Y O U R....V I S I O N....I S....O U R....M I S S I O N

Monday, May 26, 2008

CLIMBERS, THE WINNING TEAM



Pernah dengar pembalap climber? Bagi Anda anggota komunitas B2W atau bicycling-club akan segera tahu bahwa pembalap climber adalah pembalap sepeda spesialis tanjakan. Karena spesialisasinya ini para pembalap ini biasanya yang tampil sebagai juara (winner) dalam setiap kejuaraan tour bersepeda.

Tim Climbers FPS Plus juga rintisan bagi sebuah “Winning Team” yang telah memberikan buktinya khususnya dari Tim Climbers Import yang telah lebih dahulu terbentuk dari Tim Climbers Export. Hal ini mengemuka saat diadakan rapat gabungan pertama kedua tim climbers di Kantor Plaza Atrium pada 23 Mei 2008 yang lalu.

Disampaikan oleh Ketua Tim Climbers Import, M. Yasin, bahwa di triwulan pertama 2007 sempat terjadi penurunan. Untuk periode Januari s/d April 2007 pencapaian hanya inward container 178 TEUS dibanding 225 TEUS pada periode sama 2006. Namun sampai dengan akhir 2007 jumlah ini meningkat khususnya karena bertambahnya direct consol shipment dari pelabuhan-pelabuhan muat (port of loading) yang tergolong baru. Di tahun 2006 port of loading yang melakukan consol hanya sebanyak 8 POL tapi pada tahun 2007 ternyata meningkat menjadi 12 POL.

Tim Climbers Export yang baru terbentuk sekitar dua minggu yang lalu dan dipimpin oleh Erwin Saropie tidak mau ketinggalan dan mencoba mencanangkan targetnya. Target-target yang terdiri dari target destinasi dan target perolehan volume diusulkan di depan para anggota serta Tim Manajemen.

Sebelum pemaparan target dan perolehan masing-masing tim, Direktur FPS Indonesia, Bpk. Hendratmoko memberikan gambaran sekilas tentang kondisi eksternal yang kurang menguntungkan antara lain meningkatnya harga minyak dunia yang sudah mencapai USD 135 per barrel, masalah sekitar keagenan di lingkungan FPS Group dan juga hal-hal terkait bisnis khususnya import. Secara internal beliau juga menegaskan kembali kebijakan FPS Indonesia dalam menyikapi kebijakan pemerintah tentang kenaikan harga BBM.

Beberapa hal yang kelihatannya masih menjadi sedikit kendala bagi tim eksport antara lain kenyataan bahwa harga LCL untuk destinasi tertentu termasuk untuk direct consol masih lebih tinggi dari FCL, format promosi yang belum mampu menarik minat calon customer untuk menggunakan jasa kita maupun masalah klasik sekitar kompetitifnya harga di pasaran.

Tim impor memaparkan sedikit hambatan dalam memuluskan pencapaian targetnya antara lain : tidak rutinnya consol dari beberapa POL, berkurangnya volume, serta pekerjaan pengambilan delivery order (DO) di pelayaran dan proses pelaksanaan relokasi (overbrengen) container di pelabuhan yang masih kurang memenuhi target waktu penyelesaian.

Tawaran fasilitas khusus
Seperti yang pernah disampaikan pada saat pembentukan tim climber import di bulan September 2007 yang lalu, manajemen menawarkan fasilitas khusus bagi climber yang achieved yang sekaligus sebagai penanda peningkatan peringkat yang ditandai dengan perubahan warna. Fasilitas yang dimaksud adalah pemberian sebuah laptop bagi climber yang mampu memperoleh gross profit sebesar USD 4,000 atau lebih bagi cabang-cabang Jakarta dan Surabaya serta USD 3,000 atau lebih bagi cabang-cabang Semarang dan Bandung. Promo ini berlaku untuk shipment-shipment dari bulan Mei sampai dengan Desember 2008.

Dalam kesempatan pertemuan ini Pak Aep Suparman, GM Internusa Hasta Buana menggarisbawahi beberapa hal yang diharapkan mampu mendukung suksesnya program ini, yaitu :
- hendaknya program ini diintegrasikan dalam kerangka program keseluruhan khususnya menyangkut pemahaman product-knowledge di bidang import,
- tersedianya tools yang cukup bagi para climber sehingga harga yang ditawarkan kompetitif,
- memperbaiki format promosi dan “kemasan menjual”, serta
- melanjutkan joint-sales dari order yang telah didapatnya.

Pertemuan ini dihadiri tidak saja oleh para climber Jakarta. Ada Acep dan Alamsyah dari Cikarang, Okky Hanipradja dan Ike dari Bandung, Ahmad Syaefudin dan MA Haris dari Semarang serta Taufiqurrahman, Helmi Basalamah dan Linda dari cabang Surabaya serta tidak ketinggalan Tim Manajemen Pusat. Sebagai catatan, Helmi Basalamah adalah Ketua Tim Climber Surabaya.

Pada kata penutupannya Bpk. Iskandar Zulkarnain selaku pimpinan Iska Niaga Darma Group menandaskan hendaknya :

- The Climbers adalah The Winning Team, dan
- Buktikan bahwa FPS / Internusa / Intan Segara adalah freight forwarder terbaik di negeri ini.

Akhirnya, rapat yang diawali dengan pembacaan Sasaran Mutu FPS ini diakhiri dengan sebuah kalimat komitmen yang disampaikan oleh Okky Hanipradja berbunyi :


“Commit to the Lord whatever you do, your plan will be succeed”




Jakarta, 26 Mei 2008
Jaeroni Setyadhi

Tuesday, May 13, 2008

SOSOK EKONOMI SETELAH REFORMASI

Faisal Basri, Ekonom

Koran Tempo, 13 Mei 2008, Edisi 10 Tahun Reformasi

Kebebasan. Itulah kata yang bisa menggambarkan suasana kehidupan berbangsa pascareformasi. Perekonomian Indonesiapun turut menghirup kebebasan itu. Memang tidak sebebas negara-negara penganut aliran Neoklasik atau Neoliberal, tapi setidaknya, kesumpekan akibat monopoli dan kartel terang-terangan yang diabsahkan pemerintah bisa dikatakan sudah nyaris sirna. Kendali pemerintah pusat atas daerah sudah jauh berkurang. Pemerintah tak bisa lagi mendikte DPR untuk mengesahkan anggaran pendapatan dan belanja negara tanpa perubahan satu sen pun. Bank Indonesia tak lagi di bawah ketiak pemerintah.
Penguasaan negara di sektor produksi sudah jauh berkurang. Di sektor telekomunikasi, penerbangan, perbankan, dan perkebunan, peran badan usaha milik negara tak lagi dominan, digantikan oleh swasta domestik maupun asing.
Perlidungan terhadap industri atau usaha dalam negeri dikikis oleh liberalisasi perdagangan. Proteksi dipangkas hingga tingkat yang sangat rendah, sebagaimana tercermin dari tarif bea masuk rata-rata yang sudah di bawah 10 persen. Tidak terkecuali terhadap produk-produk pertanian yang dihasilkan oleh hampir separuh penduduk yang taraf kehidupannya terbilang sangat memprihatinkan.
Mesin mekanisme pasar berputar kencang. Laju pertumbuhan ekonomi mulai cepat. Tahun lalu, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) mencapai 6,3 persen, yang berarti hampir mendekati pertumbuhan rata-rata selama Orde Baru. Namun, kalau kita cermati corak pertumbuhannya, ternyata sangat berbeda dengan periode prakrisis. Di awal Orde Baru, sektor pertanian jadi titik perhatian. Pemerintah mendirikan pabrik pupuk berskala besar, dan membangun infrastruktur pertanian secara masif. Memasuki dasawarsa 1980-an sektor industri manufaktur menggeliat dan lebih digenjot pada dekade 1990-an.
Di era reformasi, kedua sektor tersebut relatif merana. Produk-produk pertanian kian membanjiri pasar. Banyak sekali produk pertanian yang dikonsumsi masyarakat luas yang kita impor : beras, kedelai, jagung, garam, gandum dan terigu, gula, bubuk cabai, sayur-mayur, buah-buahan. Sementara itu, industri manufaktur tumbuh jauh di bawah pertumbuhan PDB, sangat kontras dibandingkan masa Orde Baru yang tumbuh jauh di atas pertumbuhan PDB, bahkan tak jarang tumbuh dua digit. Penurunan juga terjadi di sektor pertambangan. Maka, tak mengherankan sementara kalangan mensinyalir telah terjadi gejala dini deindustrialisasi.
Padahal, pertanian, manufaktur, juga pertambangan (sektor tradable) merupakan tumpuan hidup sekitar dua pertiga penduduk. Jika pertumbuhan ketiga sektor ini melempem, maka kesejahteraan relatif mayoritas penduduk kian tertinggal. Yang tumbuh sangat pesat -- jauh melampuai pertumbuhan PDB -- adalah sektor-sektor jasa modern di kota-kota besar (non-tradable) yang kebanyakan disantap oleh kalangan menengah ke atas.
Kesenjangan pertumbuhan sektor tradable versus sektor non-tradable semakin menganga. Data untuk 2007 menunjukkan sektor tradable hanya tumbuh 3,8 persen sedangkan sektor non-tradable tumbuh 9 persen. Dengan pola pertumbuhan demikian, niscaya kita akan sangat sulit memerangi kemiskinan dan menekan pengangguran.
Selama 10 tahun terakhir jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan praktis tak berubah, yakni di sekitar 17,7 - 17,6 persen. Pada 2007 turun sedikit menjadi 16,6 persen. Jikat kita menggunakan ukuran pengeluaran per kapita di bawah satu dolar AS sehari, penurunan jumlah orang yang tergolong sangat miskin hanya turun dari 7,8 persen pada 1996 menjadi 6,7 persen pada 2007. Laju penurunan jumlah orang yang sangat miskin di Indonesia sungguh sangat lambat bila dibandingkan dengan Vietnam dan Cina. Di Vietnam, jumlah penduduk sangat miskin turun drastis dari 23,6 persen pada 1996 menjadi hanya 4 persen pada 2007. Untuk Cina, pada kurun waktu yang sama, angkanya menurun dari 16,4 persen menjadi 6,9 persen.
Perkembangan di bidang ketenagakerjaan juga tak mengalami perbaikan. Angka pengangguran terbuka bahkan melonjak dari 4,9 persen pada 1996 menjadi 9,1 persen pada 2007. Walau harus diakui bahwa dalam dua tahun terakhir telah terjadi sedikit penurunan angka pengangguran terbuka, pebaikan tersebut hanya dari sisi nominal dan belum diiringi oleh perbaikan kualitas.
Perlu dicatat pula bahwa di barisan penganggur ini, porsi yang berusia muda dan atau berpendidikan SLTA ke atas terbilang sangat tinggi. Dilihat menurut lokasi, dua provinsi dengan angka pengangguran tertinggi ialah Banten dan Jawa Barat. Mengingat kedua provinsi tersebut merupakan, basis terpenting industri manufaktur Indonesia, berarti semakin kuat konstalasi bahwa industri manufaktur mengalami kemunduran relatif yang mengarah pada gejala deindustrialisasi.
Dengan pola dan kualitas pertumbuhan seperti itu, sangat bisa dipahami mengapa kesenjangan pendapatan dalam beberapa empat tahun terakhir semakin menganga, bahkan tahun lalu kondisi memburuknya sangat mencolok. Reformasi agaknya tidak mendekatkan kita pada cita-cita kemerdekaan : mewujudkan keadilan sosial, memajukan kesejahteraan umum, mengenyahkan dominasi kapitalis, dan memerangi kemiskinan. Quo vadis reformasi? o

Friday, May 9, 2008

MEMBAKAR SEMANGAT DI SANTA MONICA

Cuaca cerah mengiringi kepergian kami dari kantor Ancol di hari Sabtu (3/5) kemarin. Persiapan yang sudah dimulai sejak sebulan lalu dan dimantapkan kembali seminggu terakhir itu memungkinkan seluruh staff Ancol dan Tanjung Priok dapat mengikuti acara yang diselenggarakan oleh FPS Indonesia Jakarta, karena seluruh kegiatan eksportasi dapat diselesaikan pada Jum’at (2/5) malam. Bahkan Henry, newcomer bagian dokumentasi rela menginap-ria di kantor Ancol di malam Sabtu itu.


Bukan! Ini bukan terminal Baranangsiang lho!

Acara ini diberi tema “United We Grow”, berupa kegiatan outbond yang diadakan di Smart Camp Santa Monica, Pancawati, Bogor, Jawa Barat pada hari Sabtu dan Minggu, 3 dan 4 Mei 2008.

Berangkat pada jam 08:30 kedua bis yang beriringan itu tidak mendapat hambatan di sepanjang tol dalam kota dan tol Jagorawi. Hambatan mulai terasa saat memasuki perapatan Ciawi sampai Pasar Cikeretek. Kendaraan melaju dengan merayap. Mungkin karena sopir yang kelelahan akibat jalan yang merayap itu maka satu bus kami sempat kebablasan hingga sejauh beberapa ratus meter dari jalan akses menuju Pancawati. Akibatnya, kami harus turun ramai-ramai sambil menunggu bus yang hendak memutar balik.







Mau mudik Mas? Pan, belum lebaran? Maaf, saya bukan TKI Mas!


Sekitar jam 11:30 kami telah tiba di lokasi yang posisinya paling ujung di antara camp-camp yang bertebaran di kawasan tersebut. Setelah melakukan penyesuaian dengan lingkungan dari rasa jetlag yang menyeruak di antara kegembiraan itu kami makan bersama di pendopo utama komplek learning center tersebut.

Biar bertampang TKI Sukabumi, tapi kami mbawa semangat lho!



Selanjutnya, setelah meyelesaikan “ishoma” kami menuju lapangan untuk peregangan otot-otot yang dilanjut dengan tracking menyusuri sungai kecil di bukit sekitaran camp yang merupakan kaki Gunung Pangrango itu.

Jalur yang sedianya dapat ditempuh dalam waktu 2 jam ternyata mundur karena ada beberapa peserta yang boleh dibilang “katrok” menghadapi medan yang lumayan curam itu. Dari yang jalannya macam siput sampe yang super keseleo kakinya sehingga harus ditandu. Tidak cuma itu, cuaca yang mendadak tidak bersahabat dengan turunnya hujan deras itu menjadikan instruktur memerintahkan sebagian peserta khususnya kelompok bagian belakang untuk tidak melanjutkan perjalanan. “Wis, aku kecewa berat nich, lantaran trackingnya nggak sampe tujuan”, kata salah seorang peserta yang bergabung belakangan.

Ada catatan yang menarik, ternyata di camp yang biasa disebut sebagai learning center ini muncul foto model dan kelompok foto model dadakan. Tidak ketinggalan, dilengkapi pula oleh para fotografer amatiran. Tapi jangan negative dulu! Sebab, ternyata gambar-gambar yang terekam pantas diusulkan di ajang pameran foto, minimal se Iska Niaga Darma grup.


“Kelompok” Panca-wati Para pecinta alam merangkap “pecinta” lensa kamera

Rasa lelah bercampur kegembiraan sangat-sangat membaur di malam itu. Apalagi saat tiba acara api unggun semua seakan larut dalam kehangatan suasana …

Api unggun telah menyala … api unggun telah menyala ….
Api … api… api, api, api …. Api unggun telah menyala ...

Api s’mangat telah menyala ... api s’mangat telah menyala ...
S’mangat... s’mangat ...., s’mangat, s’mangat, s’mangat ...
Api s’mangat telah menyala ....

Kehangatan suasana itu juga dilengkapi dengan keheningan suasana saat Pak Budi Satoto membawakan semacam puisi bebas berjudul “Bila saat ini adalah saat terakhir kita” yang kira-kira isinya koyak-koyak yang ada di amalan kita hendaknya ditambal sambil terus mengupayakan yang terbaik di sisi kuantitas dan kualitasnya. Tak ada jaminan bagi “cukupnya” amalan kita itu selain dengan upaya yang sungguh-sungguh untuk terus meningkatkan kuantitas yang dibarengi kualitas amalan kita itu.

Teram tam tam .... Fieeeessta ..... selesai pulalah acara api unggun yang sebelumnya juga diisi beberapa fun games.

Selanjutnya, acara santai di pendopo utama dengan dihibur oleh organ tunggal dari grup “Faisal Entertainment” tapi yang asli sono .... bukan para Faisal-nya FPS/Internusa. Malah para-Faisal kita itu tidak kelihatan berjoget di depan. Tidak jelas alasannya, tapi mungkin agak kurang sreg takut bersaing-saingan ...

***

Meskipun udara tidak terlalu dingin, malam telah terlewati dengan damai dan dilengkapi dengan tidur yang teramat lelap. Namun demikian, di ujung cottage sana ternyata ada “kelompok bengal” yang dari investigasi lapangan baru tidur setelah jam 03:30 dini hari setelah setengahan malam dihabiskan dengan bermain kartu. Tentu saja bermain dengan sungguh-sungguh bermain dalam suasana santai pula bukan bermain dengan tanda kutip. Record siapa yang unggul sengaja tidak ditampilkan di sini, harap maklum.

Hari ini menurut sekedul Panitia adalah outbond activities alias ritual outbond yang sesungguhnya, kenapa? Kata para keponakan, “karena nanti ada flying fox-nya”. Benar saja, sebelum ritual outbond dimulai para petugas sudah siap-siap dengan peralatannya. Maklum, di Cabang Surabaya sana ada kawan kita yang mengalami sedikit musibah saat ber-flying fox ria.





Kelompok “Bintang”, malamnya ‘dah ngimpi ... ciu..ciu..ciu

Permainan demi permainan dilalui, ada ice-breaking yang berupa lempar-lemparan bola; ada magic stick yang “susahnya” minta ampun; lalu ada electric-web; serta tentu saja flying fox.


Mejeng dulu ah, mumpung difoto gratis ... Wuuuussssss ....



Di akhir sesi acara outbond, dua games lagi disajikan. Masing-masing opposite-step beregu yang dimenangkan kelompok “Dispenser“ (nggak jelas penamaannya .... mungkin karena pengalaman bakal ada yang kehausan kali?); dan pemindahan obor melewati serangan musuh. Sangat mengasyikkan game yang terakhir ini karena “bom air“ sebagai amunisi musuh yang membasahi separoh lebih para pengawal obor ini menjadi penyegar di terik matahari. Tiga kali bolak-balik sebelum akhirnya obor sampai pada tempat yang telah ditentukan.

Hikmah dari permainan ini adalah bahwa adanya sebuah keniscayaan atau kemungkinan dalam setiap usaha meraih prestasi selalu ada saja gangguan bahkan serangan dari kompetitor. Namun, kita haruslah tetap bersikap ksatria dengan tidak membalasnya secara serta-merta sebagaimana dicontohkan dalam permainan ini yang sama sekali tidak dibolehkan adanya “serangan balasan“.

Pepatah mengatakan, “tidak ada pesta tanpa kesudahan“ dan acara dua hari itupun harus diakhiri, dan pendopo utama menjadi tempat pengakhiran acara ini. Dalam kata akhirnya di acara dua hari itu Pak Iskandar menyampaikan kata selamat menikmati pengalaman yang telah dilalui di Pancawati ini dan jadikan simulasi dari setiap fun games yang banyak berisi pembangunan team-work menjadi bekal bekerja sehari-hari sesuai tugas fungsinya. Pak Is juga menyampaikan ucapan sampai jumpa pada event outbound berikutnya. (Catatan Redaksi, tentu saja achievement first la yaw .... )



Miss Door-Prize FPS Jakarta



Akhirnya, penganugerahan predikat “Miss Door-Prize“ secara tidak formal diceletukkan kepada kawan kita Neri oleh karena keberuntungan yang terus-menerus memperoleh “significant door-prize” pada dua event terakhir yang diselenggarakan FPS Indonesia dan Iska Niaga Darma pada umumnya. Kali ini kawan kita itu mendapat first prize : mountain bike!

Sampai jumpa di event yang lain …..

Wassallam / Jaeroni Setyadhi.-


Post scriptum :
Mohon maaf dengan bahasa slank kepada semua-muanya, dan terutama untuk Pak Budi …. minta tolong judulnya yang sesungguhnya …. takut hari ini adalah hari ....

Thursday, April 24, 2008

BANK MUAMALAT, SI CANTIK YANG MENGGIURKAN

22 April 2008 @ 20:04:04

Pemerhati Perbankan Syariah

Tanggal 23 April 2008 Bank Muamalat Indonesia (BMI) menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham ( RUPS ) yang Insya Allah akan dilaksanakan juga persetujuan atas penerbitan Obligasi Syariah Mudharabah II sebesar Rp. 400 miliar.
Sebagaimana diketahui Muamalat adalah Bank pertama murni syariah, dengan pola Islamic Banking Concept-nya, yang kini telah menjadi trend dunia perBankan Nasional maupun Internasional, ditengarai dengan banyaknya dibuka Unit-unit Usaha Syariah , dan Window Syariah. Suatu konsep bagi hasil yang fair dan nyata nyata menggerakkan sektor riil telah teruji, yakni dikala krisis ekonomi dan moneter melanda negeri ini sejak pertengahan tahun 1997, Perbankan Syariah, khususnya Muamalat telah membuktikan ketangguhannya. Hal ini patut dibanggakan, karena di saat Bank-Bank Konvensional berguguran,
Muamalat luput dari likuidasi, tidak terkena kasus BLBI dan sama sekali tidak membebani BI sebagai bank rekap.
Kinerja
Laporan Keuangan Muamalat per-Desember 2007 (Audited) sepenuhnya telah dipaparkan pada Harian Bisnis Indonesia ini pada Senin, 31Maret 2008 yang lalu.
Bandingkan dengan perolehan Bank Syariah lain, Alhamdulillah dalam masa 17 tahun beroperasi, setidaknya dalam tujuh tahun terakhir Muamalat telah menunjukkan pertumbuhan Usaha dan Laba yang amat mengesankan, yakni telah membukukan total aset sebesar Rp10,57 triliun (tumbuh 26,26% dibandingkan total aset Rp8,37 triliun pada 2006) dengan laba Rp212 Miliar pada akhir tahun buku 2007 (naik 31,32% dari laba Rp161,47 miliar tahun 2006).
Dana masyarakat telah mencapai Rp8,69 Triliun pada 2007 atau tumbuh 27,11% dibandingkan total tahun 2006. Demikian pula total pembiayaan telah mencapai Rp8,62 triliun pada akhir 2007, atau rasio FDR 99,16%, yang artinya fungsi intermediasi bank berjalan sangat baik. Sementara perbankan nasional rata rata LDR-nya hanya berkisar 66%. NPF Nett Muamalatpun sangat menggembirakan hanya 1,33%, artinya sangat prudent.
Akhir 2007, Bank Muamalat Indonesia telah memiliki 213 Kantor Pelayanan di seluruh Indonesia, ditambah dengan jaringan â?~real time on-lineâ?T dengan 2000 SOPP (System On-linePayment Point) PT. POS Indonesia. Inovasi produk-produk bank syariah yang dibuat semakin kaya dan bervariasi, terobosan kartu Shar-E, cara berinvestasi mudah dengan membeli kartu deposit/tabungan di Muamalat telah semakin memungkinkan pertambahan dana pihak ketiga secara signifikan dan customer base yang jauh lebih besar.
Sejumlah prestasi kinerja yang bagus telah diraih oleh bank ini, antara lain dengan diperolehnya: KLIFF Award, The most outstanding Performance, CERT bekerjasama dengan Dow Jones Islamic Index - New York USA 2004.
Selain itu, Super Brands Indonesia 2005, Indonesia Best Brand Award 2006, MUI Award, Bisnis indonesia Award 2006, National Brand Award 2006, InfoBank Golden Award 2007-2007, Winner No,1 The full fledge Bank overall versi Islamic Financial and Quality Award 2006, MURI Award, Best Syariah Award 2007, Kriya Pranala Mahakarya 2007 dari Bank Indonesia, AA Sharia Quality Rating -IIRA Bahrain 2008.
Permodalan
Dalam persaingan industri perBank-an yang semakin keras dan ketentuan-ketentuan pemerintah yang semakin mengarah pada tumbuhnya bank jangkar (anchor bank) dalam jumlah modal setor sedemikian tingginya, membuat sebuah bank tidak lagi dapat mengandalkan pemupukan Dana Pihak Ketiga dalam pengembangan usahanya, tetapi mutlak harus memperbesar jumlah Modal Setornya atau Merger dengan Bank lain.
Maka, pilihan untuk memperbesar modal disetor merupakan hal mutlak apabila sebuah Bank ingin mencapai visi dan misinya sebagaimana yang ditetapkan. Hal ini berlaku juga nanti bagi Muamalat.
Untuk diketahui, hingga saat ini jumlah penempatan modal Muamalat adalah Rp1 triliun, dengan modal disetor plus agio per-akhir 2007 Rp625 milliar. Dari beberapa kali right issue yang telah dilaksanakan, saat ini IDB memiliki porsi modal sebesar 28,01%, Boubyan Bank Kuwait sebesar 21,28%, Atwil Holding Limited sebesar 15,32%, IDF Foundation sebesar 2,98%, BMF Holding Limited sebesar 2,98%. Sehingga komposisi permodalan BMI kini: modal luar negeri/international menjadi 70,57% dan modal dalam negeri/lokal 29,43%. Ini indikasi bahwa bank ini sangat atraktif dan mempesona investor asing.
Apabila diadakan right issue kembali nanti, dan modal Lokal/Domestik tidak ada yang masuk, maka porsi diatas akan berubah lagi dengan saham lokal/domestik semakin terdilusi. Makasi cantik ini tak lagi sepenuhnya dapat dimiliki pemegang saham dalam negeri.
Kondisi inilah yang penulis paparkan, agar para pembaca segera memiliki saham Muamalat, karena kinerja Bank Muamalat semakin baik dan prospek ekonomi syariah Indonesia kedepan sangat cerah. Semoga tulisan ini menggugah semangat kita semua. Amien (dj)


sumber :
http://plinplan.com/bisnis/keuangan/29495/2008/04/22/bank-muamalat-si-cantik-yang-menggiurkan/

Wednesday, April 23, 2008

MUAMALAT UNTUK INDONESIA

Rabu, 23 April 2008

Iskandar Zulkarnain
Pemegang Saham Pendiri Bank Muamalat

Bank Muamalat Indonesia (BMI) kembali menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham ( RUPS ) Rabu (23/4) ini. Rapat akan menyetujui penerbitan Obligasi Syariah Mudharabah II untuk memperkuat Tier 2 kapital dan menjaga capital adequacy ratio (CAR) atau tingkat kecukupan modal. Mungkin dalam waktu dekat akan disusul dengan right issue lagi.
Hal ini selalu membuat miris perasaan penulis karena merupakan agenda yang sangat menentukan, apakah Muamalat masih bisa bertahan sebagai lembaga simbol perjuangan ekonomi atau perbankan syariah di Indonesia atau justru hanya akan menjadi lembaga simbol solidaritas global yang atas nama globalisasi akan mengorbankan kepentingan lokal.
Titipan sejarah
Tidak dapat dimungkiri di kala krisis ekonomi sejak 1997 perbankan syariah, khususnya Muamalat, membuktikan ketangguhannya. Saat bank-bank konvensional berguguran, Muamalat dengan pola Islamic banking concept tetap tegak, luput dari likuidasi. Muamalat tidak terkena kasus BLBI dan sama sekali tidak membebani BI sebagai bank rekap. Kini Muamalat bagaikan gadis cantik molek dengan memasuki usianya yang ke-17 tahun sejak pendiriannya pada 1 November 1991 dan awal pengoperasian pada Mei 1992.
Tekad para pendiri yang terdiri dari tokoh masyarakat, ulama, pengusaha, ICMI, MUI, Pemerintah RI, serta umat Islam Indonesia pada waktu itu adalah untuk menjadikan Bank Muamalat sebagai bank syariah pertama yang kepemilikannya berada di tangan umat Islam Indonesia. Muamalat mengukir sejarah sekaligus menjadi simbol kebanggaan nasional perjuangan ekonomi syariah Indonesia. Ini terefleksikan dengan jelas dari jumlah pemegang saham BMI yang jumlahnya 800 ribu orang melalui pengumpulan modal kolektif pada waktu itu.
Kepemilikan modal sampai dengan 2003 setelah masuknya IDB pada 1999, modal lokal mencapai 64,29 persen dan modal 35,71 persen berada di tangan IDB (Islamic Development Bank), yaitu bank yang dimiliki oleh negara-negara OKI, termasuk Indonesia. Namun, karena kebutuhan permodalan untuk pengembangan usaha dan perluasan jaringan, bank ini terpaksa mengundang investor korporasi Muslim international.
Karena di dalam HMETD (Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu) yang sudah dipublikasikan, ternyata tidak satu pun investor lokal yang masuk permodalan. Hingga saat ini jumlah penempatan modal Muamalat Rp 1 triliun dengan modal setor plus agio per akhir 2007 Rp 625 miliar.
Dari beberapa kali right issue, IDB memiliki porsi modal yang telah disetor di BMI sebesar 28,01 persen, Boubyan Bank Kuwait 21,28 persen, Atwil Holding Limited 15,32 persen, IDF Foundation 2,98 persen, BMF Holding Limited sebesar 2,98 persen. Komposisi permodalan BMI kini modal luar negeri menjadi 70,57 persen dan lokal 29,43 persen.
Ini menunjukkan Muamalat adalah bank yang memiliki daya tarik dan reputasi internasional. Apabila akan diadakan right issue, dengan modal lokal tidak masuk, maka porsi di atas akan berubah lagi dengan saham lokal semakin terdilusi. Kondisi inilah yang penulis paparkan karena bila dibiarkan akan semakin dalam terkuburnya cita-cita awal Muamalat sebagai bank syariah pertama milik umat Islam Indonesia, sebagai simbol ekonomi umat.
Manajemen
Lumrah berlaku di hukum perseroan jika kendali manajemen dan kepengurusan cenderung bergeser ke tangan pemegang saham besar. Contoh pada Asuransi Takaful Indonesia yang kepemilikannya mayoritas saham international (83 persen). Komposisi 56 persen dimiliki Syarikat Takaful Malaysia dan 27 persen IDB.
Muamalat bisa saja menghadapi hal yang sama, di mana penekanan atas nama kepentingan bisnis mulai bermain dan bukan mustahil pengurus bank dari komisaris bahkan para direksi akan berada di tangan mereka. Artinya, ruh perjuangan Muamalat akan cenderung bergeser walaupun kita percaya dengan misi IDB yang lebih memiliki nilai pengembangan ekonomi umat dibanding semata-mata profit seeker.
Laporan keuangan Muamalat posisi 31 Desember 2007 (audited) sepenuhnya telah dipaparkan pada Harian Republika pada Senin, 31 Maret 2008 lalu. Dalam masa 17 tahun beroperasi, setidaknya dalam tujuh tahun terakhir Muamalat telah menunjukkan pertumbuhan dan laba yang amat mengesankan, membukukan total aset Rp 10,57 triliun (tumbuh 26,26 persen dibandingkan total aset Rp 8,37 triliun pada 2006). Laba mencapai Rp 212 miliar pada akhir tahun buku 2007 (naik 31,32 persen dari laba tahun 2006).
Dana masyarakat telah mencapai Rp 8,69 triliun pada 2007 atau tumbuh 27,11 persen dibandingkan total tahun 2006. Total pembiayaan mencapai Rp 8,62 triliun pada akhir 2007 atau rasio FDR 99,16 persen. Artinya, fungsi intermediasi bank berjalan sangat baik.
Perbankan nasional rata-rata LDR hanya 66 persen. NPL nett mencapai 1,33 persen. Per akhir 2007, Bank Muamalat Indonesia telah memiliki 213 kantor pelayanan di seluruh Indonesia, ditambah dengan jaringan real time on-line dengan 2.000-an SOPP (system on-line payment point) PT POS Indonesia.
Inovasi produk-produk bank syariah yang dibuat semakin kaya dan bervariasi, terobosan kartu Shar-E, cara berinvestasi mudah dengan membeli kartu deposit/tabungan di BMI semakin memungkinkan pertambahan dana pihak ketiga secara signifikan. Sejumlah prestasi kinerja yang bagus telah diraih oleh bank ini, antara lain KLIFF Award, The Most Outstanding Performance, dan CERT bekerja sama dengan Dow Jones.
Islamic Index New York USA 2004
Bagaimana ke depan? Idealnya pemerintah dan investor lokal secepatnya turun tangan memberikan komitmennya untuk membeli/menambah modal Muamalat agar komposisi kepemilikan bank ini mencapai minimal 51 persen bagi investor lokal dan 49 persen investor internasional dalam mempertahankan kepemilikan bank syariah pertama milik Muslimin Indonesia ini.
Penulis menyadari bahwa untuk membicarakan umat artinya adalah umat Islam yang tidak mengenal sekat-sekat negara atau bangsa karena sesungguhnya umat Islam adalah satu (ummatan wahidan). Tidak ada Muslim
Indonesia atau Arab, tetapi istilah di atas penulis sampaikan semata untuk memudahkan dalam penggambaran keadaan yang ada, sekaligus memberikan perspektif dimensi lain, yakni kemaslahatan bagi usaha kecil/UKM yang sebarannya sangat luas di Indonesia dan dirasakan masih sangat jauh ketinggalan.
Bila Muamalat kelak dikendalikan oleh profesional internasional, bukan tidak mungkin hal-hal yang menyangkut keberpihakan kepada UKM yang kebanyakan adalah kaum Muslimin akan tersisihkan. Dewan Komisaris dan pengurus Bank Muamalat sebagai wakil pemegang saham tentunya terus berupaya, juga melalui Anda para aghniya pembaca Republika, untuk masuk sebagai pemodal lokal Indonesia. Ini karena kinerja Bank Muamalat semakin baik dan prospek ekonomi syariah Indonesia ke depan sangat cerah.
Ikhtisar:
* Kinerja bank syariah di Indonesia cukup menggembirakan.
* Bank Muamalat membutuhkan investor domestik demi memenuhi kebutuhan umat.
( )

Tuesday, April 1, 2008

Pengajian MTF+ Jakarta

MENYINGKAP RAHASIA GERAKAN SHALAT


Sekilas judul atau tema pengajian di atas tidaklah menarik. Hal ini bisa jadi lantaran pertama, saking hapalnya kita tentang gerakan-gerakan shalat yang kita lakukan. Kedua, kita tidak pernah mengkritisi kenapa dan untuk apa gerakan-gerakan yang kita lakukan pada saat menunaikan shalat baik wajib maupun sunnah itu.

Ternyata setelah diselenggarakannya pengajian dengan format yang lain daripada yang lain pada Jum'at, 28 Maret 2008 yang lalu di Plaza Atrium lantai 1, Senen, Jakarta Pusat itu para peserta bisa merasakan kesegaran setelah usainya pengajian yang lebih pas disebut sebagai olah fisik dan pernafasan itu.

Drs Madyo Wratsongko, MM atau biasa dipanggil dengan Pak Madyo, membawakan judul atau tema itu sendiri sebagai "bocoran" dari bukunya yang keenam dengan judul yang sama. Dan ternyata ilmu yang disampaikannya itu di samping pengembangan dari kajian-kajian mengenai gerakan shalat dari "guru"-nya tapi juga berdasar pada pengalaman hidupnya manakala isterinya menderita flek di paru-parunya. Berbekal dari ilmu yang dipelajari seperti akupunktur, refleksi, dan energi yang dikombinasikan dengan kajian gerakan shalat maka terciptalah derivasi gerakan shalat yang menjadikan tubuh menjadi sehat atau penyembuh dari berbagai penyakit.

Sore itu, pengajian dibuka oleh pembawa acara, Bpk. Ervani Yudhi dan dilanjut dengan pembacaan kalam Ilahi dan saritilawah Surat Al-Hajj : 77-78 yang dibawakan oleh Bpk. Prastowo dan Ibu Farah Helena.

Selanjutnya, Pak Madyo menyarikan secara umum bahwasannya serangkaian shalat memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut :

- Subuh : sarana pertukaran oksigen dalam tubuh
- Dhuha : sarana pembentukan energi
- Dzuhur : sarana pendinginan
- Ashar dan Maghrib : sarana detoksifikasi
- Isya' : sarana regenerasi sel, dan
- Tahajjud : merupakan sarana akselerator fungsi tubuh.

Dari gerakan shalat itu sendiri, posisi berdiri dan i'tidal (bangkit dari ruku') diartikan sebagai perwujudan dari api. Kemudian, gerakan ruku' adalah perwujudan dari udara dan sujud perwujudan dari air.

Kemudian, dari inti sari peranan shalat bagi kesehatan tubuh dan perwujudan setiap gerakan itu diciptalah derivasi posisi dan gerakan. Posisi utama yang memiliki derivasi gerakan yang bervariasi adalah posisi duduk perkasa, yang berdasar pengalamannya bisa menyembuhkan penyakit asam urat jika dilakukan dalam hitungan minimal 40; dan posisi duduk pembakaran. Posisi terakhir yang memperlihatkan kelenturan tubuh disebut sebagai tidur pasrah. Posisi duduk perkasa mengambil posisi duduk iftirash (tahiyat awal) namun dengan posisi jari kedua kaki yang menjejak lantai. Sementara itu, dalam posisi duduk pembakaran posisi telapak kaki bagian atas sejajar dengan lantai.

Secara detail setiap variasi gerakan akan mampu menyembuhkan penyakit tertentu dengan melakukannya dalam tempo waktu tertentu pula. Detail variasi gerakan ini terekam dalam bukunya yang dijual di toko-toko yang dilengkapi dengan VCD.

Acara yang dihadiri oleh staff dari unit-unit usaha yang tergabung dalam ISKA NIAGA DARMA group itu ditutup oleh Bpk. Iskandar Zulkarnain selaku Direktur Utama yang antara lain mengulangi rasa syukurnya atas kesembuhan Sdr. Irawan yang sebelumnya bertugas sebagai operator fotocopy, yang telah dinyatakan sembuh dari kanker tulangnya. Dan, kegiatan pengajian yang berupa olah fisik tersebut, tambah beliau, diharapkan mampu mengembalikan kesegaran fisik untuk menghadapi hari-hari ke depan yang tidak selamanya menguntungkan bagi bisnis di lingkungan ISKA NIAGA DARMA.


Wassallam,
Jaerony Setyadhi

Wednesday, March 26, 2008

SAMBUTAN DIREKSI ISKA NIAGA DARMA GROUP PADA HUT KE-17 PT INTERNUSA HASTA BUANA

Jakarta 25 Maret 2008.


Assalamualaikum Wr Wb.
Alhamdulillah
atas berkat rahmat dan berkah Allah SWT tanggal 18 Maret 2008 PT Internusa Hasta Buana memasuki usia 17 Tahun.

Suatu hadiah utama yang saya dapat pada tgl. 18 Maret adalah sms dari saudara kita, Irawan yang bersyukur karena kankernya dinyatakan sembuh, kakinya tidak jadi diamputasi, suatu asa dari seorang yang sudah lama tidak berdaya disertai ucapan terimakasihnya yang tulus kepada kita-kita semua di Internusa & WQA yang telah turut memberikan bantuan pengobatannya. Teriring Doa yang dalam saya rasakan, sungguh memberikan suatu energi kekuatan. Amien…

Syukuran hari jadi yang artinya bertambahnya umur tentunya tidak hanya dengan nasi kuning, pemberian bonus, donor darah, pengajian dan kegiatan sosial lainnya, tetapi yang lebih penting lagi selain Doa adalah bagaimana mempersiapkan Perusahaan ke depan, untuk mampu bertahan dan bisa terus tumbuh dalam situasi persaingan yang sangat keras dan tidak sehat sekarang ini dengan istilah persaingan ‘red ocean‘ yang berdarah – darah.

Ya... usia 17 adalah usia remaja yang harus berbenah, untuk menentukan jalan hidup kedepan, mau kemana? dan harus bagaimana?

Sementara situasi external diluar Perusahaan sangat tidak kondusif termasuk peraturan Pemerintah atas persaingan usaha yang tidak jelas, semua cepat berubah,situasi ekonomi yang carut marut dengan melambungnya semua harga, mahalnya semua biaya, ditambah banyaknya bencana, semua ini tentu mempengaruhi kedalam Perusahaan.

Maka bertepatan tgl. 18 Maret, kami di Jakarta mengadakan sharing untuk membahas situasi makro tersebut, juga untuk meningkatkan Synergy internal antar- perusahaan yang ada di dalam Iska Group, kami juga membahas lagi konsep Holding yang insyaAllah step by step akan diwujudkan seutuhnya, karena di sana akan memberikan ruang dan kesempatan bagi siapapun yang berprestasi, bekerja dengan baik, amanah, berdedikasi, bersifat jujur sebagai value utama, dan yang mempunyai niatan murni mujahid bekerja sebagai ibadah.

Mari kita belajar bagaimana alam mengajarkan dari kehidupan Elang, dimana ketika angin badai datang menerjang, sang Elang membuka lebar sayapnya dan terbang lebih tinggi diatas badai, ‘menunggangi angin’ melihat sampai badai reda, dan dia selamat dari hempasan yang menghancurkan.


Kita sebagai manusia tentunya tidak mempunyai sayap untuk terbang, lari meninggalkan masalah kehidupan yang senantiasa ada, baik internal rumah tangga, dengan saudara, tetangga, kawan, sahabat, pun dalam pekerjaan, tetapi Allah SWT memberikan kepada kita akal pikiran untuk menyelesaikan, banyak orang gagal salah melihat untuk mengatasi masalah, sehingga tidak bisa mengelola dengan jernih dan keputusan yang diambil menjadi runyam, dan ada satu hal lagi yang sering kita lupa yaitu kekuatan dahsyat dari Doa, dimana dengannya kita bisa ‘menunggangi masalah’ kehidupan, sampai badai pun berlalu.

Harus selalu diingat bahwa Setan itu diciptakan dan ada, yang selalu menggoda, memecah belah, menghasut, memfitnah, yang tidak menyukai keharmonisan dan kerukunan. Segala tipu daya dibuatnya agar orang menjadi tersesat dari Hukum Tuhan, dan dijerumuskan masuk ke jurang kehancuran.

Betapa mudahnya kita sekarang berkomunikasi melalui internet, dunia menjadi tanpa jarak, tanpa batas untuk kelancaran informasi, tetapi tiba-tiba muncul di sana para ‘hacker’ yang menyebarkan Virus2 dan situs2 yang merusak.

Maka di era sekarang ini kita harus waspada terhadap semua jenis setan, kita harus senantiasa menjaga Iman dan Taqwa dan menerima semua yang kita peroleh ini dengan Syukur.. Sebagaimana Nabi Sulaiman yang digdaya menguasai Angin, bertentara Jin, dan faham bahasa binatang, tetapi tidak sombong sebagaimana sifat ujub yang dihembus2kan setan, Nabi Sulaiman berkata : ‘semua ini adalah dari Tuhanku, untuk mengujiku apakah aku menjadi bersyukur atau kufur..?’

Kita sekarang sedang berproses, kembali alam mengajarkan bagaimana telur yang berubah menjadi ulat yang hidup dari makan dedaunan, untuk selanjutnya berubah menjadi kepompong, yang harus sabar berdiam bermetamorfosis untuk menjadi kupu-kupu yang kemudian bisa terbang jauh kesana kemari dari satu pohon kepohon lain, kiranya kita hidup dalam ruang dan waktu untuk terus berproses..

Selain itu, kita juga mempelajari ilmu metafisika, kecepatan cahaya, lompatan Quantum, kecepatan pikiran, suatu kecepatan Cahaya Ilahi yang sesungguhnya semua ada didalam Kitab2 NYA.

Maka jika kita mau cepat berprestasi, cepat mencapai apa yang kita inginkan, kita bisa melakukannya, caranya dengan menggunakan kekuatan pikiran, afirmasikan /lafazkan keinginan cita2 baik kita, dan selanjutnya biarkan otak bawah sadar kita bekerja.

Syaratnya wadak /badaniah kita sebagai media harus bersih, jujur, dan menjalankan syariat2NYA, maka kecepatan cahaya ilahi tadi akan kita miliki, dan kita menjadi sukses dan bahagia sebagaimana yang kita inginkan. InsyaAllah…

Keajaiban-keajaiban itu sekarang banyak dikupas di dalam buku-buku Spiritual Management di dalam dan di luar negeri juga dari karangan sekumpulan orang2 sukses Amerika, yang sesungguhnya orang2 tua dan para bijak kita sejak dahulu telah memiliki kekuatan spiritual semacam itu pada zamannya, yang kini tengah digali kembali.


Untuk mencapai percepatan dari tim usaha kita, maka masing2 individu harus berperan prima sesuai fungsi masing-masing, untuk diwujudkan dalam kerjasama yang senantiasa :

1. Berusaha agar lahan Perusahaan ini menjadi aman, bukan mencari aman di dalam Perusahaan.
2. Bersama-sama menciptakan Pekerjaan, bukan mencari Pekerjaan.
3. Bekerja dengan Perusahaan2 di dalam Iska Group, bukan pada Perusahaan di dalam Iska Group.
4. Perekrutan SDI senantiasa yang mau untuk memenuhi 9 Kriteria Internusa Value.

Selanjutnya pada tgl. 19 Maret diadakan TOMM (Top Mgt Meeting), meeting ini adalah dengan tuuan :

1. Sebagai Corporate control
2. Untuk mengasah masing-masing Perusahaan agar lebih tajam, di tengah era persaingan keras.
3. Sebagai sarana untuk merekonstruksi sambil jalan atas berjalannya Usaha.
4. Untuk mengetahui Performance masing2 Usaha.
5. Untuk mendapatkan info untuk forecasting bisnis ke depan.

Maka dari TOMM ini hendaknya masing-masing pimpinan Usaha menyampaikan ke unit kerjanya masing2 atas penyelesaian masalah dan kebijakan yang diputuskan, sehingga semua berjalan sebagaimana yang direncanakan.

Ayo kita dukung Program bersama, bekerja, beramal untuk kesuburan ladang usaha kita !

Demikian sebagai sambutan dan catatan dari saya, semoga kedepan sebagaimana prinsip Kaizen, kita menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Amien…

Terimakasih kepada semua individu dalam Unit Usaha yang telah bekerja keras dan berhasil dengan baik, dan bagi Unit Usaha yang raport-nya masih merah, terus berusaha lebih keras sebagaimana Elang mengajarkan.
Akhirnya kalau ada salah kata, salah perbuatan, salah kebijakan saya mohon dimaafkan...

Dirgahayu PT. Internusa Hasta Buana, cikal bakal Iska Holding.
Semoga kita sekalian selalu didalam lindungan & diberikan keberkahan oleh Allah SWT. Amien…

Wabillahi taufiq wal hidayah,
Wassalamualaikum Wr Wb.
Salam takzim


Iskandar Zulkarnain