Y O U R....V I S I O N....I S....O U R....M I S S I O N

Tuesday, September 13, 2011

AGM PLANNING STARTS NOW

Tuesday, June 14, 2011

The date of the FPS Group AGM has been confirmed and will take place between October 18 - 21, 2011.

The venue is the Intercontinental Bali Resort, Indonesia.

All member companies of the FPS network will be invited to the AGM to take part in discussions and one-to-one meetings with fellow freight forwarding members from around the network.

In joining the FPS network you are not joining just an anonymous network in which you have no control. By attending the AGM, you can have a real opportunity to shape the network’s direction and development.


Source: //www.fps-group.net/News.aspx?id=77

Tuesday, August 23, 2011

PETI KEMAS, TRANSIT DI SINGAPURA BERKURANG

Jakarta – Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II, RJ Lino mengatakan, volume peti kemas yang transit di Pelabuhan Singapura terus berkurang. Bila tahun 2009 sebanyak 60-65 persen peti kemas asal Tanjung Priok harus transit di Singapura, tahun 2010 hanya 20 persen.

“Prestasi ini karena kinerja Tanjung Priok makin baik, alatnya makin lengkap. Peti kemas ke Asia Timur, misalnya, langsung dikapalkan tanpa transit lagi. Tahun 2011 ini, bahkan saya menantang Tanjung Priok untuk investasi alat secara besar-besaran supaya kinerja makin baik,” kata RJ Lino, Rabu (23/2) di Jakarta.

RJ Lino berbicara dalam peresmian 12 unit rubber tyred gantry crane (RTGC) atau kendaraan penumpuk peti kemas milik PT Jakarta International Container Terminal (JICT).

Setiap tahun sekitar 2 juta peti kemas berukuran 20 kaki (TEUs) dibongkar muat di Tanjung Priok. “Dengan RTGC baru ini, kapasitas JICT diharapkan menjadi 3 juta TEUs per tahun pada 2012,” kata Presiden Direktur JICT Helman Sembiring.

(Sumber: Kompas, 24 Februari 2011)

Monday, August 15, 2011

ISO 9001:2008 SIMPLIFIED

Part 1: Scope, Part 2: References, Part 3: Terms and definitions

Part 4: Quality management system
General concept is to:
- Say what you do and do what you say (PDCA)
Documentation requirements
- Write down the important things
- Get organized to achieve quality
- Make directions available to users
- Keep directions up-to-date (as long as needed)
- Identify needed records and maintain them

Part 5: Management responsibility
Provide vision and commitment to quality
Plan to achieve quality
- Establish quality objectives
- Keep the quality management system current
Define duties and responsibilities
- Define and communicate responsibilities and authorities
- Put someone in charge of the quality program
- Communicate within the organization
Monitor the operations
- Periodically, to ensure suitability, adequacy and effectiveness of quality management system
- Inputs from both internal and external sources
- Outputs to cover QMS, product, and resources
- Keep records

Part 6: Resource management
Determine and provide resources for:
- Implementing and maintaining the QMS (including improving effectiveness)
- Enhancing customer satisfaction
Allow people to excel in their work
- Determine competencies and provide training
- Give them the tools and equipment to do the job
- Determine and manage the work environment

Part 7: Product realization
Define the process steps before doing it
- Product specifications
- Processes, instructions, and resources to make it
- Quality control (test and inspection) needed
- Records to prove it to outsiders
- Called "quality, production, or run plans"
Know what the customer wants
- Determine all the requirements
- Make sure you can do it (contract review)
- Keep the customer in the loop
Design for quality
- Create a design plan
- Define the design input (requirements)
- Capture the design in useful documents
- Periodically review the design process
- Verify that you did what you promised
- Validate the design to see if it really works
- Control changes to the design
Use good stuff from your suppliers
- Know what you want
- Check out your suppliers and monitor them
- Verify you received what you ordered
Control your production and service
- Make it under controlled conditions
- Validate processes that can’t be measured
- Match the job to the specs and show the status
- Keep track of what you make (if required)
- Don’t break your customer’s stuff
- Keep it good as it proceeds through production and delivery
Check the work with good equipment
- Identify information needed for monitoring (process) and measuring (conformity)
- Identify the devices needed for both
- Control monitoring and measuring processes
- Make sure measuring equipment is good

Part 8: Measurement, analysis and improvement
Develop ways to measure QC, QA, QM
Monitor your customer’s perception of your quality
Audit your quality management system
Monitor your internal processes
Measure the product characteristics
Don’t accidentally ship or use bad stuff
Properly dispose of bad stuff
Collect information and analyze it
Continually improve the QMS effectiveness

That's it!
Labels: quality


Source: http://auditguy.blogspot.com/2011/06/iso-90012008-simplified.html

Monday, August 1, 2011

BASMI VIRUS BAHAYA LOGISTIK

16 June, 2011 by alec

MENURUT laporan World Economic Forum (WEF) melalui Indeks Daya Saing Global alias Global Competitiveness Index (GCI) 2010–2011, disebutkan Indonesia berada di posisi ke-44 di antara 139 negara. Naik sepuluh peringkat dari posisi tahun lalu, yang bertengger di urutan ke-54.

GAFEKSI : Berada di urutan ke-44, Indonesia masih lebih baik daripada sebagian negara BRICS (Brazil, Rusia, India, China/Tiongkok, dan Afrika Selatan), kecuali Tiongkok yang duduk di posisi ke-27.

Namun sayang, di antara negara terkemuka ASEAN, Indonesia masih kalah jika dibandingkan dengan Singapura (ke-3), Malaysia (ke-26), dan Thailand (ke-38).

Tapi, lebih bagus jika dibandingkan dengan Filipina (ke-85), Kamboja (ke-109), dan
Vietnam (ke-59).

Meski demikian, prestasi peningkatan daya saing tersebut kurang didukung dengan total biaya logistik (packaging and distributing) yang harus dikeluarkan pengusaha Indonesia.

Sebab, kenyataannya, dalam menjalankan bisnis, mereka masih memikul biaya yang tinggi.

Buktinya, Indonesia menempati posisi ke-58 dalam peringkat negara dengan biaya logistik paling efisien sedunia. Singapura menempati urutan kedua setelah Amerika.

Negara ASEAN lain, Malaysia, menempati peringkat ke-16. Sementara itu, Thailand menduduki peringkat ke-29 dan Filipina berada peringkat ke-52.

Berdasar data Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) 2002, persentase biaya logistik di
Indonesia terhadap GDP (gross domestic bruto) cukup tinggi, yaitu 30 persen.

Bandingkan dengan Meksiko yang hanya 14,9 persen; Singapura 13,9 persen; Jepang 11,3 persen; dan Hongkong sekitar 13,7 persen (Jawa Pos, 11/6/2011).

Tentu hal itu akan menjadi pekerjaan rumah yang penting bagi pemerintah sebelum menjalankan megaproyek Masterplan 2011–2025 yang baru saja diluncurkan dan proyek-proyek lain.

Jika diibaratkan dalam dunia medis, masalah biaya logistik itu termasuk virus yang bisa menimbulkan penyakit-penyakit ekonomi, seperti meningkatnya inflasi, bertambahnya jumlah rakyat miskin dan angka pengangguran, ketidakseimbangan neraca pembayaran, serta rendahnya pertumbuhan ekonomi.

Karena itu, diperlukan langkah analgesik untuk mencegah menyebarnya virus biaya
logistik tersebut.

Ada beberapa langkah dan upaya analgesik yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi virus itu.

Pertama, membenahi masalah transportasi.

Salah satu masalah transportasi di Indonesia adalah kemacetan, terutama di kota-kota besar (Jakarta, Surabaya, Medan, Semarang, dan lain-lain), akibat tidak seimbangnya jumlah kendaraan bermotor yang terus meningkat dengan luas jalan.

Akibatnya, dari sisi biaya angkutan, terjadi pemborosan Rp37 triliun.

Itu ditimbulkan oleh kemacetan yang berdampak pada meningkatnya biaya produksi dan harga barang.

Hal tersebut sesuai dengan yang diungkapkan Kepala Badan Litbang Kementerian Perhubungan Denny Siahaan bahwa transportasi merupakan komponen biaya terbesar yang harus dikeluarkan dari total biaya logistik.

Komposisi biaya untuk transportasi mencapai 25 persen (Jawa Pos, 11/6/2011).

Sebagai contoh, kerugian material di wilayah DKI Jakarta setiap tahun akibat kemacetan mencapai Rp20,7 triliun.

Itu disebabkan meningkatnya operasional perjalanan, pemakaian BBM, dan perbaikan
lapisan jalan tol (Kompas, 10/6/2011).

Ada beberapa solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah kemacetan itu.

Antara lain, menggunakan kebijakan penataan kembali sistem transportasi dan tata ruang kota, pembatasan pemakaian kendaraan berat dan kendaraan pribadi di jalan, pengaturan parkir, serta peningkatan angkutan masal.

Juga yang paling penting adalah perlunya kesepahaman dan sinergitas antar kementerian serta pemerintah pusat dan daerah dalam membangun transportasi.

Kedua, membenahi masalah infrastruktur.

Infrastruktur dinilai sebagai kendala utama bagi kinerja dunia usaha. Pelaku usaha
menilai kualitas infrastruktur masih buruk.

Hanya telepon dan listrik (infrastruktur yang bukan kewenangan pemda) yang dinilai relatif baik oleh pengusaha (Jawa Pos, 8/6/2011).

Tidak salah jika studi yang dilakukan Islamic Development Bank (IDB) pada Juli 2010 mengenai kendala kritis pembangunan infrastruktur di Indonesia berkesimpulan bahwa begitu banyak hambatan dan kendala dalam penyediaan infrastruktur di negeri ini.

Antara lain, lemahnya kapasitas SDM dan kelembagaan, adanya masalah pembebasan lahan, serta lemahnya tata kelola pemerintahan.

Beberapa hal itulah yang mengakibatkan buruknya kualitas infrastruktur di Indonesia sehingga dalam aspek infrastrukturnya, menurut laporan WEF dalam Global Competitiveness Report 2010–2011, Indonesia hanya duduk di posisi ke-82 di antara 139 negara.

Posisi tersebut masih ketinggalan jauh oleh negara-negara ASEAN lain (Singapura peringkat ke-5, Malaysia ke-30, dan Thailand ke-35).

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah infrastruktur itu.

Di antaranya, segera menuntaskan UU Pengadaan Lahan yang masih menjadi perdebatan serta menambah jumlah porsi dana APBN untuk pembangunan infrastruktur yang masih minim.

Ketiga, meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan manajemen perusahaan.

Selain biaya transportasi yang merupakan penyumbang biaya terbesar dari total biaya
logistik, ternyata biaya produksi dan pengawasan merupakan salah satu bagian biaya terbesar (meliputi biaya storage 20 persen, inventory financing 16 persen, packaging 10 persen, serta management & control 11 persen) dari total biaya logistik tersebut.

Keempat, meningkatkan pelayanan birokrasi.

Sudah menjadi masalah klasik bahwa birokrasi di Indonesia cukup rumit dan penuh dengan pungutan-pungutan, pajak, dan segala tetek bengeknya dalam proses perizinan usaha.

Korupsi, tampaknya, sudah mendarah daging dalam setiap sendi kehidupan dunia birokrasi Indonesia, mulai tingkat pusat sampai daerah.

Tak salah jika biaya administrasi menyumbang 18 persen dari total biaya logistik yang harus dikeluarkan oleh pengusaha dalam menjalankan aktivitas bisnis.

Apalagi, sekarang masih terdapat 72 persen dari 1.481 peraturan daerah (perda) di 245
kabupaten-kota yang mengakibatkan ekonomi berbiaya tinggi.

Hal tersebut pada gilirannya akan mengakibatkan keengganan investor untuk menanamkan modal di Indonesia (Republika, 8/6/2011).

Kita semua berharap pemerintah segera membasmi virus biaya logistik tersebut sehingga tidak berlarut-larut menyerang ekonomi Indonesia.

Karena itu, diperlukan partisipasi dan kerja sama yang baik antara pemerintah, pelaku
dunia usaha, dan pihak-pihak lain yang terkait.

Juga yang paling penting, dibutuhkan langkah nyata dan ketegasan dari pemerintah sehingga wabah virus biaya logistik itu tidak semakin menyebar dan menular.

Agus Suman
Guru besar Ilmu Ekonomi Universitas Brawijaya
Sumber: radarjogja.co.id

Wednesday, July 13, 2011

THE SIX KESY TO SUCCESS

Author: unknown

1. Attitude
Bloom where you are planted. You have a choice to get back up after temporary set backs. Attitude is a small thing that makes a big difference!

2. Direction
If you don't know where you are going, any road will get you there. Write your short term goals down on paper. I have discovered and continue to discover that putting your dreams and goals down on paper lock in or focus your belief that they can be achieved--even if you have to take a course correction in achieving your goals. Success comes in cans, failure comes in can'ts.

3. Values
Explore what is important to you. Maybe it is family, friends, your spirituality or working hard at any given task. I can assure you that your priorities will change as you grow older. Very important that you value yourself and treat yourself like the valuable gift from God that you are.

4. Interests
Birds of a feather flock together. This is to say that if you are hanging around winners or others with a "can do" mind-set, you'll likely adapt to this same kind of thinking. Remember--"SUCCESS LEAVES CLUES!

5. Commitment
Feelings may change, commitments do not. "Success is getting up one more time than you fall." I have often wanted to give up, and then I must think to myself about what the consequences of giving up will be. Generally, this is more than enough of a motivation to make us stick to the task at hand even if we don't feel like it. When the task is achieved, Whow!--IT FEELS GREAT!

6. Encouragement
Be an encourager and comforter to friends that are feeling discouraged. I promise that you will not regret this as you will be encouraged by one, if not many, when you are feeling down. Encouragement and love are contagious qualities that can change the minds of the most stubborn and "hard-to-get- along-with" people you know. I have seen it happen over and over again.

Monday, July 4, 2011

GOAL SEEKER VS GOAL GETTER

"Goals are not only absolutely necessary to motivate us. They are essential to really keep us alive." -Robert H. Schuller

Berbicara soal goal dan tujuan hidup, di sinilah kita bisa bedakan dua tipe orang.

Orang yang pertama kita kategorikan sebagai goal seeker, dan kedua kita sebut goal getter. Goal seeker, adalah tipe orang yang selalu terus-menerus mencari goal. Goal getter adalah tipe orang yang selalu berusaha mewujudkan goal yang telah dicanangkannya. Semuanya memang berawal dan dimulai dari sebuah proses yang namanya goal.

Seorang yang belum memiliki goal yang jelas dan spesifik dalam hidupnya haruslah memulai langkah pertamanya dengan membuat suatu tujuan, yaitu menentukan apa yang sebenarnya mau diraih dalam hidup ini. Perilaku inilah yang sebenarnya kita sebut sebagai goal seeker.

Goal seeker biasanya memulai menemukan goal-nya baik dengan cara merenungkan goal hidupnya, ataupun dengan memodel orang-orang yang telah berhasil dalam pencapaian goal tersebut sehingga terinspirasi juga untuk mencapai goal yang sama bahkan lebih.

Siapa pun yang sukses, akan setuju bagaimana goal memiliki peranan yang penting dalam kehidupan mereka. Bahkan fisikawan Albert Einstein pun mengatakan, "If you want to live a happy life, tie it to a goal, not to people or things."

Ya, untuk menghidupi kehidupan yang bahagia, tentunya harus mengikatkannya dengan sebuah goal yang jelas. Namun, kehidupan tidaklah boleh berhenti hanya pada tataran membuat goal saja. Itulah yang banyak dialami oleh orang yang hidupnya mandek.

Setelah seorang goal seeker menemukan apa yang akan diraihnya, berikutnya dia harus bergerak menjadi goal getter. Dalam proses menuju goal getter, seorang goal seeker biasanya harus melewati banyak rintangan dan hambatan. Di sinilah godaannya. Sering terjadi, para goal seeker jadi frustrasi, menyerah bahkan akhirnya menyibukkan diri dengan terus-menerus mencari goal yang baru, dan mengganti goal lama yang sebenarnya belum pernah diusahakan sama sekali.

Inilah titik kritis di mana kalau goal seeker tidak mengalami transformasi menjadi seorang goal getter, waktu hidupnya akan terus-menerus dipakai untuk mencari goal yang baru. Akibatnya, setelah beberapa lama, entah beberapa bulan bahkan beberapa tahun, goal seeker tidak menghasilkan apa-apa sama sekali. Mereka kelihatan sibuk, tetapi pada dasarnya tidak menghasilkan apa pun (busy but not productive!).

Rasanya kita perlu mengingat kata-kata bijak dari co-writer buku The Power of Focus, yakni Les Brown yang mengatakan "You must take action now that will move you towards your goals. Develop a sense of urgency in your life."

Ya, diperlukan tindakan dan sesegera mungkin menjadi goal getter. Ambillah tindakan yang makin mengarahkan Anda menuju goal. Bangun terus sense of urgency dalam mencapai goal tersebut dengan melakukan transisi menjadi seorang goal getter, bukan hanya berhenti pada bermimpi saja.

Jadi manusia langka

Ada begitu banyak goal setter di dunia ini, tetapi sedikit sekali yang bisa berubah menjadi goal getter. Jadilah bagian dari manusia-manusia yang langka ini sehingga hidup Anda bukan hanya berisi ilusi semata, melainkan juga betul-betul menjadi sebuah realita yang bisa Anda nikmati, setelah Anda melewati berbagai rintangan di depan goal tersebut.

Dalam hal ini kita perlu belajar dari William Clement Stone, salah satu orang terkaya di Amerika yang merajut hidupnya dari mimpi-mimpi yang direalisasikannya sejak kecil. Bahkan, dengan beraninya, untuk mewujudkan mimpinya, sejak kecil dia nekat menjual koran di restoran.

Tahukah Anda, pada masa itu, menjual koran di restoran adalah hal yang tabu dan belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, dengan sikapnya yang persisten, ramah serta persuasif, akhirnya diceritakan bagaimana William meluluhkan hati para pemilik restoran untuk pertama kalinya mengizinkan seorang anak gembel menjual koran di restoran mereka.

Para pemilik restoran ini sama sekali tidak menyangka bahwa akhirnya, anak gembel yang gigih dengan semangatnya ini akan menjadi salah satu orang terkaya di Amerika yang memiliki bisnis asuransi terbesar pada masanya bahkan menjadi penulis berbagai buku tentang mental positif.

Dalam bukunya yang terkenal The Success System That Never Fails, dia berkata, "To solve a problem or to reach a goal, you don't need to know all the answers in advance. But you must have a clear idea of the problem or the goal you want to reach." Dengan kata lain, William mengingatkan para goal getter mereka perlu memiliki
kejelasan yang sangat jelas, spesifik dan detail tentang goal yang mau diraihnya.

Semakin spesifik dan semakin detail goal yang mau diraih bagi seorang goal getter, semakin jelas dan memudahkan bagi seorang goal getter untuk meraih goal yang telah ditentukannya saat mengalami transformasi dari goal seeker menjadi seorang goal getter.

Bahkan, Anda mungkin pernah mendengar ada pepatah yang mengatakan, "A goal properly set is halfway reached." Saat goal sudah ditentukan, perjalanan seorang goal seeker menjadi goal getter hanya tinggal setengah perjalanan lagi, tinggal membuat perencanaan-perencanaan dan tindakan-tindakan yang akhirnya akan mengarahkannya menjadi seorang goal getter.

Berikutnya, untuk memulai realisasi goal yang telah ditentukan, hal terpenting bagi seorang goal getter adalah menciptakan momentum. Momentum, berarti mengambil sebuah tindakan, entah tindakan itu besar ataupun kecil, tapi mulai melakukan aksi yang intinya membawanya semakin dekat pada tujuannya.

Tindakan itulah yang diperlukan agar mereka mulai termotivasi untuk segera mewujudkan goal itu. Benarlah sebuah kalimat bijak yang dikatakan oleh motivator nomor satu dunia, Anthony Robbins. "The most important thing you can do to achieve your goals is to make sure that as soon as you set them, you immediately begin to create momentum. "

Dalam rangka menciptakan momentum ini, biasanya hambatan yang paling sering dialami oleh seorang goal seeker adalah dalih (excuse) bahwa mereka membutuhkan dan mencari 'timing' atau waktu yang tepat.

Marilah kita percaya, waktu yang tepat itu tidak pernah ada. Waktu yang paling tepat itu sebenarnya sekarang. Marilah kita simak tip yang diberikan oleh Napoleon Hill, penulis buku Think and Grow Rich yang mengatakan, "Don't wait. The time will never be just right."

Sekali lagi, waktu yang terbaik tentu saja sekarang. Janganlah bermimpi bahwa akan ada waktu yang pas. Mulailah berani mengambil langkah-langkah awal yang yang akan menuntun kita semakin dekat dengan goal kita.

Yang jelas, penyebab seorang goal seeker gagal menjadi seorang goal getter adalah kurang atau tidak adanya tindakan untuk merealisasikan goal. Saya mengenal seorang sahabat saya yang punya rencana membangun bisnis media sejak 5 tahun yang lalu. Sampai sekarang pun dia masih terus mencita-citakannya.

Itulah contoh goal seeker yang terus-menerus berada di penantiannya. Jangan menjadi pribadi yang demikian. Marilah, mulai saat ini jadilah seorang goal getter bukan sekadar goal seeker yang selalu terus-menerus membuat goal.

Sumber: Goal Seeker vs Goal Getter oleh Anthony Dio Martin, Managing Director HR Excellency

Friday, June 10, 2011

INI NEGARA BERDAYA SAING TERBAIK DI DUNIA

Nur Farida Ahniar
JUM'AT, 10 JUNI 2011, 06:36 WIB


VIVAnews- World Economic Forum mengumumkan Global Competitiveness Report 2010-2011. Daya saing Indonesia sendiri menduduki peringkat 44 atau naik dibanding tahun lalu yaitu peringkat 54 dari 139 negara.

Peringkat ini dihitung dari berbagai data dan opini dari survey tahunan kepada para eksekutif yang dilakukan World Economic Forum bersama jaringan lembaga penelitian organisasi bisnis terkemuka, Partner Institutes.

Peringkat ini memiliki 12 indikator yaitu lembaga negara, infrastruktur, kesehatan lingkungan, ekonomi makro dan pendidikan dasar, pendidikan tinggi dan pelatihan. Indikator lainnya efisiensi pasar yang baik, efisiensi pasar tenaga kerja, pengembangan pasar keuangan, kesiapan teknologi kesiapan, ukuran pasar, kecanggihan bisnis dan inovasi. Berikut 4 negara dengan daya saing tertinggi di dunia.

1. Swiss

Swiss berhasil mempertahankan posisinya di urutan pertama, seperti tahun lalu. Swiss dinilai memiliki kapasitas sempurna untuk inovasi dan budaya bisnis yang canggih. Negara ini menduduki peringkat 4 untuk kecanggihan bisnis dan peringkat 2 untuk kapasitas inovasi.

Swiss juga memiliki institusi riset terbaik di dunia, dan kolaborasi kuat antara sektor akademis dan bisnis. Hal ini dikombinasi dengan pengeluaran perusahaan yang tinggi dalam sektor penelitian dan pengembangan (R&D) untuk memastikan semakin banyak penelitian mendukung produk dan proses bernilai. Juga diperkuat perlindungan hak intelektual dan dukungan pemerintah terhadap inovasi dan proses pengadaan barang.

Lembaga publik di Swiss juga dinilai paling efektif dan transparan di dunia (peringkat 5), atau lebih baik dibanding tahun lalu. Struktur pemerintahan juga memastikan tempat bermain (playing field) yang sama, meningkatkan kepercayaan bisnis, termasuk aturan hukum kuat, dan sektor publik akuntabel.

Daya saing negara ini juga ditopang oleh infrastruktur yang baik (peringkat 6), ketersediaan barang (peringkat 4), pasar keuangan yang maju (peringkat 8) dan lapangan kerja paling efisien di dunia (peringkat 2, sesudah Singapura). Eknomi makro Swiss melemah tahun lalu, namun bangkit kembali dan menjadi paling stabil di dunia (ranking 5) dimana saat ini banyak negara berjuang dengan keadaan ini.

2. Swedia

Swedia dipandang bergerak lebih maju dibanding Singapura dan Amerika Serikat, sehingga menempati peringkat dua. Negara ini mengambil keuntungan dari institusi publik paling transparan dan efisien di dunia. Rendahnya tingkat korupsi dan pemerintahnya merupakan salah satu paling efisien di dunia. Kepercayaan publik terhadap politisi menempati peringkat tiga.

Sementara institusi swasta juga mendapat rangking tinggi (peringkat 3), dengan prilaku etika perusahaan terbaik (ranking 1). Standar audit yang tinggi dan petinggi perusahaan berfungsi dengan baik. Sementara pasar barang dan keuangan sangat efisien, meski pasar tenaga kerja dianggap kurang fleksibel.

Kombinasi ini ditambah dengan kekuatan pendidikan yang difokuskna selama bertahun-tahun (peringkat 2 dalam bidang pendidikan tinggi dan pelatihan) dan adopsi teknologi terkuat di dunia (peringkat 1 dalam hal kesiapan teknologi). Swedia membangun budaya bisnis yang canggih (ranking 2) dan salah satu pemimpin inovasi (ranking 5). Karakteristik ini membuat Swedia memiliki produktivitas dan daya saing ekonomi yang tinggi.

3. Singapura

Singapura bertahan di posisi 4, dan masih menjadi urutan tertinggi dari Asia. Lembaga negara ini dinilai terbaik di dunia, menduduki peringkat 1 dalam mengurangi korupsi dan pemerintah yang efisien. Singapura menjadi tempat paling efisien untuk barang dan pasar tenaga kerja (ranking 1) dan peringkat 2 untuk kecanggihan pasar keuangan.

Singapura juga memiliki infrastruktur kelas dunia (ranking 5) baik jalan, pelabuhan, fasilitas transportasi udara. Selain itu daya saing negara ini ditopang fokus yang kuat pada pendidikan, menyediakan individual dengan skill yang dibutuhkan untuk ekonomi global yang cepat berubah. Untuk memperkuat daya saing, Singapura juga mengadopsi teknologi terbaru dan peningkatan teknologi.

4. Amerika Serikat

Peringkat Amerika Serikat terus turun sejak tahun lalu, jatuh dua level menempati urutan ke 4. Sementara banyak kategori membuat ekonomi produktif. Sejumlah kelemahan justri menurunkan peringkat AS selama 2 tahun terakhir.

Kelebihannya, perusahaan AS sangat canggih dan inovatif, didukung sistem universitas yang baik, mengkombinasikan sektor bisnis dalam riset dan pengembangan. Dengan ekonomi domestik terbesar di dunia, membuat peluang AS sangat kompetitif. Pasar tenaga kerja Amerika menempati peringkat 4, dimana mudah mencari pekerja dengan fleksibilitas upah yang signifikan.

Berikut 10 Besar Negara dengan Daya Saing Terbaik

Peringkat Negara Skor
1 Swiss 5,63
2 Swedia 5,56
3 Singapura 5,48
4 Amerika Serikat 5,43
5 Jerman 5,39
6 Jepang 5,37
7 Finlandia 5,37
8 Belanda 5,33
9 Denmark 5,32
10 Kanada 5,30

Sumber : Vivanews