Y O U R....V I S I O N....I S....O U R....M I S S I O N

Monday, February 28, 2011

ALFI USULKAN PPN FORWARDING 1%

Asosiasi Logistik dan Forwarding Indonesia / ALFI (dulu Gafeksi) mengusulkan kepada pemerintah supaya dasar pengenaan pajak pertambahan nilai (PPN) atas pengangkutan jasa forwarder diperhitungkan kembali sehingga persentase PPN 10% dapat menjadi hanya 1%, mengingat hal itu untuk memacu daya saing.

Herry Susanto, Wakil Ketua Umum Bidang Kepabeanan ALFI kepada Ocean Week beberapa waktu lalu pernah menyatakan, bahwa pengenaan PPN 10% pada pengangkutan forwarder (freight forwarder) diberlakukan tanpa dasar perhitungan yang jelas.

"Harus ada perhitungan ulang karena spesifikasi jasa forwarder yang masuk dalam perhitungan pajak ini tidak jelas. Kami telah mengusulkan apa saja yang masuk dalam sektor forwarder. Dan dalam perhitungan kami, PPN untuk forwarder diusulkan 1%. Sekarang ini masalah tersebut sedang dibahas dengan pihak-pihak terkait," ujarnya.

Dia menceritakan, 15 tahun lalu, margin keuntungan freight satu peti kemas untuk perusahaan jasa bisa mencapai US$ 250. "Sekarang ini, untuk dapat untung US$ 25 saja sulit," ungkapnya.

Dengan demikian, perhitungan kembali dasar pengenaan PPN untuk freight forwarding diharapkan dapat memicu daya saing bisnis ini kembali.

Herry berharap pemerintah bisa mengerti aspirasi kalangan usaha ini. Seperti diketahui bahwa Shipping Line [maskapai pelayaran] untuk ocean freight [angkutan laut] tidak dikenai PPN karena penyerahan barangnya di luar wilayah pabean. Namun, di dalam negeri ini justru menekan karena biaya angkutan saja sudah tinggi. (ow)


Sumber: Ocean Week, No. 220/X, February 26 - March 10, 2011

Friday, February 25, 2011

SAFETY IN CONTAINER MOVEMENTS CONCERNS ILO

One in every six container journeys results in damaged cargo, and many incidents are caused by bad packing, according to a new report.

Feb 17, 2011


The risk of accidents in container shipping are increases as its market share increases, from about 16 percent of the world's movement of goods, according to an International Labour Organization report prepared for an ILO Global Dialogue Forum on Safety in the Supply Chain in Relation to Packing of Containers, set to be held in Geneva, Switzerland on Feb. 21-22. The meeting will seek a common approach throughout the supply chain to ensure the application of the appropriate standards for packing containers.

Container shipped began in 1956, and today, 20-, 40- and 45-foot-long international freight containers can carry tons of cargo and support as many as nine similarly loaded containers, according to ILO. Their use continues to increase, with more and more of them carrying cargo from China to the United States and Europe.

"The majority of these containers are from established shippers with sophisticated dispatch facilities who understand the stresses and forces to which containers are subjected throughout the supply chain," according to the organization. "However, there is also evidence that many accidents in the sector are attributed to poor practices in relation to packing of containers, including overloading."

"If you think any fool can stuff a container, think again. One in six container journeys results in damaged cargo. Many incidents are caused, or made worse, by bad packing. Losses exceed $5 billion a year, according to the United Kingdom P&I Club, one of the oldest protection and indemnity insurers worldwide," said Marios Meletiou, ILO's senior Ports and Transports specialist. "This has caused major concern particularly because the victims of accidents attributed to poor practices in packing containers can be the general public, transport workers, or their employers, who have no control over the packing of containers.

"For a better understanding of the forces, packers should be invited to participate in interactive training programs that are readily accessible and appropriate. It would also be relevant to examine whether there is a need for accredited certification to demonstrate a candidate's successful completion of the course," said Meletiou.

One training program is the ILO Portworker Development Programme, which includes two training units on packing containers.

"The ILO report shows that there are a multitude of stakeholders in the various sectors involved in the supply chain. An analysis of these findings demonstrates that the stowage and securing of goods, the establishment of responsibilities and implementation of rules, regulations, and best practice, as well as the interlinking of all the players in the supply chain and communication (or lack thereof) will all have an impact on safety in the industry," said Alette van Leur, director of ILO's Sectoral Activities Department.


http://www.1105newsletters.com/t.do?id=7130083:26341782

Monday, February 21, 2011

PERUBAHAN, SUATU KENISCAYAAN YANG HARUS DILALUI

(Dari Pelantikan Jabatan Baru, Kepala Cabang dan Rotasi Kepala Cabang FPS Indonesia)


Di dunia ini tidak ada yang abadi selain perubahan. Kalimat ini tentunya sudah demikian akrab di telinga kita karena seringnya dilontarkan oleh para tokoh masyarakat dan cerdik cendikia melalui media massa. Pertanyaannya, apakah kita sudah siap terhadap segala perubahan baik yang cepat atau lambat yang harus kita lalui?

Manajemen Perubahan
Perjalanan hidup setiap orang bisa saja dijadikan model bagi perubahan yang terjadi di setiap fase kehidupan. Lihatlah, setiap orang memulai kehidupannya dari bayi, lalu menjadi kanak-kanak, lantas remaja, dewasa, berkeluarga, tua dan seterusnya. Demikian juga dari aspek yang lain, perubahan selalu menjadi tuntutan baik karena dorongan dari sisi internal kita maupun faktor eksternal yang mengharuskannya.

Atas dasar keniscayaan tersebut, manajemen sudah sepatutnya harus terus memberikan kesadaran (awareness) kepada seluruh karyawan betapa serangkaian perubahan harus diambil manajemen termasuk yang mungkin tidak terencanakan. Secara khusus, pemberian kesadaran itu dilakukan di setiap kesempatan, baik pada saat orientasi karyawan baru maupun di setiap kesempatan pertemuan (rapat, RTM, pelatihan, dsb.) dengan antara lain diberi tajuk “manajemen perubahan”.

ISO 9004:2009 1) (“Pengelolaan organisasi untuk sukses berkelanjutan”) secara khusus memberikan panduan agar organisasi dapat melewati masa-masa kedewasaan (maturity level) agar sukses berkelanjutan dapat dicapai. Standar ini memberikan panduan 5 tingkatan kedewasaan yang harus dilalui sampai pada tingkatan organisasi yang dinamakan organisasi dengan sukses berkelanjutan (sustainable organization).

OHSAS 18002:2008 2) (“Panduan implementasi OHSAS 18001:2007”) secara lebih khusus pula memberikan panduan dalam klausul 4.3.1.5 dengan judul klausul “manajemen perubahan” yang merupakan bentuk antisipasi bahwa potensi bahaya (baca : resiko, dalam konteks manajemen secara lebih luas) senantiasa berubah mengikuti pola hidup masyarakat baik lokal maupun global. Dan, manajemen perubahan, menurut standari ini, harus pula diterapkan dalam penegakan sistem manajemen.

Dari subjek “Perubahan Organisasi” RTM-12
Subjek tentang perubahan organisasi, yang merupakan “tinjauan wajib”, telah disampaikan dalam kesempatan Rapat Tinjauan Manajemen (RTM) ke-12 pada Desember 2010 yang lalu. Terdapat hal baru yang diperkenalkan maupun issue lama yang coba dipertegas dalam struktur organisasi yang baru itu. Termasuk dalam hal yang baru adalah terdapatnya General Manager (GM) dan dua Assitant General Manager yang masing-masing untuk wilayah barat (Asst. GM – West Area) dan wilayah timur (Asst. GM – East Area) di dalam struktur.

Tanggung jawab area barat meliputi kinerja dari cabang-cabang : Medan, Jakarta, Cikarang, Bandung, dan Cirebon. Sedangkan untuk wilayah timur meliputi kinerja cabang-cabang : Semarang, Jepara, Solo, Yogya, Denpasar dan Mataram.

Dengan ditetapkan “pos” baru tersebut diharapkan dapat diterapkan penajaman prioritas terutama dalam menerapkan strategi penetrasi pasar di masing-masing area sesuai kekhasan dan potensinya.

Issue lama adalah menyangkut penegasan kembali tentang posisi keuangan cabang dalam kaitan pengkoordinasian dengan kepala cabang terkait serta hubungan supervisinya dengan keuangan pusat.



Wacana tentang perubahan-perubahan manajemen yang akan dilakukan di tahun 2011 juga telah disampaikan tim manajemen utamanya terkait dengan pembenahan di sisi manajemen sumber daya manusia yang secara vertikal mengharuskan adanya perubahan dan pembakuan struktur organisasi.

Get set ...
Tema RTM-12 “On your mark” yang merupakan aba-aba awal, dilanjut dengan aba-aba kedua “Get set ...” dengan ditandainya pelantikan “pejabat-pejabat” baru di lingkungan FPS Indonesia. Perubahan yang terjadi adalah sebagaimana tabel berikut ini :


Nama "Pos" Lama "Pos" Baru
Marsanto Kepala Cabang Jakarta Kacab Jakarta & Asst.GM - West Area
Husni Kepala Cabang Surabaya Kacab Surabaya & Asst.GM - East Area
Ahmad Zuher Kepala Cabang Tangerang Kepala Cabang Cikarang
Eko Sutiono Kepala Cabang Semarang Kepala Cabang Solo
Dwi Asis Budianto Kepala Cabang Solo Kepala Cabang Bandung
Moh. Nurdin Pjs.Kepala Cab. Yogya Kepala Cabang Yogyakarta
Eka Kamiadi Kepala Cabang Bandung Cargo Consultant Bandung
Wenda Wipayana Koord.CS/Doct Ekspor Kepala Cabang Tangerang
Hasto Hanarto Kepala Cabang Bandung Interlogistik Pusat
Okky Hanipradja Kepala Cabang Cikarang Manajer Konsol Intans Segara

Meskipun perubahan yang dilakukan bukanlah hal yang luar biasa, namun dalam sambutan pelantikan Pak Hendi mengharapkan bahwa orang-orang “luar biasa” yang sudah dilantik itu mampu juga membentuk tim yang luar biasa pula untuk mendukung pencapaian target khususnya di tahun 2011 mendatang bagi cabangnya masing-masing. Sebagaimana telah diberitakan sebelumnya, target-target telah ditetapkan dengan rata-rata target secara keseluruhan sebesar 200%.

Pak Fentje, yang juga hadir dalam pelantikan person “baru” di lingkungan Intans Segara mengajak agar kita senantiasa memperbarui paradigma kita termasuk dalam mendefinisikan arti “jatuh” yang dengan mengutip karya John C Maxwel, artinya menjadi “jatuh ke depan (falling forward)”, bahwa selalu ada hal positif yang bisa diambil hikmahnya untuk memulai lagi (opportunity for improvement).

Pada kesempatan yang sama dalam sambutannya, Pak Iskandar berpesan pentingnya kita membekali diri menuju pribadi “sukses dan beruntung”. Beberapa langkah yang harus dilakukan yaitu : lakukan hal yang terbaik, gunakan intuisi, gunakan imajinasi, fokus menjadi pemenang, sikap mental positif, dan networking atau perbanyak pertemanan.

Upacara pelantikan dilakukan di lantai 10 Graha Iska 165, Jakarta pada hari Senin tanggal 21 Februari 2011 dengan dihadiri oleh jajaran manajemen pusat.

Selanjutnya, kepada “pejabat baru” kami ucapkan selamat bertugas dan menempati pos yang baru.


(JS)

Catatan :
1) ISO 9001:2009 – Managing for the sustained succes of an organization adalah salah satu panduan dalam menerapkan ISO 9001:2008 yang merupakan keluarga Standar ISO 9000.
2) OHSAS 18002:2008 – Occupational health and safety management systems – Guidelines for the implementation of OHSAS 18001:2007 adalah panduan utama dalam penerapan OHSAS 18001:2007 atau SMK

Thursday, February 10, 2011

MULTIMODAL TRANSPORT BL THROUGH CIKARANG DRY PORT

Cikarang Dry Port is strategically located in Jababeka Industrial Estate, which lies in the heart of the biggest manufacturing zone of West Java, as well as the country, home to a dozen Industrial Estates with more than 2.500 industrial companies, both multinationals and small and medium enterprises (SME). Approximately 200 hectares are allocated for the Dry port which is easily accessible by highway and railway system.

Cikarang Dry Port offers a one stop service for cargo handling and a logistics solution for international export and import, as well as domestic distribution. It provides integrated port and logistics services with dozens of logistics and supply chain players, such as exporters, importers, carriers, terminal operators, container freight station, bonded warehouse, transportation, third party logistics (3PL), empty container depot, as well as banks and other supporting facilities. Being the extension gate of Tanjung Priok International Port, document formalities for port clearance and customs clearance will be completed in the Cikarang Dry Port. It is like bringing port to the industrial manufacturing region, that serves both as a Port of Origin and Port of Destination.

Cikarang Dry Port is part of several programs by the government of Indonesia, among which: Customs Advance Trade System and Indonesian Logistics Blue Print, which are intended to streamline and increase country competitiveness in term of supply chain and distribution of goods. The SAFE Framework of the World Customs Organization and other International standard compliances shall be applied to enhance international trade and return value to supply chain players both in Indonesia and overseas.

Cikarang Dry Port is appointed as the firs Integrated Customs Services Zone (KPPT - Kawasan Pelayanan Pabean Terpadu) with international port code "IDJBK".

Cikarang Dry Port is the suitable place for supply chain activities - bringing all parties in one place for better coordination and increased productivity.

Benefit
1. Multimodal Transport Bill of Lading.
2. Port and manufacturing in the same area.
3. State of Art Information Technology.
4. Extended gate of Tanjung Priok Port.
5. Securing & monitoring by additional electronic seal.
6. Managed risk.
7. Worldwide network.
8. Customs & Quarantine Clearance.
9. Streamline process, time and cost.

Services
Simply put "IDJBK" Port Code as Place of Receipt or Place of Delivery on Shipping instruction/booking with Maersk Line, MCC Transport and Safmarine representative around the world. Extend CFR and CIF to Cikarang Dry Port to make cargo reach the biggest industrial area in West Java and also more benefit for FOB at Cikarang Dry Port.


Source: Indonesia Shipping Gazette,February 7, 2011

Thursday, December 30, 2010

MENJADI MANUSIA LUAR BIASA

Dari Rapat Tinjauan Manajemen XII


Di dunia marketing kita tahu pentingnya kita menjadi orang yang “BEDA” dari kebanyakan orang lain sehingga pelanggan (atau calon pelanggan) akan mendapatkan gambaran karakteristik khas yang kita miliki yang diharapkan juga dapat memberikan nilai tambah. Ternyata, menjadi orang atau sesuatu yang beda tadi tidaklah cukup pada saat ini, kita harus menjadi orang yang “LUAR BIASA” untuk dapat mencapai prestasi yang maksimal di tahun-tahun mendatang.

Wacana yang memotivasi ini muncul dalam kesempatan penyelenggaraan Rapat Tinjauan Manajemen ke-12 (RTM-XII) PT FPS Indonesia yang berlangsung pada 28-29 Desember 2010 di Graha Iska 165, Jakarta. Sebagaimana biasa, rapat ini diikuti oleh para kepala cabang seluruh Indonesia dan tim manajemen FPS Indonesia pusat.

Kenaikan Budget 100%

Agenda rutin penyelenggaraan RTM adalah verifikasi, evaluasi, maupun rencana tindak lanjut (action plan) pencapaian kinerja baik terhadap proses bisnis itu sendiri maupun proses manajemen pada umumnya dalam rangka penerapan sistem manajemen mutu (SMM) yang berdasar pada standar ISO 9001:2008. Sementara itu, agenda RTM di penghujung tahun juga memasukkan aspek perencanaan dalam bentuk pembahasan Budget dan pemastian bahwa action plan yang dicanangkan cabang-cabang relevan dengan besarnya angka Budget yang “diajukan”.

Besaran angka Budget cabang-cabang berkisar antara 30% sampai dengan di atas 2000%. Cabang dengan pencapaian bagus di tahun 2010 kenaikannya tidak terlalu besar. Tapi, cabang dengan pencapaian kurang bagus di tahun 2010 akan mengalami kenaikan berkali-kali lipat. Meski demikian, secara keseluruhan (corporate) kenaikan budget tersebut adalah sebesar 100% (net profit) dari estimasi pencapaian 2010.

Menjadi “manusia luar biasa” menjadi relevan bagi setiap cabang untuk paling tidak mempertahankan kinerja terbaik yang telah dicapai dalam 2010, dan bahkan sangat relevan khususnya bagi cabang-cabang yang masih belum stabil perolehan dan pencapaian / realisasi budgetnya.

Perkuat Diri Masing-masing Cabang

Salah satu hal penting lain yang disampaikan dalam RTM adalah penyampaian rancangan revisi struktur organisasi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak menguntungkan di masa mendatang. Hal-hal yang tidak menguntungkan yang kita ketahui bersama itu misalnya adalah adanya penunjukan agent baru oleh FPS Singapore untuk Bangkok, Durban, dan juga Hongkong.

Terkait dengan rancangan itu, disampaikan juga hasil proses analisis pekerjaan yang berupa uraian pekerjaan (job description). Jobdes revisi ini merupakan rangkuman masukan dari cabang-cabang yang kemudian di-split lagi sesuai kondisi ideal yang diharapkan di masa mendatang. Setidaknya ada 37 pos / jabatan yang telah teridentifikasi dan penerapan di cabang-cabang diharapkan mengacu pada dokumen ini dengan adaptasi sesuai dengan besar dan kapasitas cabang.

Tujuan dari revisi struktur dan refresh jobdes tersebut juga dalam rangka penguatan cabang-cabang termasuk kemungkinan penciptaan bisnis baru.

“Cabang port (cabang yang melakukan konsol, red) tidak boleh tergantung pada cabang lain (cabang supporting, red). Dan, diharapkan nantinya Manajer Area dapat menciptakan peluang bisnis baru”, demikian disampaikan Pak Iskandar dalam membuka rapat dua hari itu.

Pembekalan
Dalam kesempatan RTM itu diberikan pula pembekalan yaitu semacam “resep” bagaimana menjadi orang yang luar biasa tadi dalam dua sesi training : training motivasi oleh Pak Hendi dan leadership training bertajuk “Manager yang Efektif” oleh Pak Oktaf dari OPZ & Rekan Consulting.

Untuk menjadi orang yang luar biasa dibutuhkan setidak-tidaknya :
- Semangat,
- Reputasi Diri (yaitu jujur dan amanah),
- Inovatif dan Kreatif,
- Percaya Diri, dan
- Berani Mengambil Resiko.


(Jaeroni Setyadhi)

Tuesday, December 21, 2010

ANTUSIASME LUAR BIASA

Tak habis pikir, mengapa massa begitu antusias menonton tim nasional Indonesia pada pertandingan Piala Suzuki AFF 2010.

Penonton begitu membludak memadati Stadion Utama Gelora Bung Karno. Luar biasa dukungan kepada tim nasional yang lolos ke final dengan rekor sempurna, menang lima kali dari tiga partai penyisihan grup serta dua pertandingan tandang dan kandang di semifinal.

Tidak mudah menjelaskan, mengapa ribuan orang bersedia berdesak-desakan dan menunggu waktu panjang untuk mendapatkan karcis masuk. Sulit dijelaskan pula mengapa begitu banyak orang sangat kecewa dan frustrasi sampai melakukan perusakan hanya karena tidak mendapatkan karcis masuk setelah antre panjang dan lama.

Ada yang berusaha menjelaskan, masyarakat Indonesia barangkali sudah terlalu lama haus menonton bola yang memberikan kebanggaan dan kegembiraan. Masyarakat Indonesia sudah lama menanti prestasi dalam bidang sepak bola, yang banyak disukai di negeri ini.

Setelah berkali-kali dikecewakan oleh prestasi tim nasional yang buruk, masyarakat Indonesia seakan mendapat keceriaan besar oleh penampilan kesebelasan Indonesia yang mengesankan sampai masuk ke final. Ekspresi kegembiraan itu diperlihatkan secara mencolok.

Permainan bola sendiri, termasuk banyak permainan lainnya, memiliki daya tarik alamiah, lebih-lebih karena manusia memang makhluk yang suka bermain, homo ludens. Lebih dari itu, pertandingan sepak bola tidak lagi hanya sekedar ekspresi homo ludens,tetapi mengalami evolusi yang mengesankan sebagai tontonan dan hiburan, bahkan bisnis yang menggiurkan.

Sebagai permainan yang mengandung unsur hiburan dan tontonan, pertandingan Piala Suzuki AFF 2010 di Stadion Utama Bung Karno menggeser jauh ke belakang persoalan penting dalam bidang sosial, ekonomi, dan politik.

Dalam pengalaman banyak negara, sepak bola dan berbagai olah raga lain justru digunakan sebagai sarana dan tujuan pembentukan karakter bangsa. Sebab, dalam olah raga seperti sepak bola sangat ditekankan kerja keras, kedisiplinan, profesionalitas, dan rasa tanggung jawab.

Jelas sekali, pencapaian dalam bidang sepak bola atau olah raga lain merupakan ekspresi kemajuan bangsa yang bersumber pada etos kerja tinggi dan kedisiplinan. Maka tantangannya bagaimana melipatgandakan upaya menciptakan kemajuan dalam bidang olah raga. Kemajuan dalam bidang olah raga seperti persepakbolaan akan menggerakkan semangat dan pikiran untuk mendorong kemajuan di bidang kehidupan lainnya.

Harapannya, bagaimana bangsa dan Pemerintah Indonesia menggunakan momentum antusiasme dari pertandingan sepak bola sekarang ini untuk mendorong kegairahan dalam pembinaan olah raga maupun pengembangan berbagai aspek kehidupan lainnya.


Sumber: Tajuk Rencana Kompas, 21 Desember 2010)

Friday, December 10, 2010

MAJOR REVISIONS TO INT'L STANDARD

Background
Eight years ago, the International Standards Organization (ISO) issued the 19011 standard for quality and environmental management system auditing. It combined the separate quality and environmental management system audit standards into one. Good step. Unfortunately, the pressure to do this was coming from the conformity assessment community (sometimes called registration or certification) and the big multinational firms. The first 19011 standard reflected this bias and the USA delegation voted “no.” It passed anyway. About three years later, the USA released a supplement to the international version, giving additional guidance on how to apply these principles to small and medium enterprises (SMEs) and internal (first-party) audits. The ANSI version of 19011, with the supplement, was a market success and outsold the international version by a wide margin.

Shortly after the ANSI version came out, the international committee started its required review of the original 19011. ISO procedures require this every five years, although it is often stretched out longer. The choices are revise, reissue, or reject. It was pretty obvious that the 19011 needed revision. Unfortunately, the international committee was upset with the Americans for making the standard better, so we were ignored for several years. The work stalled until a couple years ago, when some fresh faces joined the group, and USA participation was once more welcomed.

In the mean time, the Conformity Assessment committee decided to take over audit standard development for third-party registration/certification. A new committee (17021) was assigned the task. So the 19011 standard revisions will now cover internal audits and supplier audits. Hurray!

Major Strengths
* The auditing standard now covers all management system auditing: quality, environment, safety, security, etc. This fits right in with the trend of organizations integrating their management approaches. The revision is coming closer to other audit standards, such as the yellow book (US Government Accountability Office – GAO) and the red book (Institute of Internal Auditors – IIA).
* As mentioned above, third-party conformity assessment (registration/certification) audits will have their own new standard: ISO 17021. Publication of the new 17021 will probably occur quite soon, as the people writing it have a common focus and the intended audience is smaller.
* For the first time, the concept of risk appears. This is the risk of performing a bad audit, having incorrect conclusions, and not the risks taken by the auditee. For several decades, the IIA has included the concept of audit risk under their banner called quality assurance. While the concept is only briefly discussed in this 19011 revision, it is a good start for a long journey.
* Guidance on training, competency and evaluation of auditors is greatly improved. Gone are the tables of degree requirements, years of service, audits observed or performed, etc. The discussion is quite rational on what competencies are desired, how to achieve them, and how to measure them. Specific examples for various management systems and business sectors are given in an informative annex. The thoroughness of this information will overwhelm many users who just want to get or maintain their registration certificate.
* Sampling strategy is presented in an informative annex. It covers both statistical and judgment sampling in a non-technical manner.
* Most of the “practical Help” information from the earlier USA additions was transferred to this revision. While the additional material makes the document nearly 70 pages long, it significantly increases the understanding. It should result in better internal and supplier audits.

Major Weakness
* The standard continues to use the term client without clear definition. To say that the audit client is the “organization or person requesting an audit” is unsatisfactory. A clarifying note says, “The audit client may be the auditee organization or any other organization which has the regulatory or contractual right to request an audit.” This makes it sound like the majority of internal or supplier audits are requested by the group about to get audited. My experience says it is just the opposite. We should remove this debris for conformity assessment days and be truthful. Either remove the term or define the client as the person(s) in charge of the audit program.


Next Steps
The international committee has recommended the revision as a Draft International Standard (DIS), meaning all of the heavy lifting is done and the proposal is ready for release to the user community for comment. Our USA delegation meets in November to prepare the USA vote on this advancement to DIS. Unfortunately, the committee team leaders feel the revisions are not ready for the DIS stage. They suggest this draft contains too many new concepts, which may not be accepted by the user community, without stating what might be objectionable. This puts us in a very weak position to affect change. The strengths identified above are needed in today’s world of economic uncertainty, advancing technologies, and ecosystem challenges. Promoting sound management system audits, as described in the draft 19011, will make the world a better place to live and work.

The international working group plans to meet in Guadalajara, Mexico, in early March 2010. Comments will be collected, discussed, and another draft prepared. Once it achieves the DIS (draft international standard) level, ISO rules require it be made available to the public for comment. (Available does not mean free, however.) I am optimistic that the new and improved standard will be released a year from now.

Source : http://auditguy.blogspot.com/2009_10_01_archive.html