Y O U R....V I S I O N....I S....O U R....M I S S I O N

Friday, February 15, 2008

TARIF OVERBRENGEN DISEPAKATI TURUN 64%


15 Februari 2008
JAKARTA (Bisnis): Tarif paket untuk pemindahan lapangan penumpukan atau overbrengen kontainer impor di Pelabuhan Tanjung Priok turun sekitar 64%, menyusul disepakatinya komponen tarif pelayanan itu oleh penyedia dan pemakai jasa di pelabuhan tersebut.
Berdasarkan kesepakatan itu, tarif overbrengan (OB) turun menjadi Rp2.016.000 untuk kontainer ukuran 40 kaki dari sebelumnya berkisar Rp4,5 juta hingga Rp5 juta, sementara tarif OB kontainer 20 kaki turun menjadi Rp1.560.000 dari sebelumnya Rp2,7 juta hingga Rp3 juta.
Menurut Ketua Umum Dewan Pemakai Jasa Angkutan Indonesia (Depalindo) Toto Dirgantoro, penurunan tarif OB itu ditetapkan melalui kesepakatan antara asosiasi penyedia dan pemakai jasa, serta operator terminal kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok.
"Kesepakatan itu diketahui oleh Administrator Pelabuhan dan Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tanjung Priok," katanya kepada Bisnis, kemarin
Pembahasan tarif dan yard occupancy ratio (YOR) untuk OB dibahas selama dua hari oleh Depalindo, DPW Gafeksi (Gabungan Forwarder & Ekspedisi Indonesia), Apesindo (Asosiasi Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara Indonesia), dan perusahaan operator terminal yakni PT Jakarta International Ter-minal Container (JICT), TPK Koja, dan TPK Mustika Alam Lestari (MAL).
Sesuai usulan
Toto mengatakan kesepakatan penurunan tarif OB tersebut sesuai dengan usulan Depalindo yang mengusulkan komponen tarif sebanyak lima item dari 13 item yang diberlakukan sebelumnya.
Kelima komponen tarif OB itu yakni biaya moving (pindah kontainer) dari tempat penimbunan sementara (TPS) ke TPS tujuan, biaya lift off dan recieving, biaya gerakan dan biaya pengaturan serta penumpukan, biaya lift on dan delivery (penyerahan), serta biaya administrasi.
"Untuk tarif penumpukan kontainer, disepakati di luar tarif paket karena tergantung lamanya kontainer impor ditimbun di pelabuhan," ujarnya.
Menurut Toto, selama ini tarif yang dipungut oleh TPS tidak wajar dan tumpang tindih. Selain itu, ada tarif yang sudah dipungut di pelabuhan dipungut lagi di TPS yang besarnya Rp2,7 juta hingga Rp5 juta per kontainer.
Hotman T.P. Hutasoit, ketua tim pembahasan tarif OB, mengatakan kesepakatan tarif itu harus dilaporkan terlebih dahulu kepada Sekretaris Kabinet dan Tim Keppres 54/2002 tentang Kelancaran Arus Barang.
"Ini baru kesepakatan, keputusan akhir adalah kewenangan pemerintah," paparnya.
Dia mengharapkan hasil kesepakatan itu segera disampaikan kepada pemerintah dan tim pembahasan tarif OB tinggal menunggu jawaban untuk diberlakukan. (Aidikar M. Saidi)
Bisnis Indonesia

Tuesday, February 12, 2008

"KAWIN CAMPUR" MARKETING DAN FINANCE

Sekitar lima tahun lalu, John Gray menulis buku sangat menarik yang kemudian menjadi box office di seluruh dunia berjudul, Men Are from Mars, Women Are from Venus. Buku ini punya tesis menarik. Laki-laki, kata John Gray, adalah makhluk dari Planet Mars yang sama sekali beda dengan wanita yang berasal dari Planet Venus. Laki-laki macho, wanita feminin. Wanita cenderung lemah dan teliti, laki-laki cenderung semrawut dan ceroboh. Dan, kata Dr. Gray lagi, laki-laki sangat rasional, sementara wanita emosional.
Orang marketing dan orang keuangan tak beda dengan laki-laki dan wanita. Meminjam judul buku John Gray, orang keuangan berasal dari Planet Mars, sementara orang Marketing berasal dari Planet Venus. Keduanya beda 180 derajat. Orang keuangan cenderung rasional, pragmatis, dan result-oriented. Sebaliknya, orang marketing cenderung emosional, dan lebih banyak menggunakan intuisi dalam menyelesaikan pekerjaannya. Orang keuangan memiliki kepedulian yang begitu besar dengan angka-angka pengukuran kinerja "ROE, ROI, ROS, EVA" dan selalu mencari justifikasi dari sekecil apapun langkah yang diambil perusahaan. Sementara di sisi lain, orang-orang marketing cenderung mengabaikan semua itu.
Perbedaan ini tak jarang menimbulkan adanya arogansi antarkedua fungsi tersebut di dalam perusahaan. Ketika orang marketing menghabiskan anggaran promosi yang begitu besar, serta-merta orang keuangan akan mengkritiknya dengan mengatakan, "Seberapa banyak duit yang akan kita dapat dari pengeluaran iklan sebanyak itu?" atau, "Seberapa banyak kontribusi yang dihasilkannya bagi profitabilitas perusahaan?". Sementara menanggapi "serangan" tersebut, orang marketing akan buru-buru mencari justifikasi dengan mengatakan, "Ini adalah upaya super penting untuk membangun ekuitas merek," atau, "Ini merupakan investasi jangka panjang untuk membangun customer base yang kokoh". Kalau sudah demikian, ya jadinya nggak ketemu-ketemu.
Gambaran di atas menunjukkan adanya perbedaan dalam orientasi dan cara berpikir antardua fungsi tersebut. Perbedaan ini bukannya bebas dari dampak-dampak negatif, justru dalam banyak kasus perbedaan ini menimbulkan dampak negatif yang akut. Arogansi dan perbedaan kepentingan yang tajam ini tak jarang memicu disharmoni yang mengganggu keseluruhan operasi perusahaan. Dampak disharmoni ini bahkan bisa hingga menjerumuskan perusahaan ke jurang kebangkrutan seperti yang dialami oleh Sempati Air empat-lima tahun lalu misalnya.
Di era keemasannya tak ada yang menyangkal bahwa Sempati Air memiliki kinerja yang oke ia punya ekuitas merek kuat, servisnya oke, juga basis pelanggannya sangat kokoh. Namun seperti kita tahu, akhirnya perusahaan ini kebablasan, bangkrut dan akhirnya hilang dari udara. Mengapa, karena Sempati Air tidak mengintegrasikan strategi marketingnya yang solid dengan strategi keuangan yang pruden tapi menghasilkan fulus bagi si shareholder. Hasilnya, walaupun strategi marketing-nya dianggap hebat, namun di balik itu strategi keuangannya kedodoran. Sempati Air akhirnya bangkrut, hilang tanpa bekas.
Untuk membangun strategi yang ampuh, mau tidak mau, setiap perusahaan harus mengharmonisasikan strategi marketing dan keuangannya. Harmonisasi ini tak hanya dijalankan di level puncak, tapi juga hingga ke level manajer paling bawah. Dengan demikian harmonisasi ini akan bisa berjalan secara "natural" dalam aktivitas keseharian perusahaan. Manajer keuangan harus mulai membiasakan diri menggunakan "bahasa" marketing, sebaliknya manajer marketing harus juga mulai membiasakan diri menggunakan bahasanya orang keuangan. Hanya dengan pendekatan ini, streamlining fungsi pemasaran dan keuangan bisa dijalankan. Dan diharapkan tentu, sinergi ini akan menjadi kekuatan maha besar bagi perusahaan secara keseluruhan.
Singkatnya, orang-orang marketing harus "kawin campur" dengan orang-orang keuangan. Celakanya, kalau kebanyakan kawin awalnya enak dan belakangan banyak terjadi perang bubat, tapi kalau perkawinannya bisa mulus, dalam jangka panjang akan demikian indah dan menjadi pilar value creation perusahaan.
Yuswohadi
MarkPlus Institute of Marketing (MIM)
sumber : Jurnal Nasional, 11 Februari 2008

Thursday, January 31, 2008

TARIF LINI 2 AGAR DIATUR PEMERINTAH

28 Januari 2008

JAKARTA, Bisnis Indonesia: Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) merekomendasikan tarif lini 2 Pelabuhan Tanjung Priok diatur oleh Menteri Perhubungan.

Rekomendasi itu didasarkan pada evaluasi kesepakatan tarif lini 2 di pelabuhan itu.

Ketua KPPU M. Iqbal mengatakan evalusi terhadap kesepakatan tarif lini 2 Pelabuhan Tanjung Priok telah rampung, evaluasi atas penyedia dan pengguna jasa lini 2 masih dilanjutkan.

Dari hasil evaluasi itu, paparnya, KPPU telah menggelar rapat komisi dan menyepakati dua hal penting, di antaranya tarif lini 2 Pelabuhan Tanjung Priok hendaknya diatur melalui keputusan menteri.

Kesepakatan lainnya adalah masa evaluasi bagi pelaku usaha yang terkait dengan tarif lini 2 diperpanjang selama tiga bulan ke depan.

"Dalam satu pekan hingga dua pekan ke depan, rekomendasi itu akan kami kirimkan kepada Presiden, Wapres, dan Menteri Perhubungan. Hal utama dari rekomendasi itu mengatur soal pentingnya pengaturan tarif lini 2 oleh pemerintah," katanya kepada Bisnis, kemarin.

Iqbal memaparkan KPPU akan memperpanjang evaluasi kepada pelaku usaha yang terkait dengan kesepakatan itu, guna memastikan ada atau tidaknya kartel, termasuk memastikan jenis kartel itu bila ditemukan indikasinya.

"Kami hanya ingin memperjelas, ada atau tidaknya pelanggaran kartel itu. Bila ada [kartel], model kartel seperti apa yang terjadi dan bila tidak,? ya sudah [tidak dilanjutkan]."

Menurut dia, bersamaan rekomendasi kesepakatan tarif lini 2 itu, KPPU juga akan menerbitkan rekomendasi terkait dengan penyelenggaraan dan pengusahaan pencatatan serta pelaporan lalu lintas barang (tally) di pelabuhan agar lebih independen.

"Kami meminta agar Menteri Perhubungan mengkaji ulang penyelenggaraan tally di Pelabuhan Tanjung Priok, termasuk keputusan menteri terhadap bidang usaha itu," ujarnya.

Langkah KPPU merespons masukan dari pengguna jasa di Priok yang menilai tally tidak independen lagi dalam hal pelaporan jumlah tonase ataupun pencatatan lalu lintas barang melalui pelabuhan.

Gabungan Forwarder dan Ekspedisi Indonesia (Gafeksi) menilai Menteri Perhubungan perlu merevisi KM No.15/2002 tentang Penyelenggaraan dan Pengusahaan Tally di Pelabuhan, dalam rangka membangun sistem transportasi barang sekaligus mewujudkan pola perdagangan domestik dan internasional yang efektif, efisien, dan kompetitif.

Libatkan asosiasi lain
Sementara itu, untuk mengatur tarif lini 2 yang kian karut-marut, Administrator Pelabuhan Utama Tanjung Priok dan seluruh asosiasi pelayanan jasa barang dan peti kemas di Priok akan menggelar rapat lanjutan. Rapat itu akan menyepakati besaran tarif terkait dengan penataan ulang tarif lini 2.

Adpel Pelabuhan Utama Tanjung Priok Bobby R. Mamahit mengatakan kesepakatan besaran tarif itu akan melibatkan organisasi lain di luar enam asosiasi yang telah menyepakati besaran tarif lini 2.

"Kami akan melibatkan seluruh asosiasi terkait. Tidak hanya enam asosiasi itu [yang telah menyepakati tarif lini 2], tetapi juga asosiasi lain. Ini kami lakukan agar tidak ada lagi yang protes, " katanya.

Enam asosiasi yang telah menyepakati besaran tarif lini 2, yaitu Gabungan Forwarder dan Ekspedisi Indonesia (Gafeksi), Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI), Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI).

Selain itu, Indonesian National Shipowners Association (INSA) Jaya, Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) Tanjung Priok, dan Asosiasi Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara Seluruh Indonesia (Aptesindo).

Bobby memaparkan pihaknya dan seluruh asosiasi berharap agar Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal segera menerbitkan keputusan menteri soal struktur dan komponen tarif lini 2.

Pasalnya, saat ini ada struktur dan komponen yang sama, namun dikenakan biaya ganda kepada pemilik barang melalui istilah yang berbeda.

Oleh Sylviana Pravita R.K.N.
Bisnis Indonesia

Tuesday, December 18, 2007

Sistem National Single Window 5 Lembaga Diluncurkan

18 Desember 2007

JAKARTA, Koran Tempo -- Pemerintah kemarin secara resmi mengimplementasikan tahap pertama sistem National Single Windows (NSW) dan Peluncuran Official Website Sistem NSW.
Sistem NSW adalah sistem yang memungkinkan dilakukannya penyampaian, pemrosesan, serta pemberian izin atas data dan informasi importasi secara tunggal.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, yang juga menjadi Ketua Tim Persiapan NSW, mengatakan sistem ini baru menggabungkan lima instansi pemerintah--dari total 35 instansi--dalam satu proses perizinan. Lima instansi itu adalah Kantor Pelayanan Utama Bea-Cukai Tanjung Priok serta empat instansi yang meloloskan perizinan, yaitu Badan Pengawas Obat dan Makanan, Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Badan Karantina Pertanian, dan Pusat Karantina Ikan.
Meskipun baru lima instansi, kata Sri Mulyani, kelimanya adalah instansi inti yang terkait langsung dengan urusan importasi. Kelima instansi ini juga yang menyangkut hampir sebagian besar keseluruhan mengenai prosedur ekspor-impor barang. "Jadi, walaupun baru lima, ini adalah yang menguasai, terutama importasi makanan dan obat-obatan," kata dia saat meluncurkan sistem NSW di Gedung Dhanapala Departemen Keuangan kemarin.
Terhitung mulai 17 Desember 2007, kata Sri Mulyani, setiap pelayanan kepabeanan dan perizinan kepada 100 importir itu akan dilakukan dengan sistem NSW. Pelaku usaha, kata dia, diharapkan dapat memanfaatkan sistem ini secara optimal untuk operasi bisnis mereka. "Untuk tahap pertama masih terbatas buat 100 perusahaan importir yang masuk jalur prioritas," kata dia.
Dengan NSW, setiap importir yang akan melakukan importasi dapat mengajukan pengurusan dokumen kepabeanan dan perizinan secara online. Sehingga importir tidak perlu mendatangi kantor pelayanan ataupun instansi penerbit perizinan.
"Dengan begitu, potensi penyimpangan, seperti menyogok untuk mendapatkan izin, bisa dihilangkan karena kontak manusia tak ada lagi," kata dia.
Sekretaris Tim Persiapan NSW Edy Putra Irawadi menambahkan peluncuran sistem NSW ini merupakan upaya perbaikan pelayanan publik terhadap kegiatan yang menjadi sorotan publik. Dengan sistem ini, kata dia, diharapkan akan mengubah perilaku dan sikap birokrasi karena prosesnya otomatis bukan sekadar dari manual ke elektronik.
"Jadi keputusan boleh-tidaknya impor atau ekspor harus di mesin, pembangunan sistem ini sekaligus membuat pengawasan menjadi semakin ketat terhadap kegiatan perdagangan tercela dan optimalisasi penerimaan negara," kata dia.
Kenapa hanya Tanjung Priok yang dipilih? Menurut Edy Putra, selain karena Tanjung Priok yang paling siap, pelabuhan ini merupakan pelabuhan paling sibuk di Indonesia. Sebanyak 60 persen dari 4,8 juta dokumen keluar-masuk barang dari dan ke Indonesia melalui Tanjung Priok. Sementara itu, lima instansi pemerintah yang menerapkan NSW tahap I ini akan memproses sebanyak 372.300 dokumen impor per tahun atau 950 dokumen impor per hari.
Ketua Kamar Dagang dan Industri M.S. Hidayat menyatakan pihaknya sangat mendukung dan berterima kasih kepada pemerintah. "Dengan adanya NSW akan memperlancar bisnis di Indonesia, terutama kaitannya dengan ekspor dan impor. Akan kami lihat bagaimana implementasinya," kata dia.
Ketua Asosiasi Jalur Prioritas Gunadi Sindhuwinata mengatakan, dengan sistem NSW ini, proses importasi yang biasanya makan waktu seminggu, bahkan lebih, kini bisa selesai dalam 2-3 hari. "Bahkan barang yang umum satu hari bisa selesai," kata dia.
AGUS SUPRIYANTO

Thursday, December 13, 2007

Gafeksi Minta Komponen Tarif Lini 2 Disederhanakan

BANJARMASIN: Gabungan Forwarder dan Ekspedisi Indonesia (Gafeksi) mengusulkan penyederhanaan komponen tarif forwarding (forwarding local charges) dan biaya gudang sebagai masukan bagi penyusunan keputusan Menteri Perhubungan tentang tarif lini 2 di Pelabuhan Tanjung Priok.
Usulan itu sekaligus menanggapi kian tingginya tarif di lini 2 akibat adanya mekanisme rabat kepada forwarder asing sehingga menimbulkan biaya tinggi bagi importir dan eksportir nasional.
Ketua DPW Gafeksi DKI Jakarta Sjukri Siregar mengatakan Gafeksi dan asosiasi terkait lainnya bersama Administrator Pelabuhan Tanjung Priok dan Pelindo II hari ini menggelar pertemuan guna menyusun masukan kepada Menhub soal struktur dan komponen tarif lini 2.
"Tarif lini 2 saat ini sudah tidak kondusif bagi pengembangan sektor logistik dan arus barang. Tarif lini 1 sudah diatur lewat Kepmen oleh Menhub Hatta Radjasa saat itu, sekarang tinggal Kepmen untuk tarif lini 2," katanya di Banjarmasin, Selasa.
Menurut Syukri, perang tarif di lini 2 kian menggila karena agen konsolidator berebut menetapkan tarif kepada pemilik barang (consignee) melalui penagihan terhadap 12 komponen tarif yang mereka rancang.
"Ini dilakukan agar mereka dapat memberikan rabat sebesar-besarnya kepada forwarder di luar negeri. Selain itu, untuk komponen biaya gudang yang ditagih mencapai 16 komponen," ujarnya.
Rabat alias uang sogok untuk forwarder asing itu dinilai penting bagi agen konsolidator ekspor dan impor di dalam negeri untuk menjaga pasokan order dari negara lain.
"Siapa yang bisa memberikan uang kembali yang tertinggi bagi agen asing, agen konsolidator itulah yang akan mengurus seluruh kelancaran arus barang, baik ekspor maupun impor.
"Hal itu, kata Syukri, mendorong Gafeksi membentuk kesepakatan tarif beberapa waktu yang lalu dengan asosiasi terkait, meski struktur tarif dan komponen tarif di lini 2 belum memiliki payung hukumnya.
Penyederhanaan tarif
Oleh karena itu, lanjutnya, Gafeksi mengusulkan menyederhanakan komponen tarif, yakni empat komponen biaya dan tarif batas atas bagi forwarding local charges serta 10 komponen biaya gudang.
"Saat ini PPJK [pengusaha pengurusan jasa kepabeanan] juga harus mengeluarkan dana talangan yang besar, sementara fee dari proses itu tetap sama. Importir dan eksportir keluar uang lebih banyak dari seharusnya, sebab tarif dirancang untuk memenuhi rabat. Ini masalah nasional. Bagaimana daya saing dan arus barang bisa naik kalau tarifnya begitu. Justru asing yang menikmati rabat ini."
Dia mengakui posisi agen di Indonesia lemah karena tidak didukung Kepmen untuk tarif lini 2. "Pihak asing tahu soal ini, mereka lantas meminta rabat. Kalau ada Kepmen, kami bisa tunjukkan kalau Pemerintah Indonesia sudah mengatur tarif dan mereka tidak bisa minta lagi," katanya.
Sementara itu, terkait dengan kesepakatan enam asosiasi atas tarif lini 2, Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) M. Iqbal mengatakan pihaknya hari ini menggelar rapat Komisi yang akan menghasilkan rekomendasi soal kasus tersebut. (sylviana.pravita@bisnis.co.id)


Oleh Sylviana Pravita R.K.N.Bisnis Indonesia
bisnis.com

URL : http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/transportasi-logistik/1id35222.html

Tuesday, December 11, 2007

THE SEVEN HABITS OF HIGHLY EFFECTIVE PEOPLE


The first of the 7 Habits is - Be Proactive. It is perhaps a great compliment to Stephen Covey that today, the substance of this first habit is deeply embedded into the management psyche. We are told, in business, that we should be proactive; and broadly what is meant by that is to focus our efforts and attention on the long-term and to think in terms of the long-term consequences of our actions.
Covey contrasts being proactive or having a proactive mentality with being reactive. Reactive people, he says, are those who are resigned to the truth that whatever they do in the present can have no effect on their circumstances. And interestingly, for reactive people, it really is a truth, for whatever we believe in our heart affects our thoughts, words and actions. If we really believe that we can do nothing about our unreasonable boss or the daily events in our lives, then we simply do not make the effort.

Proactive people, on the other hand, simply will not accept that there is nothing that can be done about the unreasonable boss or the events of daily life - they will point out that there are always choices. It is by the decisions we make, our responses to people, events and circumstances that proactive people can and do affect the future. We may have no control over what life throws at us but we always have a choice about how we are to respond.

Now this notion that having a particular attitude of mind (which is really where this habit begins) can make such a huge and positive difference to almost everything we experience in life is foreign to those who have already internalised the opposite habit as a part of their personalities. For some people, the glass is always half-empty and the feeling of melancholy is a pleasant reminder that something is indeed missing. For such people, this habit represents a bitter pill to swallow - but, says Covey, it is also completely liberating.

When we are finally prepared to accept full responsibility for the effects that are manifest in our lives; when we have the strength of character to admit it when we make mistakes (even big ones); when we are completely free to exercise the options available to us in every situation; then it can be said that we have finally internalised this habit. The other six of the habits require that we first work on our basic character by becoming proactive and thereby transforming ourselves into men and women of integrity.

Habit 2 - Begin with the End in Mind

The second of the habits is - Begin with the End in Mind. Many people in the west identify with the frustration of success. Being successful at their chosen career and committed to its progress they come to realise that it does not, in the final analysis, bring any sense of real satisfaction. The reason for this ultimate dissatisfaction is that they did not begin with the end in mind. For many people, it is not just that they did not begin with the end in mind; it goes a bit deeper - they did not ever get around to defining the end itself and so they simply could not begin with the end in mind. So what does all this mean? The end represents the purpose of your life. Until you can say what that purpose is, with assurance, then you just cannot direct your life in the manner that would bring you the greatest satisfaction.

There are no short-cuts here. To engage in this habit, you need to have a dream, define your own vision and get into the practice of setting goals which will allow you to make measurable progress toward the dream. If you practice a faith, then you will want to consider how this affects your purpose in life; if you do not, you will still need to get involved in deep self-examination to find out exactly what it is that will bring you fulfilment. To help you with this, you may wish to obtain my E-Book The Deepest Desire of Your Heart; available from this site. The book contains some excellent self-reflection exercises you can use to focus your mind on what is most important to you in life.

Until you have defined your vision - the big dream to which you will be working - you will be unable to move on to habit 3 which provides a basic framework for you to re-align your efforts so that you will ultimately achieve your heart's desire.

Habit 3 - First Things First

The third habit is - First Thing First. Following the amazing popularity of his work on The 7 Habits of Highly Effective People, Stephen Covey published a second book that deals with the 7 Habits; and the title of that book is also First Things First. Both the book and this habit deal with subject of managing your time effectively.

Consider the simple 2 x 2 matrix shown below. It plots the concepts of urgency and importance against each other; and represents where you are spending your time. To really understand and apply this habit, you need to have first done habit 2 - that is, you should already have defined what is important to you. Without first doing this, habit 3 has no power because you simply cannot separate what is important from what is not important.

This representation shows four categories of demand which may be made on your time. Quadrant 1 consists of activities which are both urgent and important - in other words, things to which you absolutely must attend. Why must you do these things? Because they are important - meaning that they contribute to your mission; and they are urgent - meaning that they have some sort of deadline associated with them.

Choices about where to invest your time really are made in the other categories; and most people - driven by the concept of urgency - get drawn into Quadrant 3; doing things that consume their time but do not contribute to their goals. Highly Effective People (yes they all fit together you see) understand that the high leverage activities are all Quadrant 2 - important but not urgent. Planning, preparation, prevention, relationship-building, reading, improving your professional knowledge and exercise are all examples of Quadrant 2 activity - not an exhaustive list, by any means.

We all intuitively know that Quadrant 2 activities are the key to getting results; but you need to have internalised the first two habits before you can benefit from the high leverage this habit brings. In other words, you first need to have developed the strength of character (proactivity) which allows you to be able to say no to demands on your time that fall into Quadrants 2 and 3; and you also need to have defined what importance means for you - otherwise the Quadrants do not exist.

Put habits 1,2 and 3 together and you have the ultimate success formula. Stated simply - get your mind right; define what is important; then organise your life to maximise your Quadrant 2 efforts. By spending appropriate time on Quadrant 2 activities, you will gain control over the circumstances of your life; Quadrant 1 will actually get smaller because you will have anticipated and prepared for much Quadrant 1 activity. Concentrating on Quadrant 2 is absolutely fundamental to achieving success. You might like to take a look at the 4tm Spreadsheet, available from this site, which can help you to make this key adjustment in the use of your time.

Habit 4 - Think Win Win

The next of the 7 Habits is - Think Win-Win. This habit is again an attitude of mind. It concerns fostering an attitude that is committed to always finding solutions that will truly benefit both sides of a dispute. Solutions do not, of course, exist in themselves; they must be created. And, even if we cannot see the solution to a particular problem, it does not mean that no such solution exists. The win-win idea is not based upon compromise - that is where most disputes naturally end. But compromise is the result of not properly perceiving the possible synergy of the situation.

The more you practice this habit, the more committed you will become as you find solutions which truly do benefit both parties, where originally it looked as if no such agreement might be reached. Covey has amended the wording of this habit slightly in recent years to read: Think Win-Win or No Deal. This attitude works well because it liberates the individuals concerned from the effort of trying to persuade the opposite party to shift ground or compromise. The effort is instead spend on trying to understand, which is where habit 5 comes in - you see, they are also sequential.

Habit 5 - Seek First to Understand then be Understood
The fifth habit is - Seek First to Understand. What most people do, naturally, when involved in some type of discussion, meeting or dialogue is exactly the reverse - they seek first to be understood. And, as Stephen Covey says, when both parties are trying to be understood, neither party is really listening; he calls such an interaction, 'the dialogue of the deaf'. This habit is an important key to inter-personal relationships and it seems to be almost magical in its ability to transform the course of discussions. Why? Because by making the investment of time and effort required to understand the other party, the dynamics of the interchange are subtly affected.

This habit is not just about letting the other person speak first; it concerns actually making the effort to understand what is being said. It is about understanding that our natural habit of mind is to misunderstand. When we are engaged in conversation, error is always present. NLP tells us that we simply make our own meaning based on our own experiences and understanding of life; and frequently we make the wrong meaning. You might like to take a look at the answers given by school-children on history exams which illustrates this principle - we are no different!

If however, we are prepared to invest the time and effort to really understand the other person's position; and to get into the habit of spending the first part of the discussion doing so; then, when it is felt by the other person that you do indeed understand, the dynamic changes. People become more open, more teachable, more interested in what you may have to say and with the mutual understanding that flows from this habit, you are ready to practice habit 6; which concerns finding creative solutions.

Habit 6 - Synergize

The sixth of the 7 Habits of Highly Effective People is - Synergize. This habit involves you putting your head together with the other party or parties in order to creatively brainstorm a synergistic solution to a problem i.e. to find a solution which contains win-win benefits. It can only be done successfully if you have first practiced habits 4 and 5. The well-known definition of synergy is as follows:

Synergy - When the whole is greater than the sum of the parts.
Finding a synergistic solution means finding a solution which is better than either party might first propose. Such a solution can only be found if both parties truly understand the other parties position - the fruit of habits 4 and 5. There have been many books written on successful brainstorming techniques; my own favourite techniques are those proposed by Edward DeBono - professor of thinking and perhaps most famous for Lateral Thinking.
Putting habit 4, 5 and 6 together, you have a perfect model for human interaction. Put simply: first be mentally committed to the idea that a solution that will benefit all parties may be constructed; next invest the necessary time and effort to really understand the other party and do that first; finally creatively brainstorm a synergistic solution - a natural product of mutual understanding and respect.

Habit 7 - Sharpen the Saw

The last habit of the 7 Habits is - Sharpen the Saw. In this habit, you are the saw; and to Sharpen the Saw is to become better, keener and more effective. Highly Effective People always take time to Sharpen the Saw. What is meant by Sharpening the Saw is to regularly engage in the exercise of the three dimensions which make up the human condition: body, mind and spirit. Covey also adds a fourth dimension - the inter-personal.
Spiritual Exercise

Let us begin by considering Spiritual Exercise - this is the area which is perhaps the most misunderstood. I believe that, in the west, we have become spiritually blind. The progress of our science, education and technology has lead us to construct a view of the world and the universe that excludes the agency of God. Freud famously said that it was man that made God 'in the image of his father'. It is, of course, a very clever statement and not one I wish to here challenge - whether this statement or the reverse is true is for you to decide. However, as the west has, by and large, abandoned faith in the creator God, so it has simultaneously abandoned the idea that life has any meaning or purpose; and it is purpose and direction in life that this habit refers to as Spiritual Exercise. Of course, if you are a religious person, then there will be a tie-up here with your personal faith; however, if you are not religious, don't also abandon the idea that life holds a special purpose for you.

To exercise spiritually, I recommend that you consider engaging in some form of meditation. Meditation involves regularly sitting in a relaxed position and thinking about nothing for a period of about 10 or 15 minutes. Why this practice should bring about any material benefits is an interesting question. You might consider that you relax your mind quite enough when you sleep, but it turns out that we don't really relax our minds when we sleep. The brain is active during sleep - during REM sleep, the brain appears to be processing information. Though it is not yet known exactly what it is doing, the brain is certainly not passive and so the mind is not relaxed during sleep. Meditation is the practice of disciplining the mind, It is difficult to do at first, but if you stick with it, positive health benefits will follow.

Making use of Jack Black's House on the Right Bank is an excellent tool for combining what is really guided meditation with the practice of regularly reviewing your mission, your roles and your goals; and that is what Stephen Covey means when he talks about spiritual exercise - the regular, review and preview of the things that are most important to you in life. These are the first things that you must define in habit 2 - Begin with the End in Mind.

Physical Exercise

Regular aerobic, physical exercise is essential for health, energy and a feeling of well-being. Naturally, you should always consult your doctor or physician before you embark upon any course of physical exercise; and it should be obvious that such professional advice as may be given, should always be taken into account.

To practice this part of Habit 7 requires that you commit to at least three sessions of at least twenty minutes per week. If you are not already engaged in this sort of exercise, you will find that after a period of about six weeks, you will feel much better, much healthier and indeed your body will become more efficient at processing oxygen - which is the key to energy.

Mental Exercise

Ask yourself these questions. What am I doing to sharpen my mind? Am I engaged in a programme of education or learning of some kind? What am I doing to improve my professional knowledge?

How you should go about this part of the habit is, of course, for you to decide, but you should ensure that you are reading regularly. What should you read? Naturally you want to put in the good stuff - so it's not a case of reading for its own sake; it is reading carefully selected material which allows you to broaden and deepen your understanding.

You will naturally be paying particular attention to the important areas you defined in habit 2, but you should also consider reading all the great works of literature and also ancient wisdom literature which includes books like The Psalms and Proverbs..

Interpersonal

This part is not really a discipline, as are the other three parts, it is really a commitment; and for me, I make the commitment during the spiritual part of the habit, that is, during a meditation. It is simply to commit to approaching inter-personal relationships by making use of habits 4, 5 and 6.

Even if people approach me making use of language, actions, or behaviour which I personally believe to be inappropriate, my commitment is to not react, but to use my proactive capacity to engage in the exercise of habits 4, 5 and 6 which I believe will lead to the best possible outcome in such circumstances


http://www.whitedovebooks.co.uk/7-habits/7-habits.htm

Wednesday, November 28, 2007

MANFAATKAN KEKUATAN KATA-KATA

Oleh : Prof. Dr. Roy Sembel / Sandra Sembel


Sinar Harapan, 27 November 2007
Manajemen Diri

Kata-kata ada di mana-mana dan kitapun menggunakannya setiap saat. Ketika kita menulis, kita menggunakan kata-kata. Ketika kita berbicara kita menggunakan kata-kata. Ketika kita membaca, kita juga menggunakan kata-kata. Ketika kita berpikirpun, kita senantiasa menggunakan kata-kata.

Michael J. Losier dalam bukunya Law or Attraction mengatakan bahwa kata-kata kita mempunyai kekuatan yang dahsyat untuk mewujudkan getaran yang dipancarkannya. Jadi, mengapa kita harus menggunakan kata-kata yang tidak kita inginkan? Gunakan saja kata-kata yang mengungkapkan hal-hal yang menjadi harapan kita agar hal-hal tersebut bisa terwujud. Bagaimana caranya? Simak yang berikut.

Hentikan yang Negatif

Jangan terlambat.
Jangan mengambil rute itu.
Jangan panik.
Jangan ragu-ragu menghubungi saya.
Dilarang parkir di sini.
Dilarang merokok.
Dilarang buang sampah sembarangan.

Sepertinya kalimat-kalimat ini baik-baik saja. Sepertinya semuanya menunjukkan perhatian kita akan hal-hal positif.

Tetapi, ternyata kata-kata ini bisa mewujudkan hal-hal yang sebaliknya. Ketika kita berkata ”Jangan terlambat”, sebenarnya kita memancarkan ”energi” kekhawatiran akan keterlambatan tersebut.

Energi yang terpancar inilah yang akan membuat apa yang kita khawatirkan terwujud. Sebagai contoh, perhatikan pengalaman mantan bos pebulis : Ibu Emmy senantiasa menggunakan taksi untuk pergi ke kantor. Untuk itu, ia selalu memesan taksi pada pembantunya (ketika jasa pesan taksi melalui telepon belum lazim).

Pada suatu waktu, ia mendapat pembantu baru. Seperti biasa, Ibu Emmy memesan kepada pembantunya tersebut, “Mbak, tolong carikan taksi untuk saya. Taksi apa saja asalkan ‘jangan’ yang kuning, ya. Sekali lagi ‘jangan’ yang kuning.” Beberapa saat kemudian, sang pembantu datang dengan menaiki taksi berwarna kuning! Ternyata, kata-kata terakhir Ibu Emmy yang senantiasa diulang itulah yang diingat oleh sang pembantu.

Kata-kata ini berhasil terwujud. Kalau saja Ibu Emmy mengatakan, ”Ambil taksi yang biru ya” dan mengulang kata-kata biru tersebut, dapat dipastikan Ibu Emmy juga akan mendapatkan taksi berwarna biru. Hasil survey juga membuktikan bahwa kata-kata yang kita gunakan memiliki energi untuk menggerakkan kita mewujudkannya. Jadi, gunakan kata-kata yang memancarkan energi positif , yaitu kata-kata yang mengungkapkan harapan dan keinginan kita.

Ganti yang Positif

Di sebuah taman kanak-kanak, para guru diberi pelatihan untuk mengganti kata-kata negatif (hal-hal yang ingin dihindari) dengan ungkapan yang positif yang ingin diwujudkan dalam berkomunikasi dengan anak-anak. Sebab, penelitian mengungkapkan bahwa yang diingat orang adalah kata-kata atau ungkapan yang diberi penekanan dengan perasaan dan perhatian.

Sebagai contoh, perhatikan tabel di bawah yang membandingkan dua ungkapan yang sama dengan kata-kata yang berbeda : yang satu menggunakan ungkapan negatif (yang tidak kita inginkan), yang lain menggunakan ungkapan positif (yang menjadi harapan kita).

Ungkapan Negatif Ungkapan Positif

* Jangan lari * Jalan saja
* Jangan buang sampah * Buang sampah di
sembarangan tempat sampah
* Jangan panik * Tenang saja
* Jangan ribut * Bicara pelan saja


Ternyata, dengan cara mengganti kata-kata negatif menjadi positif, para guru berhasil membuat siswa melakukan apa yang mereka inginkan. Jadi, dari ilustrasi ini kita belajar bahwa kata-kata yang kita gunakan (baik negatif ataupun positif), memiliki kekuatan untuk mengundang semesta mewujudkannya.

Jadi, di manapun kita berkarya dan pekerjaan apapun yang kita lakukan, pastikan agar kata-kata yang kita gunakan adalah kata-kata atau ungkapan yang mengandung harapan dan keinginan yang hendak kita wujudkan.

Biasakan Berkata Positif

Setelah kita tahu bahwa kata-kata mempunyai kekuatan dahsyat untuk mewujudkan makna yang terkandung di dalamnya, kita bisa mulai memilih kata-kata positif untuk kita gunakan dalam seluruh aspek kehidupan kita : apa yang kita ucapkan, apa yang kita pikirkan, apa yang kita baca, dan apa yang kita amati.

Dalam berkata-kata, daripada mengucapkan ”jangan ragu-ragu menghubungi saya jika ada yang ingin Anda tanyakan,” akan lebih baik jika mengucapkan ”hubungi saya segera jika ada hal yang ingin Anda tanyakan.” Daripada berpikir dengan menggunakan kata-kata ”Saya tidak boleh panik dalam menghadapi situasi ini”, lebih baik kita berpikir dengan kata-kata positif, ”Saya harus tenang dalam menghadapi situasi ini”.

”Daripada membaca buku, atau majalah yang dipenuhi dengan ungkapan-ungkapan negatif, lebih baik kita mengambil buku-buku, artikel atau majalah yang banyak menggunakan kata-kata positif. Daripada menonton sebuah tayangan yang banyak berisi ungkapan negatif, lebih baik kita memilih tayangan yang lebih banyak menggunakan ungkapan positif.

Jadi intinya, di manapun kita berada, apapun yang kita pikirkan, ucapkan, dan amati, pastikan kita memilih hal-hal yang menggunakan kata-kata positif. Jika kita dikelilingi kata-kata positif, energi positif yang dipancarkan akan mempercepat kita untuk mewujudkan hal-hal positif yang ingin kita raih.

Pupuk Kebiasaan

Nah, jika kata-kata positif dapat berwujud menjadi hal-hal positif, mengapa tidak kita mulai untuk memupuk kebiasaan menggunakan kata-kata positif. Buatlah daftar kata-kata ”negatif” yang sering kita gunakan, coba cari padanan katanya yang lebih mengungkapkan apa yang ingin kita wujudkan. Masukkan kata-kata ataupun ungkapan tersebut dalam kosa kata yang aktif kita gunakan sehari-hari.

Mungkin kita bisa memulai dari satu ungkapan terlebih dahulu, untuk kemudian kita tambah lagi setiap hari ataupun setiap minggu, sampai akhirnya kebiasaan tersebut terbentuk. Jika kita sudah memiliki kebiasaan untuk memilih dan menggunakan kata-kata positif, kata-kata tersebut akan mengalir secara otomatis di pikiran, ucapan, bacaan, dan tayangan yang kita pilih. Akhirnya, kita tinggal memetik keuntungan dari kata-kata positif yang kita gunakan tersebut.

Masih adakah kata-kata negatif yang sering Anda gunakan? Ganti kata-kata negatif dengan yang positif, tanamkan kebiasaan menggunakan kata-kata positif. Sukses untuk kita semua.