leadership in turn enabled Japan to become an economic superpower. It was a phenomenon without precedent in industrial history.”

Ya, kita tahu bahwa Jepang adalah musuh bagi bangsa barat khususnya pada masa Perang Dunia II. Bom atom Hiroshima dan Nagashaki (1945) yang meluluhlantakkan negara itu ditambah embargo Barat tidak menjadikannya terpuruk. Namun dalam hitungan tahun (1945 – 1950), mereka bangkit lagi dan setahap demi setahap merajai, tidak lagi di perlombaan senjata tapi di dunia bisnis, sampai sekarang.

Komitmen, konsistensi dan keuletan barangkali patut digarisbawahi sehingga dinamika yang merupakan sunatullah yang kita hadapi mampu kita lewati. Dan nampaknya, harapan itu di Internusa mulai mewujud di tahun ini. Amiin …

Kegiatan dalam rangka Milad
Sebagaimana tahun-tahun yang lalu, Panitia Milad telah merencanakan serangkaian kegiatan dalam rangka peringatan ini, yaitu :  Pertandingan Catur, Tenis Meja, Billyard, Futsal, Lomba Karaoke, Kegiatan Donor Darah, dan Pengajian/Motivasi.

Semua pertandingan dan lomba dilaksanakan mulai 18 Maret 2014, sedangkan untuk Pengajian/Motivasi pada 4 April 2014 dan Donor Darah pada 5 Mei 2014.

Tidak lupa, para pemenang I, II, dan III akan diganjar dengan pemberian hadiah berupa uang tunai dan piala.


Selamat Ulang Tahun ke-23!
Dirgahayu Internusa!

Wednesday, December 18, 2013

PROSEDUR VS PROSES

Dalam ISO 9001:2008 ditegaskan di sana bahwa pendekatan yang digunakan adalah pendekatan proses (process approach) yang juga merupakan salah satu dari Prinsip Manajemen Mutu.

Ini merupakan sesuatu yang positif di mana dalam pendekatan ini "kerja nyata" (pinjam istilahnya Hatta Rajasa) sangat ditekankan daripada uprek dengan dokumentasi. Artinya, orang yang "gedebak-gedebug" bekerja, sepanjang outputnya adalah nyata/terukur sesuai objective, maka dia telah melakukan sesuatu yang "benar" meskipun barangkali dia "menyalahi" prosedur. Tinggal diakurkan saja mana yang sebaiknya, apakah prosedurnya yang direvisi mengikuti "praktek" gedebak-gedebug tadi, ataukah aktivitasnya yang diluruskan agar efektif (atau malah efisien).

Kita selama ini dirancukan dengan istilah "prosedur" dan "proses", bagaimana sebenarnya kejelasannya. PAS 99:2012 pada klausul A.2 menegaskan :


"Oftern the word "procedure" is used in MSS and there can be confusion as to what a procedure is and how it relates to a process. In simple terms :

* a process is an activity;
* a procedure is the formalization of the process (i.e. stating how the process should be performed, which may be documented)."

Terjemahan untuk yang diberi pointer kira-kira :

* proses adalah suatu aktivitas;
* prosedur adalah formalisasi dari proses-proses (misalnya ketentuan bagaimana suatu proses harus dilaksanakan, yang di antaranya mungkin wajib didokumentasikan).


Ini penting khususnya bagi Tim Audit Internal agar dalam proses auditnya beranjak dari tadinya "document-minded" menuju ke "result minded".

Salam Quality (JS)