Y O U R....V I S I O N....I S....O U R....M I S S I O N

Showing posts with label RTM. Show all posts
Showing posts with label RTM. Show all posts

Thursday, December 30, 2010

MENJADI MANUSIA LUAR BIASA

Dari Rapat Tinjauan Manajemen XII


Di dunia marketing kita tahu pentingnya kita menjadi orang yang “BEDA” dari kebanyakan orang lain sehingga pelanggan (atau calon pelanggan) akan mendapatkan gambaran karakteristik khas yang kita miliki yang diharapkan juga dapat memberikan nilai tambah. Ternyata, menjadi orang atau sesuatu yang beda tadi tidaklah cukup pada saat ini, kita harus menjadi orang yang “LUAR BIASA” untuk dapat mencapai prestasi yang maksimal di tahun-tahun mendatang.

Wacana yang memotivasi ini muncul dalam kesempatan penyelenggaraan Rapat Tinjauan Manajemen ke-12 (RTM-XII) PT FPS Indonesia yang berlangsung pada 28-29 Desember 2010 di Graha Iska 165, Jakarta. Sebagaimana biasa, rapat ini diikuti oleh para kepala cabang seluruh Indonesia dan tim manajemen FPS Indonesia pusat.

Kenaikan Budget 100%

Agenda rutin penyelenggaraan RTM adalah verifikasi, evaluasi, maupun rencana tindak lanjut (action plan) pencapaian kinerja baik terhadap proses bisnis itu sendiri maupun proses manajemen pada umumnya dalam rangka penerapan sistem manajemen mutu (SMM) yang berdasar pada standar ISO 9001:2008. Sementara itu, agenda RTM di penghujung tahun juga memasukkan aspek perencanaan dalam bentuk pembahasan Budget dan pemastian bahwa action plan yang dicanangkan cabang-cabang relevan dengan besarnya angka Budget yang “diajukan”.

Besaran angka Budget cabang-cabang berkisar antara 30% sampai dengan di atas 2000%. Cabang dengan pencapaian bagus di tahun 2010 kenaikannya tidak terlalu besar. Tapi, cabang dengan pencapaian kurang bagus di tahun 2010 akan mengalami kenaikan berkali-kali lipat. Meski demikian, secara keseluruhan (corporate) kenaikan budget tersebut adalah sebesar 100% (net profit) dari estimasi pencapaian 2010.

Menjadi “manusia luar biasa” menjadi relevan bagi setiap cabang untuk paling tidak mempertahankan kinerja terbaik yang telah dicapai dalam 2010, dan bahkan sangat relevan khususnya bagi cabang-cabang yang masih belum stabil perolehan dan pencapaian / realisasi budgetnya.

Perkuat Diri Masing-masing Cabang

Salah satu hal penting lain yang disampaikan dalam RTM adalah penyampaian rancangan revisi struktur organisasi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak menguntungkan di masa mendatang. Hal-hal yang tidak menguntungkan yang kita ketahui bersama itu misalnya adalah adanya penunjukan agent baru oleh FPS Singapore untuk Bangkok, Durban, dan juga Hongkong.

Terkait dengan rancangan itu, disampaikan juga hasil proses analisis pekerjaan yang berupa uraian pekerjaan (job description). Jobdes revisi ini merupakan rangkuman masukan dari cabang-cabang yang kemudian di-split lagi sesuai kondisi ideal yang diharapkan di masa mendatang. Setidaknya ada 37 pos / jabatan yang telah teridentifikasi dan penerapan di cabang-cabang diharapkan mengacu pada dokumen ini dengan adaptasi sesuai dengan besar dan kapasitas cabang.

Tujuan dari revisi struktur dan refresh jobdes tersebut juga dalam rangka penguatan cabang-cabang termasuk kemungkinan penciptaan bisnis baru.

“Cabang port (cabang yang melakukan konsol, red) tidak boleh tergantung pada cabang lain (cabang supporting, red). Dan, diharapkan nantinya Manajer Area dapat menciptakan peluang bisnis baru”, demikian disampaikan Pak Iskandar dalam membuka rapat dua hari itu.

Pembekalan
Dalam kesempatan RTM itu diberikan pula pembekalan yaitu semacam “resep” bagaimana menjadi orang yang luar biasa tadi dalam dua sesi training : training motivasi oleh Pak Hendi dan leadership training bertajuk “Manager yang Efektif” oleh Pak Oktaf dari OPZ & Rekan Consulting.

Untuk menjadi orang yang luar biasa dibutuhkan setidak-tidaknya :
- Semangat,
- Reputasi Diri (yaitu jujur dan amanah),
- Inovatif dan Kreatif,
- Percaya Diri, dan
- Berani Mengambil Resiko.


(Jaeroni Setyadhi)

Friday, August 6, 2010

ONE HEART, ONE TEAM FOR SUCCESS

Dari RTM-XI FPS Indonesia


Salah satu proses manajemen yang tidak boleh ditinggalkan adalah evaluasi kinerja. Dalam kaitan dengan penyelenggaraan rapat tinjauan manajemen (RTM), evaluasi kinerja menjadi masukan tinjauan yang selanjutnya dijadikan rujukan bagi perencanaan manajemen. Sebab, rapat tinjauan merupakan salah satu proses perencanaan ke depan berdasar pada masukan-masukan tinjauan sebagaimana dipersyaratkan dalam klausul 5.6.2 ISO 9001:2008 termasuk kinerja.

Kinerja Cabang
Salah satu hal yang menggembirakan dari kinerja cabang adalah pencapaian yang diraih oleh Cabang Solo, Denpasar dan Tangerang yang mencapai bahkan melebihi target. Kegembiraan ini lebih-lebih karena pencapaian diraih setelah diklasifikasinya cabang-cabang menjadi kategori A, B, dan C. Ketiga cabang di atas masing-masing berkategori C untuk Solo dan Tangerang dengan target net profit minimal Rp 75 juta setahun, dan kategori B untuk Cabang Denpasar dengan target net profit minimal Rp 500 juta setahun. Lebih jauh, apresiasi pantas diberikan kepada Cabang Denpasar dan Cabang Solo yang secara konsisten pencapaian net profitnya lebih dari 100% dari waktu ke waktu. Tercatat, Cabang Denpasar konsisten dengan pencapaian lebih dari 100% sejak RTM-IV (April 2008) dan Cabang Solo sejak RTM-VIII (Juli 2009).

Project dan Program KPR
Termasuk dalam evaluasi kinerja adalah rekomendasi dari RTM sebelumnya. Program yang direkomendasikan dari RTM yang lalu yang dievaluasi dalam RTM yang berlangsung pada 3-4 Agustus 2010 lalu adalah Project dan Program KPR (kreativitas, prestasi, rewards).

Rekomendasi untuk mencari project cargo ditujukan agar target yang tertuang dalam budget 2010 dapat dicapai secara maksimal. Dari 13 cabang, hanya 9 cabang yang sudah mulai mencoba menggarap project handling ini. Dan, dari 9 cabang itu, hanya Jakarta, Surabaya, Yogya, dan Medan yang telah merealisasikannya. Denpasar dan Solo yang disebut di atas, yang pencapaiannya melebihi budget justeru belum merambah “produk” yang satu ini. Artinya apa? Artinya, bahwa bisnis konsolidasi / LCL yang merupakan core business selama ini adalah bisnis inti yang membedakan dari bisnis lain di lingkungan Iska Niaga Darma sebagaimana ditinjau dari “kesejarahan” bahwa FPS adalah “divisi laut (seafreight) dari Internusa”. Atau meminjam istilah yang diberikan Pak Iskandar, “IHB adalah ibunya FPS”.

Adapun Program KPR (kreativitas, prestasi, rewards) boleh dibilang merupakan penyediaan “ruang” inovasi bagi cabang-cabang, tujuannya sama seperti di atas, dalam rangka memenuhi target yang dibudgetkan. Beberapa cabang telah mendeklarasikan nama programnya, antara lain Cabang Medan dengan namanya “Do the Best”. Masih belum memperlihatkan hasilnya memang. Tapi, dengan keyakinan penuh sesepuh kita Pak Nico Kalangie memberi motivasi kepada teman-teman cabang yang lain.

“Dengan penamaan tersebut, kita inginkan terwujudnya satu hati, satu tim untuk mencapai kesuksesan bersama. One heart, one team for success”, tandas Pak Nico dalam menguraikan pelaksanaan program-program yang dilaksanakan oleh Cabang Medan itu.

Program KPR dari cabang lain dengan penamaannya antara lain : Save the Branch (Cikarang), LEAD (listen, explore, analyze, do) (Tangerang), dan sejumlah program lainnya.

Penyerahan Sertifikat OHSAS 18001:2007 oleh NQA
Sebagaimana kita maklumi, tindak lanjut dari rekomendasi RTM sebelumnya (RTM-X) adalah juga berbentuk penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3) di FPS Cabang Jakarta dengan standarnya OHSAS 18001:2007 1). Penerapan standar ini juga sekaligus dalam rangka memenuhi persyaratan (calon) pelanggan (customer requirements) khususnya yang bergerak di bidang project. Implementasi yang normalnya memakan waktu 3-4 bulan itu, alhamdulillah, berkat “one-heart” dan “one team” dari seluruh penghuni Graha Iska 165 sebagaimana yang Pak Nico istilahkan itu, implementasi dapat ditempuh hanya dengan 1 ½ bulan, dengan pernyataan badan sertifikasi, NQA, “recomended to be certified” di akhir kesimpulan 2nd stage initial audit pada 23 Juni 2010.

Penyerahan secara formal Sertifikat OHSAS 18001:2007 ini dilakukan oleh Pak Putra dari NQA kepada Pak Hendratmoko di awal sesi RTM ini.

Dengan dimilikinya sertifikat OHSAS 18001 ini, kesempatan untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan project bagi teman-teman cabang semakin terbuka dengan, tentu saja, memakai “FPS-Jakarta” sebagai benderanya.

Manajemen Perubahan 2)
Selaku pucuk pimpinan, Pak Iskandar secara eksplisit baik di awal maupun di sesi penutupan RTM menegaskan pentingnya kesadaran tentang perubahan. Dalam konteks organisasi, tentunya hal ini dapat diterjemahkan sebagai manajemen perubahan (change management).

Perubahan yang sangat cepat di lingkup global maupun makro demikian pesatnya. Sebut saja misalnya, perubahan teknologi informasi yang sangat gencar, Asean Single Windows (ASW) yang akan diberlakukan pada 2012 dalam rangka menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN pada 2015, dan oleh karena itu adaptasi terhadap pemberlakuan National Single Windows (NSW) secara penuh pada Oktober 2010 mesti dipercepat pemahamannya khususnya prosedur-prosedur yang berbasis I.T dan eksesnya di lingkungan Iska Niaga Darma. Demikian juga perubahan di dunia bisnis dan perdagangan pada umumnya, perlu adaptasi dengan mempertimbangkan tingkat percepatannya.

Perubahan proses ekspor-impor dalam rangka INSW itu pulalah yang menjadikan diskusi operasional yang diagendakan dalam RTM ini begitu sengit. Dan secara umum peserta diskusi cukup dapat memaklumi terhadap permasalahan yang demikian banyak di sisi operasional akhir-akhir ini.

Terkait dengan keniscayaan terhadap respon atas perubahan itu, kebijakan lain terkait dengan teknologi informasi dan kepegawaian juga mendapat perhatian dalam RTM ini. Dan, penuangan kebijakan-kebijakan yang nanti akan diimplementasikan mudah-mudahan selaras dengan kecepatan perubahan eksternal.


(JS)



--------------------------
1) OHSAS = Ocupational Health and Safety Assessment Series
2) Penyadaran (awareness) tentang manajemen perubahan menjadi keharusan sesuai klausul 4.3.1.5 OHSAS 18002:2008.

Thursday, December 24, 2009

KNOWING YOUR CUSTOMER (KYC)

Istilah di atas bagi kita tentunya bukan asing lagi. Sejak “National Sales Meeting” Ambarawa 2005 sikap preventif dan kehati-hatian dengan mengetahui siapa pelanggan kita sudah disampaikan manajemen kepada peserta rapat yang merupakan wakil dari divisi atau cabangnya sebagai bagian dari pengelolaan resiko (risk management) bagi bisnis di lingkungan Iska group.

Sikap preventif itu kembali ditekankan oleh Bapak Iskandar Zulkarnain dalam kata pembukaan pelaksanaan Rapat Tinjauan Manajemen IX (RTM-IX) FPS Indonesia yang berlangsung pada 21 -22 Desember 2009 yang lalu. Rapat yang diselenggarakan di gedung baru, Graha Iska 165, Jl. Pramuka, Jakarta itu diikuti oleh 13 kepala cabang beserta tim manajemen pusat.

A/R yang “Menghantui”

Apa yang disampaikan Pak Is itu tentu saja sangat beralasan. Selain porsi piutang yang lebih dari 60 hari rata-rata secara nasional berkisar antara 28% - 30%, dan proses penagihan yang menyita banyak waktu, serta dari pembicaraan kecil dengan beberapa kepala cabang bahwa A/R yang outstanding khususnya yang terlalu lama itu bagaikan “hantu” yang cukup mengganggu pelaksanaan pekerjaan khususnya dalam mengejar target-target yang telah ditetapkan.

Lebih dari itu, porsi 28% - 30% itu akan sangat beresiko mengingat rata-rata margin jual kita, sebagaimana kita ketahui, berkisar antara 10% - 30%. Bahkan jika kita bicara produk LCL resiko ini bertambah-tambah lagi karena untuk beberapa destinasi harga jual LCL ini bahkan negatif. Cobalah ilustrasikan, sekiranya 30% piutang itu tidak tertagih maka tidak saja terjadi “ketiadaan nilai tambah” tapi juga cash-flow bakal terganggu bahkan modal kerja bakal tergerogoti.

Untuk meminimalkan potensi kerugian yang mungkin terjadi itu tentu saja dibutuhkan kerja tim yang saling bersinergi. Untuk mencapai sinergi tersebut bisa saja setiap cabang membuat dan menetapkan target / sasaran (objectives) tidak saja bagi para marketing tapi juga untuk mereka yang berada dalam team support.

Prinsip 5 C

Sekedar mengingatkan, dan bisa juga sebagai “persyaratan” tambahan dalam mempertimbangkan bisa tidaknya kredit / pembayaran tempo bisa diberikan atau berapa lama outstanding dapat ditolerir terhadap customer tertentu adalah yang kita kenal sebagai 5 C, yaitu :

- character (karakter, kepribadian atau integritas pengutang),

- capital (modal),

- collateral (jaminan),

- capacity (kapasitas usaha), dan

- condition (kondisi usaha dan ekonomi).

Untuk capital dan collateral, jika ada dan berupa barang tak bergerak periksalah apakah barang itu sudah dijaminkan kepada pihak lain (misalnya bank) atau tidak. Menanyakan bank yang menjadi relasi bisnisnya yang nanti dijadikan bahan untuk pemeriksaan silang (cross check) perlu dilakukan. Kapasitas dan kondisi usaha bisa juga dipandang sebagai jaminan. Semakin besar usaha yang dijalankan dan semakin baik pengelolaannya akan memberikan keyakinan kepada kita akan kemampuan membayar dari customer tersebut.

SDM yang Kompeten

Selain penegasan kembali tentang perlunya mengetahui profile dari customer yang kita tangani, pada kesempatan RTM itu juga ditekankan perlunya SDM yang kompeten secara internal. Hal ini terutama dikaitkan dengan akan diberlakukannya perdagangan bebas di tahun-tahun mendatang pada umumnya serta FTA (free trade agreement / perjanjian perdagangan bebas) antara ASEAN dengan China pada 1 Januari 2010 khususnya di mana dimungkinkan persaingan bisnis di segala jenis akan semakin sengit termasuk bisnis freight forwarding. Tanpa SDM yang kompeten di segala lini secara internal, kita akan tergilas oleh persaingan di luar.

“Better than Before”

Berkenaan dengan sudah lengkapnya kepindahan seluruh divisi dan business unit di lingkungan Iska Group di gedung yang baru yang berbarengan dengan pergantian tahun baru Hijriyah menempatkan harapan di tahun 2010 demikian optimistik dicanangkan. Realisasi pencanangan itu antara lain berbentuk penetapan penggolongan cabang-cabang menjadi 3 kategori, yaitu A, B dan C.

Cabang-cabang utama (Surabaya dan Jakarta) digolongkan sebagai cabang dengan kategori A, cabang menengah (Semarang, Denpasar, Bandung, dan Cikarang) digolongkan sebagai cabang berkategori B, dan sisanya (Cirebon, Jepara, Solo, Yogya, Tangerang, dan Medan) adalah cabang-cabang dengan kategori C. Ketiganya memiliki target sesuai dengan kategorinya masing-masing.

Ketiga kategori ini tentu saja diinspirasi oleh peristiwa hijrah itu sendiri agar kita tidak merugi apalagi “bangkrut” sebagaimana Hadits Nabi SAW yang kira-kira bunyinya :

“Apakah kalian tahu apa artinya untung, rugi, dan bangkrut itu?

Orang-orang yang beruntung adalah mereka yang di hari ini lebih baik dari kemarin. Mereka yang tidak lebih baik dari kemarin adalah orang-orang yang merugi. Sedangkan jika hari ini dirinya lebih buruk dari hari kemarin, maka mereka adalah orang-orang yang bangkrut.”

“Target” untuk menjadi beruntung, yaitu “Lebih Baik dari Sebelumnya (Better than Before)” itulah yang kali ini menjadi tema RTM yang merupakan bentuk pelaksanaan “kewajiban” improvement sebagaimana dipersyaratkan* oleh ISO 9001 sekaligus juga sebagai pelaksanaan “persyaratan*” agama sebagaimana Hadits Nabi tersebut di atas.

Semoga keberuntungan itu menaungi kita semua di lingkungan Iska Niaga Darma group ini di masa-masa mendatang. Amiiiin ...

(Jaeroni Setyadhi)


Catatan :

Persyaratan (requirement) dalam definisi ISO 9005 adalah kebutuhan atau harapan yang dinyatakan, yang secara umum diterapkan atau menjadi kewajiban (need or expectation that is stated, generally implied or obligatory).

Wednesday, December 24, 2008

Menyongsong 2009

MEMBEKALI DIRI DENGAN OPTIMISME DAN "SENSE OF CRISIS"

Sudah sering kita dengar bahwa apapun kondisi ekonomi sektor transportasi tetap dibutuhkan baik dalam kondisi ekonomi normal maupun dalam keadaan krisis bahkan pada negara dalam kondisi perang sekalipun. Lihat kawasan bergejolak seperti Timur Tengah mereka tetap membutuhkan sarana transportasi antara lain untuk mengangkut berbagai bantuan seperti bantuan kemanusiaan dan sebagainya.

Meskipun demikian, ancaman keberlangsungan bisnis ini tetap saja ada. Survey Frost & Sullivan yang dipaparkan Pak Iskandar Zulkarnain dalam pengarahan umum Rapat Tinjauan Manajemen ke-6 (RTM-6) tanggal 18 Desember 2008 mengindikasikan bahwa pasar Indonesia sangat potensial bagi bisnis transportasi dan ini dijadikan bidikan bagi pemodal (investor) asing yang pelan-pelan mulai mencengkeram bisnis ini.

Dikatakan dalam survey ini antara lain :

• Indonesian market for third party logistics in 2008 had revenues of US $1.75 billion. Market revenues are expected to grow at a CAGR*) of 12.1 percent to reach US $2.76 billion in 2012

• Market is likely to grow at the aforementioned rate due to the shifting of unorganized operators to organized sector

• Growth rate, however, is not very high because Indonesia is still a developing economy and requires a lot of improvement to translate itself into a high-growth market

Meski demikian kondisi krisis ekonomi global yang dipicu oleh krisis subrame mortgage di Amerika Serikat yang mulai memasuki masa resesi juga mempengaruhi kinerja dunia usaha khususnya sector logistic dan transportasi. Masa resesi ini diprediksi akan berlangsung lebih dari 3 tahun lamanya.

Antara Harapan dan Kerja Keras

Survey tersebut juga menggambarkan bahwa di sector logistic pada umumnya porsi peranan freight forwarder adalah sebesar 47,2% diikuti oleh transportasi (34,9%), warehousing (11,4%), jasa lain (4,4%) dan manajemen informasi (2,2%). Angka 47,2% peranan freight forwarding memberikan harapan akan besarnya kesempatan yang terpampang di depan kita.

Di antara harapan yang besar dan kondisi kurang menguntungkan itu kita semua tetap dituntut melakukan peningkatan (improvement). Di sesi pendahuluan RTM-6, para Kepala Cabang diminta mendeskripsikan rencana peningkatan dan pengembangan cabangnya dalam kurun waktu antara 1 s/d 5 tahun ke depan. Sesi pendahuluan ini berlangsung sejak Rabu pagi (17/12) hingga pukul 22:00. Kemudian dilanjutkan kembali pada esok harinya hingga pukul 12:00.

Rapat lengkap RTM-6 baru dimulai pukul 13:30 di hari Kamis (18/12) yang diawali dengan tinjauan kinerja penerapan Sistem Manajamen Mutu (SMM). Ada diskusi yang cukup menarik di sesi ini terutama terkait masalah kesadaran / kepedulian (awareness) yang masih rendah oleh sebagian besar level organisasi ditambah fakta temuan oleh pihak Lloyd (LRQA) berupa 4 temuan Major (Major Findings). Keempat temuan itu adalah sebagai berikut :

Masalah Tindakan Koreksi dan Pencegahan (Corrective and Preventive Actions) – CAR Harian.
Tidak dilaksanakannya Survey Pelanggan (Customer Survey).
Proses pengendalian/control dan pemantauan (Controlled and Monitoring Process) – Marketing/CC, dan
Kompetensi dan pelatihan karyawan.

Dalam Executive Report-nya Lloyd antara lain juga menggarisbawahi (hal 3/18) bahwa :

- Implementation of the system is not compliant with the requirement of ISO 9001:2000.
- Commitment and quality awareness from top management to staff
has to be improved.

Temuan dan komentar di atas merupakan barometer bagi kita sekaligus mengharuskan kita memperbaharui komitmen semua level organisasi dalam penegakan SMM khususnya dan perbaikan kinerja pada umumnya.


Para peserta RTM-6 dari 12 Cabang dan Tim Manajemen di depan Hotel Panorama, Lembang

Sesi berikutnya adalah pemaparan dan diskusi program-program. Program Climbers yang merupakan program unggulan di dua tahun terakhir mencatat beberapa prestasi berupa kenaikan tingkat dari para anggotanya. Jawa Tengah yang kurang menonjol di program ini telah bertekad untuk melanjutkan upaya mengembalikan direct-consol yang sempat kosong di paruh awal 2008 namun sudah dimulai kembali sejak Juli 2008. “Penegakan” kembali bisnis konsolidasi ini diyakini akan menggairahkan program climbersnya yaitu untuk wilayah tengah.

Program lain yang masih menunggu realisasinya adalah direct-consol import antar-cabang dengan antara lain memanfaatkan sinergi dengan program climbers import dan juga deal-deal yang didapat dari AGM (annual general meeting) 2008 FPS Group.

Cabang Medan yang pengelolaannya secara intensif telah dimulai sejak Mei 2008 menambah motivasi para peserta RTM khususnya para kepala cabang. Pak Nico Kalangi, kepala cabang sekaligus sebagai sesepuh telah berusaha memetakan posisi Cabang Medan di antara para kompetitornya. Tercatat bahwa Cabang Medan menempati peringkat ketujuh untuk konsol import sementara itu untuk eksport menempati peringkat keempat masing-masing dengan 1 TEUS dan 2 TEUS per bulannya.

Antara Reuni dan Kebersamaan

Ada suasana unik dalam RTM kali ini, selain dari lokasi rapat yang berlatar panorama pegunungan juga diwarnai sentuhan etnik dan antic seolah-olah mengingatkan peserta untuk menjelajah kembali masa-masa yang telah lewat atau sekedar mengendorkan syaraf yang sekembali ke kantor asal bakal kembali dengan kesibukan rutin. Tercatat ada beberapa peserta yang merupakan “alumni” dari Kantor Cabang Bandung, sebutlah penulis sendiri, lalu ada Pak Hasto, Pak Nico, dan Pak Hermansyah yang sekarang berada pada posnya masing-masing.

Pemandangan lain adalah meskipun perubahan staf Cabang Bandung sudah demikian rupa tapi rupanya keramahan mereka tidak berubah sebagai urang-sunda yang serasa pas dengan slogannya “Gemah Ripah Repeh Rapih” yang artinya Makmur Sentosa Sederhana Rapi. Mereka -- seluruh staff -- mendedikasikan untuk menghibur para peserta selepas menyelesaikan agenda rapat di hari kedua itu.

Tidak ketinggalaan pula “sumbangan vocal” oleh Pak Iskandar yang meskipun merasa bukan ahlinya ikut menyemarakkan suasana malam yang dingin diguyur gerimis itu. Ada juga band dadakan yang beranggotakan duo Pak Hendi (organ) - Pak Budi (vocal) yang meskipun beberapa lagunya sempat berakhir pada “missing lyrics” namun menambah rasa kagum bagi para audience. Dan terakhir, grup band dadakan pula yang beranggotakan Pak Hasto (gitar), Pak Hendi (bas) dan Pak Hendro (organ) mengiringi para “penyanyi” silih berganti. Yang terakhir ini meskipun iramanya tidak jelas arahnya tapi mampu melupakan gojlokan rapat khususnya yang berlangsung di hari pertama bagi peserta khususnya yang kepala cabang.

Rekomendasi RTM-6

Ada 3 rekomendasi yang dihasilkan dalam rapat tinjauan kali ini untuk dilaksanakan, yaitu :

1. Optimalisasi, berupa identifikasi area industri, memperbesar market-share dan penempatan wakil di area potensial.
2. Sell the House, penawaran seluruh produk Iska Niaga Group dan kalau memungkinkan jalankan bisnis baru.
3. Ekspansi, berupa pembukaan cabang-cabang baru seperti Makassar, Batam dan Bitung.

Akhirnya, baik rekomendasi maupun diskusi-diskusi bermuara pada sebuah komitmen : KOMITMEN UNTUK SUKSES yang berwujud :
H a r a p a n
A f i r m a s i **)
B e k e r j a, dan
B e r d o ’ a
Jakarta, 23 Desember 2008
Jaerony Setyadhi
Catatan :

*) CAGR : Compound Annual Growth Rate, lihat definisinya di www.investopedia.com/terms/c/cagr.asp
**) Afirmasi adalah pernyataan terbuka untuk menstimulasi otak kita.
Afirmasi Iska Niaga Darma Group :


Hari ini…
Saya bekerja sungguh-sungguh dan ikhlas
Saya yakin akan luasnya rizki ilahi
Saya berkarya terbaik
Saya menolong sesama
Saya hidup sebagai IbadahAmien

Monday, July 21, 2008

Dari Rapat Tinjauan Manajemen V (RTM-V)
MEMBUDAYAKAN MENTAL DIALOG


Di akhir sesi hajatan rapat tinjauan manajemen kelima (RTM-V) seorang peserta mengusulkan tentang peserta yang diikutsertakan dalam rapat ini : “... mbok yao, rapat ini tidak usah melibatkan para penanggung jawab focus program mengingat dalam rapat ini terdapat juga issue-issue yang mungkin hanya menjadi konsumsi level manajemen ...”. Menanggapi hal ini Bpk. Hendratmoko selaku Direktur PT FPS Indonesia menyatakan bahwa hal tersebut tidak terlepas dari “sejarah”. Bahwa kehadiran para peserta RTM dan rapat-rapat sejenis di luar level manajemen antara lain dimaksudkan agar hal-hal yang harus diketahui segala level organisasi baik di pusat maupun cabang-cabang dapat tersosialisasi melalui para peserta ini, informasi bisa mengalir sampai ke tingkat bawah. Bpk Iskandar Zulkarnain selaku pucuk pimpinan Iska Niaga Darma menjelaskan lebih lanjut bahwa sudah saatnya kita membudayakan mental dialog. Segala masalah yang kita hadapi harus mampu dikomunikasikan kepada pihak-pihak terkait dalam perusahaan tanpa adanya “ewuh-pakewuh” untuk dicarikan solusinya. Wujud dari komunikasi ini juga termasuk penerbitan CAR (corrective action request) jika ditemui adanya ketidaksesuaian atau hal-hal yang dimungkinkan berpotensi pada penyimpangan dan sebagainya.

Tinjauan Manajemen, Tinjauan Seluruh Aspek Organisasi
Terkait dengan penerapan sistem manajemen mutu, pernyataan Pak Iskandar sangat relevan dengan rapat yang bertajuk “Rapat Tinjauan Manajemen” ini. Karena, sejatinya tinjauan manajemen mengakomodasi hal-hal yang terkait keberhasilan dan pencapaian dari seluruh aspek dan fungsi dalam organisasi sekaligus mendiagnosa dan mencari jalan keluar bagi ketidakefektifan atau ketidakefiseinan dari seluruh tingkat organisasi dari yang terendah sampai dengan tingkat tertinggi, yaitu top management. Bagi top management tentu saja berisi komitmen-komitmen tentang bagaimana sistem ini bisa diterapkan dan dapat dipahami dan dijalankan oleh organisasi tanpa kecuali.



Suasana rapat di kantor Atrium---------------------- Sesi tanya-jawab

---------------------------------
Pak Nico, memperkenalkan kantor Medan yang baru ______Kantor & Tim Medan


Program Climbers yang Mencerahkan
Dalam kesempatan rapat dua hari itu, yaitu Jum’at dan Sabtu, 18 – 19 Juli 2008, disisipkan juga acara pelantikan Kenaikan Tingkat Peserta Climbers Import yaitu dari “Green Level” ke tingkat “Blue Level”. Kenaikan tingkat ini didasarkan pada target yang telah dicapai berupa pencapaian 30 cbm kargo sebulan untuk tujuan tertentu yang menjadi target tim ini. Tampil sebagai peserta yang naik tingkat adalah Vinny Masyita (JKT), Ike Anggraeni (BDO), dan Arenia Siburian (JKT). Acara pelantikan berupa pelepasan green-tag dan pengalungan blue-tag masing-masing oleh Bpk Iskandar Zulkarnain, Bpk Aep Suparman dan Bpk Hendratmoko. Arenia yang tidak sempat hadir diwakili oleh Yudhi Prihantoro.

Para peserta yang naik tingkat ini berhak atas rewards masing-masing berupa :

- Voucher menginap satu malam di hotel (Mercure Hotel Jakarta (sea-view) atau Putri Gunung Hotel, Dago, Bandung (hill-view)), dan
- Uang tunai sebesar Rp 500.000,- (lima ratus ribu rupiah).



Vinny Masyita – FPS Jakarta****Ike Anggraeni – FPS Bandung ****Arenia yang diwakili Yudhi – FPS Jkt


Climbers yang Naik Tingkat

“Dengan program ini, yang saya merasakan timbulnya dorongan yang kuat bahwa ‘saya harus berubah’. Selain itu, program ini membuat saya pribadi termotivasi untuk terus berprestasi”, ungkap Vinny yang pencapaiannya melebihi dari dua peserta lainnya.

“Saya tidak tahu kalau saya diundang untuk pelantikan kenaikan tingkat ini. Saya juga melihat bahwa program ini dan juga sejenisnya akan mampu mengembangkan komunikasi di antara peserta. Di luar itu, apresiasi manajemen dalam bentuk pemberian rewards ini menambah semangat dalam bekerja”, demikian yang disampaikan Ike ketika didaulat memberikan tanggapannya selepas acara pelantikan ini.
Bentuk realisasi dari komitmen manajemen berupa pemberian rewards ini rupanya juga memberikan spirit baru baik bagi penanggung jawab program yang lain juga oleh para kepala cabang saat diajukan pertanyaan oleh M. Yasin, Team Leader Climbers Import tentang apakah sanggup dan yakin kenaikan capaian ini di masa mendatang sebesar 100%? Dan serentak dijawab oleh peserta rapat : Yakiiiiiiin!

Di samping pemberian rewards, di evaluasi akhir tahun nanti juga akan diberikan punishment bagi climbers yang tidak mencapai target, antara lain berupa penurunan tingkat atau dikeluarkan keanggotaannya dari tim unggulan ini.

Yang Menggembirakan dan Yang Memprihatinkan
Di rapat yang diikuti oleh seluruh kepala cabang termasuk cabang yang baru membenahi dapurnya yaitu Cabang Medan, penanggung jawab Focus Program dan, tentu saja, tim manajemen pusat itu tercatat beberapa prestasi yang cukup melegakan untuk periode semester satu 2008 itu. Prestasi itu antara lain tercapainya target net profit untuk sebagian besar cabang kecuali Cabang Bandung dan Solo, menurunnya prosentasi tagihan yang lebih dari 60 hari termasuk 3 cabang yang mencapai target (Jakarta, Bandung, dan Surabaya) serta tercapainya target beberapa peserta Climbers Import sebagaimana dipaparkan di atas.

Di balik prestasi itu, masih terdapat keprihatinan terkait penerapan SMM di cabang-cabang tersertifikasi termasuk Jakarta. Lemahnya pendokumentasian catatan-catatan dalam proses-proses internal organisasi baik berupa penerbitan CAR (corrective action requests) atas ketidaksesuaian maupun catatan terhadap keluah pelanggan masih ditemukan. Alhasil, tercatat penurunan dalam penerapan SMM ini baik dari segi pemenuhan sistem, kinerja proses, maupun pemenuhan alokasi sumber daya dibandingkan dengan evaluasi pada RTM-3 (Desember ’07) dan RTM-4 (April ’09).

Diskusi-diskusi yang mengemuka dalam sesi “Share Idea” tidak secara dini diketahui oleh pihak terkait lain di level manajemen atas beberapa masalah yang timbul oleh karena adanya kelemahan ini. Dan ini tentunya menjadi PR bagi kita semua menyangkut komitmen mengenai penegakan penerapan sistem ini di lingkungan perusahaan kita ini.

Timgab Pusat Mengalahkan Timgab Cabang
Selepas rapat hari pertama, pada Jum’at malam para peserta RTM yang tergabung dalam Tim Gabungan Cabang dijamu oleh Tim Gabungan Pusat bermain futsal di Arena Internasional Futsal “Galaxy” yang berlokasi di seberang kantor Ancol. Pertarungan sengit ini dimenangkan oleh Timgab Pusat dengan skor 9 – 1. Timgab Cabang dikapteni oleh Ahmad Syaifudin dari Cabang Semarang, sementara Timgab Pusat dikapteni oleh Yudhi. Kekalahan ini tidak dapat dihindari meskipun gawang Timgab Cabang sempat dijaga oleh Bpk Hendratmoko di menit ke 3 babak kedua. “Alhamdulillah, tim kita kalah tapi masih di dalam target, karena target kekalahan adalah 10 -1,” kata salah satu pemain Timgab Cabang sambil nyengir kuda. Balasan satu gol ini dilakukan oleh Ahmad Syaifudin di menit ke 4 babak kedua.




Tim Gabungan Cabang -----------------------Tim Gabungan Pusat

Timgab Cabang Diserang ------Hey ... oper bola kemari!

Mr. Tanimura (FPS-Sin)
memperkuat Timgab Pusat

Di sisi kemenangan Timgab Pusat, yang pemainnya banyak diisi oleh para muda dan “diperkuat” oleh Mr. Tanimura dari FPS-Singapore yang juga tergolong sangat muda itu, memberikan kesan bahwa fisik para muda kita yang berasal dari berbagai divisi termasuk operasional adalah para pekerja yang secara fisik siap bekerja keras menghadapi hari-hari di depan. Bravo Internusa F.C!

Penutup
Sebagaimana sering disampaikan di beberapa kesempatan, di akhir acara di hari Sabtu itu Bpk Iskandar sekali lagi mengharapkan agar FPS senantiasa mempertahankan prestasinya dan menjadi “the best among freight forwarder”. Yang terakhir ini tidak saja menjadi sebuah harapan tapi di beberapa kesempatan persepsi tersebut samar-samar terdengar di antara sesama forwarder. Demikian dikatakan Pak Is. Ya, semoga kita senantiasa termotivasi dengan prestasi yang kita raih selama ini dan di masa yang akan datang.

( JS )