Y O U R....V I S I O N....I S....O U R....M I S S I O N

Wednesday, October 3, 2007

IKUT DI PROGRAM ”CTP” LAKSANA BERADA DI DUNIA BARU

Di tahun kedua sejak kehadirannya di bisnis freight forwarding, PT FPS Indonesia mulai membenahi kinerja marketingnya dengan meluncurkan program yang diberi nama ”Climb up to the peak (CTP)”. Pada hari Jum’at, 28 September 2007, Tim yang dibentuk dari personel marketing pilihan itu secara resmi dilantik oleh Hendratmoko (Hendi) selaku Direktur PT FPS Indonesia.

Pemberian nama yang diputuskan secara aklamasi pada pagi hari menjelang dilantiknya Tim yang masing-masing pesertanya disebut sebagai ”climber” ini antara lain dilandasi oleh : Pertama, agar terlihat modis tapi memiliki greget yang melukiskan sebuah upaya (effort). Kedua, usaha pencapaian puncak (peak) secara berjenjang memungkinkan individu atau tim melakukan konsolidasi untuk menuju puncak berikutnya. Dan ketiga, penjenjangan yang didasari oleh falsafah hari ini haruslah menjadi hari yang baik, besok menjadi hari yang lebih baik, dan lusa adalah hari yang paling baik.

Program ini lain dari program sebelumnya. Betapa tidak? Dalam program CTP ini terdapat hal-hal baru seperti pemberian nama “climber”, adanya penjenjangan, name tag, game, dan pelantikan.

Hendratmoko (Hendi), Direktur PT FPS Indonesia, dalam sambutan pengarahannya mengatakan, ”Pembentukan Tim Climber dalam Program CTP ini antara lain sebagai upaya mewujudkan peningkatan produktivitas setiap individu di perusahaan apalagi bagi seorang marketing. Seorang customer servicepun dituntut untuk mengkreasikan pola kerjanya sehingga tercipta sebuah bisnis”.

Lebih lanjut beliau mengatakan, ”Pekerjaan marketing sesungguhnya adalah pekerjaan yang menantang, banyak ditawarkan dan di luar negeri justru banyak dicari oleh pencari kerja. Dengan program ini (red: CTP), diharapkan ada pencerahan khususnya bagi peserta program sekaligus diharapkan mampu meraih jenjang yang lebih tinggi.” Ditambahkannya bahwa Tim dalam program ini mengemban tugas khusus (special tasks) yang harus diraihnya.


Meraih Jiwa Climber
Dalam program ini marketing dilukiskan sebagai seorang pendaki gunung. Ada tiga karakter pendaki gunung :

1. Quitter
Seorang Quitter mengkompromikan hidupnya. Ia lebih memilih cara kerja yang mudah-mudah saja, yang tanpa gejolak. Jika dalam usaha meraih tujuan menghadapi kesukaran, ia cenderung lebih mudah terkena depresi, atau frustasi.

2. Camper
Seorang Camper juga mengkompromikan hidupnya, namun dia bekerja keras. Kerja kerasnya itu hanya sebatas yang mampu dia lakukan. Sebenarnya kesuksesan bisa diraih lebih baik lagi, tapi dia cenderung untuk tidak mau mencapainya. Dia sudah cukup puas dengan apa yang sudah diraihnya.

3. Cimber
Tipe orang ini, ia akan terus mendaki sampai puncak tanpa mempertimbangkan lebih jauh keuntungan atau kerugian, ketidakberuntungan dan keberuntungan. Ia juga cenderung tak pernah mempermasalahkan usia, gender, ras, ketidakmampuan fisik atau mental, atau berbagai rintangan lain untuk mencapai puncak kesuksesannya.



Penjenjangan
Program CTP dibagi dalam 4 jenjang yang masing-masing diidentifikasi melalui warnanya yaitu, hijau (green), biru (blue), hitam (black) dan emas (gold). Green climber adalah peserta pemula yang mengikuti program ini.

Untuk green dan blue climber jumlah pencapaian targetnya akan dievaluasi setelah berjalan enam bulan. Bagi green climber yang mencapai target yang ditetapkan secara konsisten akan naik jenjang menjadi blue climber sedangkan untuk blue climber akan naik menjadi black climber. Black climber dan gold climber evaluasinya dilakukan untuk periode satu tahun penuh. Jika berhasil dalam program ini black climber akan naik menjadi gold climber dan bagi gold climber akan memperoleh promosi khusus dari perusahaan.


Pelantikan
Sebelum pelantikan, acara diisi oleh sebuah permainan (game) yang diikuti oleh seluruh peserta program sebagai sebuah tim. Tugas tim ini adalah membuat bangunan atau menara setinggi-tingginya dari sedotan minuman (straw) dengan dibatasi waktunya yang hanya tujuh menit.

Ketiadaan koordinasi pada awal pembuatan menjadikan bangunan yang sudah dibuat bersama sempat dikonstruksi ulang. Ada kira-kira 3 menit waktu terbuang akibat pembuatan ulang bangunan tersebut. Setelah diadakan perubahan seperlunya sekaligus membagi peran kepada para anggota tim maka terciptalah sebuah bangunan baru yang lebih kokoh dari sebelumnya.
















Ketiadaan koordinasi pada awal pembuatan menjadikan bangunan yang sudah dibuat bersama sempat dikonstruksi ulang. Ada kira-kira 3 menit waktu terbuang akibat pembuatan ulang bangunan tersebut. Setelah diadakan perubahan seperlunya sekaligus membagi peran kepada para anggota tim maka terciptalah sebuah bangunan baru yang lebih kokoh dari sebelumnya.




Permainan yang dilakukan merupakan simulasi tentang segala sesuatu yang bakal dihadapi dalam mencapai tujuan program ini. Ada beberapa catatan dari proses pembuatan bangunan itu, yaitu :

- Tidak adanya perencanaan dan pembagian tugas yang jelas menjadikan gambaran bangunan yang akan dibuat menjadi kabur.
- Optimalisasi sumber daya tidak dilakukan sepenuhnya. Akibatnya, di samping kurangnya peran bagi peserta juga masih banyak material yang tidak termanfaatkan.
- Perubahan strategi dengan cepat dilakukan setelah ternyata bangunan yang dibuat pertama tidak memiliki “pondasi” yang kuat apalagi untuk sebuah bangunan yang tinggi.




Selanjutnya, tepat jam 10:30 pelantikan Tim Climber dilakukan dengan memberikan kalungan / identifikasi Climber oleh Hendratmoko (Hendi) dilanjutkan dengan pemberian ucapan selamat oleh undangan dari divisi / unit lain. Undangan dari divisi / unit lain yang hadir itu antara lain, Aep Suparman (GM PT Internusa Hasta Buana), Farid Sudarno (Divisi HR & GA Iska Niaga Darma) dan Hermansyah (Kepala Cabang Cikarang).

Program yang Mencerahkan
Beberapa pendapat dan komentar sekitar program ini dapat disimak pada alinea berikut.

Aep Suparman : ini merupakan strategi dan teknik mencapai pasar yang bagus; realisasi termasuk jika terjadi penyimpangan harus dikontrol dengan baik.

Farid Sudarno : jangan kalah sama Napoleon; Napoleon itu pendek tapi mampu menaklukkan dunia!

Hermansyah : bisa jadi ini adalah Tim yang ditunggu-tunggu; semua harus saling mendukung baik pimpinan maupun peserta.

Reni Siburian (Peserta Program) : dari simulasi yang diperagakan dalam game, peliputan, serta pengalungan identitas Climber kami seolah-olah masuk dalam dunia yang baru, mencerahkan!

Nasser Lisa (Peserta Program) : dari prospek yang jadi sasaran umumnya mereka cukup respek, ada juga yang masih menunggu untuk dipertimbangkan; tapi ada juga yang sudah setuju untuk dikunjungi.


(Jaeroni Setyadhi)

Thursday, September 20, 2007

Gafeksi Bersikap Terbuka Soal Penjamin PPJK

17 September 2007

JAKARTA, Bisnis Indonesia: Gabungan Forwarder dan Ekspedisi Indonesia (Gafeksi) membuka peluang? bagi perusahaan asuransi selain Asuransi Ekspor Indonesia untuk menjadi penjamin risiko pengusaha pengurusan jasa kepabeanan (PPJK).
Ketua Umum Gafeksi Masli Mulia mengatakan Asuransi Ekspor Indonesia (ASEI) dipilih karena rate yang ditawarkan sebesar 1%-1,3% per tahun dinilai Gafeksi merupakan pilihan terbaik.
"Meski begitu, tidak tertu-tup kemungkinan bagi asuransi lain, termasuk Askrindo, untuk menjadi penyelenggara jaminan asuransi PPJK. Silakan bicara dengan ASEI soal pengaturannya dan bagaimana pembagian hasilnya," tandasnya kepada Bisnis, pekan lalu.
Beberapa waktu lalu, telah ditanda tangani nota kesepahaman antara Gafeksi dan ASEI untuk penjaminan PPJK. Gafeksi sendiri saat ini beranggotakan 800 PPJK di DKI Jakarta dan 4.000 pengusaha di seluruh Indonesia.
Sementara itu, papar Masli, pihaknya belum menerima jawaban atas surat penjelasan Gafeksi yang dikirimkan kepada Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi pada 7 September 2007 soal transparansi proses seleksi asuransi jaminan PPJK.
Adapun besaran jaminan yang ditujukan sebagai penjamin guna memulai kegiatan pengurusan jasa kepabeanan bagi PPJK yang telah mendapatkan nomor pokok PPJK bervariasi tergantung dari jumlah kegiatan dan tingkat risiko.
Untuk Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) Tipe A1 dan Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai, misalnya, sebesar Rp250 juta. KPBC Tipe A2 sebesar Rp150 juta, KPBC Tipe A3 (Rp100 juta), KPBC Tipe A4 (Rp50 juta), dan KPBC lainnya sebesar Rp25 juta.
Bentuk jaminan PPJK berdasarkan Perdirjen Bea dan Cukai No. P-22/BC/2007 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemberian Nomor Pokok dan Pengawasan PPJK dapat berupa uang tunai, jaminan bank, dan atau jaminan dari perusahaan asuransi.
Sikap Asakindo
Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan Indonesia (Asakindo) Mulyo Rahardjo menyatakan pihaknya mendukung proses registrasi dan pelaksanaan jaminan PPJK yang digariskan Ditjen Bea dan Cukai.
"Meski PPJK di bawah kami berkisar 90 anggota, namun kami mengedepankan kualitas dan kami membebaskan anggota kami untuk memilih dari tiga pilihan yakni? Bank Syariah Mandiri, Askrindo [Asuransi Kredit Indonesia], dan Asuransi Indo Trisaka," kata Mulyo.
Asakindo juga menyiapkan divisi hukum dan advokasi Asakindo guna menghadapi keluhan dari anggotanya dalam pelaksanaan jaminan dan proses registrasi PPJK tersebut.


Wednesday, August 29, 2007

Uji Coba NSW di Priok Hanya untuk 99 Importir

Rabu, 29/08/2007

JAKARTA: Setelah mencoba bersikap serealistis mungkin atas uji coba pelaksanaan sistem satu jalur kepabeanan di Pelabuhan Tanjung Priok per Desember 2007, pemerintah akhirnya membatasi keterlibatan pengguna jasanya hanya pada 99 importir jalur prioritas.
Pembatasan pengguna jasa dalam uji coba itu sejalan dengan pembatasan keterlibatan agen pemerintahan yang sudah diputuskan sebelumnya, yakni hanya Ditjen Bea dan Cukai, Badan POM, Badan Karantina Perikanan, Badan Karantina Pertanian, dan Departemen Perdagangan.
Demikian disampaikan Sekretaris Tim Persiapan Indonesian National Single Window Edy Putra Irawady dan Wakil Ketua Tim Pelaksana Uji coba INSW Tanjung Priok Susiwijono Mugiharso dalam satu seminar di Jakarta, kemarin.
Di luar pembatasan itu, tim menyiapkan draf peraturan presiden khusus untuk aspek informasi dan transaksi elektronik dalam NSW sebagai antisipasi jika per Desember 2007 pembahasan RUU Informasi dan Transaksi Elektronik di parlemen belum juga rampung.
Edy Putra yang juga Deputi Menko Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan mengakui ketiadaan cyber law akan jadi kendala tersendiri. Apalagi, seluruh negara Asean lain sudah memiliki hukum itu. "Perpres ini alternatif kalau RUU ITE belum disahkan," ujarnya.
Perpres yang bakal menjadi dasar hukum cyber law itu nanti, sambung dia, akan dikhususkan untuk pelaksanaan NSW. "Kita juga meminta bantuan Depkominfo untuk masalah keamanan data. Sebab, target kita pada uji coba Priok itu nanti adalah 100% full IT."
Edy menjelaskan, pada Desember nanti NSW yang akan diterapkan di Tanjung Priok adalah pengembangan awal saja. Pemerintah juga hanya bertindak sebagai penyedia regulasi dan belum memfasilitasinya secara penuh.
Persiapan nasional
Bersamaan dengan itu, tim persiapan NSW akan mempersiapkan sistem NSW yang akan diberlakukan secara nasional. "Maret 2008 kami akan evaluasi uji coba Priok, Maret-April baru persiapan jangka panjang, termasuk penerapan sistem kerja providernya," jelas Edy.
Susiwijono mengatakan dalam uji coba Priok tim akan menggunakan empat strategi. Pertama, dari sisi implementasi IT, teknis sistem menyangkut arahan, fungsi, dan tampilan, yang kesiapannya diyakini bakal 100%.
Kedua, dari sisi entitas, ditetapkan untuk tidak menjangkau semua agen pemerintah, tapi hanya lima agen. Dari sisi pengguna, hanya akan diterapkan pada importir dulu, kemungkinan importir yang terdaftar sebagai importir di jalur prioritas yang jumlahnya baru 99.
Ketiga, dari aspek transaksi kegiatan, ditetapkan hanya melibatkan importir dengan dokumen pemberitahuan impor barang (PIB). Eksportir, importir PIBT (dengan perusahan jasa titipan) atau BC 2.3 (kawasan berikat) tidak dilibatkan.
Keempat, dari aspek lokasi pemberlakuan, yakni hanya di Tanjung Priok. "Bagaimanapun, uji coba Desember ini betul-betul tahap awal, belum semua pakai portal. Termasuk otomasi izin. Dari Depdag misalnya, ada 38 izin, mungkin kita akan masukkan 35 saja."
Oleh Bastanul Siregar
Bisnis Indonesia

Jalur Hijau Plus Efektif 1 September 2007

Oleh : Bastanul Siregar

Senin, 27/08/2007

JAKARTA (Bisnis Indonesia): Ditjen Bea dan Cukai akan memulai kebijakan jalur hijau plus dan jalur kuning efektif per 1 September 2007.
Direktur Teknis Kepabeanan Ditjen Bea dan Cukai Teguh Indrayana memaparkan saat ini pihaknya tengah menyusun daftar perusahaan yang akan dimasukkan baik ke jalur kuning maupun jalur hijau plus.
"Daftanya tengah kami susun, dan dalam waktu dekat, 1 September 2007 kami akan berlakukan," ujarnya siang ini.
Jalur kuning adalah jalur antara jalur merah dan jalur hijau, bila di jalur merah pemeriksaan dilakukan baik fisik maupun dokumen, di jalur kuning pemeriksaan hanya dilakukan pada dokumen.
Sementara jalur hijau plus adalah jalur antara jalur hijau dan jalur prioritas. Bila di jalur hijau importir tidak bisa menangguhkan pembayaran bea masuk, di jalur hijau plus importir bisa melakukan penangguhan bea masuk.
Teguh optimistis pemberlakukan kebijakan ini akan makin membuat pelayanan importasi bea cukai semakin efisien. Adapun menyangkut daftar perusahaan sesuai jalurnya, perusahaan-perusahaan itu tetap akan ditinjau secara berkala.
"Kami sudah punya kriterianya, jadi mana yang recomended, mana yang belum layak, itu bisa kami ketahui. Mungkin nanti kami akan pakai metode random," tambahnya.(dj)

Thursday, August 16, 2007

KPPU Investigasi Biaya Tinggi di Tanjung Priok

14 Agustus 2007

JAKARTA, Bisnis Indonesia: Sedikitnya 15 perusahaan akan dimintai keterangan oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) karena diduga mengenakan biaya tinggi untuk pelayanan jasa barang dan peti kemas kepada importir serta tidak melaksanakan kesepakatan tarif lini 2 Pelabuhan Tanjung Priok.

Hal itu diungkapkan Ketua Tim KPPU untuk Evaluasi Kebijakan Kesepakatan Tarif Lini 2 Pelabuhan Tanjung Priok, Ahmad Ramadhan Siregar kepada Bisnis, seusai pertemuan KPPU dengan Gafeksi kemarin.

"Kami akan meminta keterangan dari semua pihak, baik forwarder yang tergabung maupun yang tidak tergabung dengan Gafeksi. Kami juga segera meminta keterangan dari importir guna mengetahui ruang efisiensi dari kesepakatan tarif lini 2," katanya.

Dia menuturkan fokus KPPU juga akan ditujukan untuk mengidentifikasi soal reduksi tarif pelayanan jasa barang dan peti kemas di lini 2, seperti yang diungkapkan Gafeksi pada pertemuan dengan KPPU.

"Soal tarif, kami sepakat memang tarif dari kesepakatan itu lebih efisien bagi importir dan kami mendukung. Tapi soal kesepakatan, ini yang terus masih kami telusuri dan konfirmasi terus dilakukan. Kami juga ingin tahu kenapa ada pihak yang tidak bisa menerapkan penurunan harga ini, apa ada masalah di struktur biaya atau apa."

Ketua bidang Angkutan Laut DPW Gabungan Forwarder dan Ekspedisi Indonesia (Gafeksi) DKI Jakarta Alfansuri mengatakan pada pertemuan itu Gafeksi menyerahkan bukti-bukti terhadap KPPU yang ditujukan agar lembaga tersebut dapat melihat bahwa kesepakatan itu justru ditujukan untuk menurunkan tarif.

"Kami tunjukkan tarif biaya tinggi yang komponennya sangat beragam dan besarannya juga sangat beragam. Bila dibandingkan dengan tarif kesepakatan sangat berbeda," tutur Alfansuri.

Dia mengungkapkan biaya gudang yang diterapkan oleh anggota Gafeksi hanya Rp200.000, namun per Agustus ini ada yang mengenakan tarif Rp2 juta untuk layanan yang sama.

Penurunan biaya
Dia mengatakan pihaknya telah menyampaikan kepada KPPU bahwa kesepakatan tarif itu ditujukan bagi efisiensi ekonomi nasional melalui penurunan biaya. Gafeksi juga mengemukakan bahwa bisnis tarif pelayanan jasa barang dan peti kemas di lini 2 tidak bisa mengikuti mekanisme pasar karena importir tidak memiliki kebebasan memilih konsolidator. Pasalnya, kontainer importir berada di tangan konsolidator.

"Importir akan membayar berapa pun karena barangnya ada di tangan agen konsolidator. Tapi, kesepakatan ini untuk menurunkan biaya, bukan menaikkan."

Selain pelaku usaha yang menerapkan biaya tinggi, KPPU juga mengungkapkan pada Gafeksi bahwa lembaga tersebut segera memanggil importir yang mau membayar di atas harga kesepakatan.

"KPPU akan terjun ke lapangan dan mencari informasi langsung dari importir yang terkena biaya tinggi. KPPU sepakat bahwa tarif dari kesepakatan itu sejalan dengan tujuan KPPU guna efisiensi ekonomi negara dan kami sangat peduli pada biaya tinggi," tandas Ahmad.

Dalam hal ini KPPU melakukan pengawasan terhadap sejumlah kesepakatan tarif di Tanjung Priok guna mengkaji dugaan persaingan usaha tidak sehat.

Sebelumnya, Ketua KPPU M. Iqbal mengungkapkan pemantauan kesepakatan tarif pelayanan jasa barang dan peti kemas di lini 2 Tanjung Priok ditujukan untuk memantau kesepakatan tarif jasa kapal dan bongkar muat di pelabuhan terbesar di Indonesia itu.

Efisiensi Pelabuhan Dorong Daya Saing

14 Agustus 2007

JAKARTA, Bisnis Indonesia: Kelancaran arus barang di pelabuhan, terutama Tanjung Priok, adalah syarat mutlak untuk meningkatkan daya saing nasional dalam jaringan produksi global.

"Namun target itu akan sia-sia jika tidak dibarengi kesungguhan dalam merealisasikan kelancaran arus barang di pelabuhan," kata Direktur Jenderal Bea dan Cukai Anwar Suprijadi dalam dialog terbatas Menata Sistem Arus Barang dan Dokumen di Pelabuhan Tanjung Priok, pekan lalu.

Pelabuhan Tanjung Priok, kata dia, berperan penting dalam meningkatkan daya saing tersebut, kendati tudingan dan sorotan atas lambannya kinerja operator pelabuhan itu masih saja bergulir.
Hal ini, menurut dia, tak lain karena peran Tanjung Priok sebagai pelabuhan terbesar di Indonesia, di mana lebih dari 50% pengapalan ekspor impor melalui pelabuhan tersebut.

Di pelabuhan itu juga terdapat dua operator terminal peti kemas terbesar, yakni PT Jakarta International Container Terminal (JICT) dengan volume produktivitas per tahun rata-rata 1,6 juta TEUs, dan Termial Petikemas (TPS) Koja mencapai 600.000 TEUs per tahun.

Sayangnya, lanjut Anwar, hingga saat ini Tanjung Priok masih menyimpan segudang persoalan, a.l. tata ruang yang belum terintegrasi dengan kepentingan bisnis kepelabuhanan, akses jalan yang semrawut, infrastruktur dan peralatan yang kurang memadai, serta minimnya pemanfaatan teknologi informasi.

Berbagai persoalan itu diyakini sebagai salah satu penyebab munculnya ketidaklancaran arus barang yang efeknya menimbulkan biaya tinggi di pelabuhan.

Biaya tinggi
Berdasarkan data Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta, kontribusi biaya transportasi dan distribusi barang saat ini mencapai 18% terhadap harga produk manufaktur.

Bahkan, jika dilihat dari harga kebutuhan pokok dan pertanian di pasar, biaya untuk transportasi dan distribusi barang mencapai 38% dari harga tersebut.

"Jelas angka ini terlalu tinggi dan akhirnya konsumen di dalam negeri yang paling terbebani, sementara untuk bersaing di tingkat global, produk kita tak mampu berkompetisi."

Jadi, lanjut Anwar, tidak ada cara lain, kelancaran distribusi menjadi kunci dalam kompetisi perdagangan global, di mana kelancaran penanganan barang di pelabuhan merupakan salah satu bagian terpenting dalam mata rantai tersebut.

Pembiaran terhadap kondisi ini, kata Dirjen Bea Cukai, akan menyebabkan daya saing produk nasional semakin merosot di pasar internasional, selain produk nasional makin digerogoti oleh produk negara lain yang lebih efisien dan berdaya saing tinggi.

Berdasarkan Word Competitiveness Yearbook 2007 yang diterbitkan International Institute for Management Development (IMD), peringkat daya saing produk Indonesia tahun ini berada di urutan ke-54 dari 55 negara yang disurvei lembaga tersebut. Padahal pada 2006, Indonesia masih menempati urutan ke-52 dan urutan ke 50 pada 2005.

Di bidang kepelabuhanan, dalam kajian Bank Dunia yang dirilis pada 2004, tingkat efisiensi pelabuhan di Indonesia berada pada urutan keempat terbawah di dunia, setelah Vietnam, Filipina, dan Peru. (k1)

Wednesday, August 15, 2007

SERIBU MASJID SATU JUMLAHNYA

Emha Ainun Nadjib, 1994

Satu
Masjid itu dua macamnya
Satu ruh, lainnya badan
Satu di atas tanah berdiri
Lainnya bersemayam di hati
Tak boleh hilang salah satunyaa
Kalau ruh ditindas, masjid hanya batu
Kalau badan tak didirikan, masjid hanya hantu
Masing-masing kepada Tuhan tak bisa bertamu

Dua
Masjid selalu dua macamnya
Satu terbuat dari bata dan logam
Lainnya tak terperi
Karena sejati

Tiga
Masjid batu bata
Berdiri di mana-mana
Masjid sejati tak menentu tempat tinggalnya
Timbul tenggelam antara ada dan tiada
Mungkin di hati kita
Di dalam jiwa, di pusat sukma
Membisikkan nama Allah ta'ala
Kita diajari mengenali-Nya
Di dalam masjid batu bata
Kita melangkah, kemudian bersujud
Perlahan-lahan memasuki masjid sunyi jiwa
Beriktikaf, di jagat tanpa bentuk tanpa warna

Empat
Sangat mahal biaya masjid badan
Padahal temboknya berlumut karena hujan
Adapun masjid ruh kita beli dengan ketakjuban
Tak bisa lapuk karena asma-Nya kita zikirkan
Masjid badan gampang binasa
Matahari mengelupas warnanya
Ketika datang badai, beterbangan gentingnya
Oleh gempa ambruk dindingnya
Masjid ruh mengabadi
Pisau tak sanggup menikamnya
Senapan tak bisa membidiknya
Politik tak mampu memenjarakannya

Lima
Masjid ruh kita bawa ke mana-mana
Ke sekolah, kantor, pasar dan tamasya
Kita bawa naik sepeda, berjejal di bis kota
Tanpa seorang pun sanggup mencopetnya
Sebab tangan pencuri amatlah pendeknya
Sedang masjid ruh di dada adalah cakrawala
Cengkeraman tangan para penguasa betapa kerdilnya
Sebab majid ruh adalah semesta raya
Jika kita berumah di masjid ruh
Tak kuasa para musuh melihat kita
Jika kita terjun memasuki genggaman-Nya
Mereka menembak hanya bayangan kita

Enam
Masjid itu dua macamnya
Masjid badan berdiri kaku
Tak bisa digenggam
Tak mungkin kita bawa masuk kuburan
Adapun justru masjid ruh yang mengangkat kita
Melampaui ujung waktu nun di sana
Terbang melintasi seribu alam seribu semesta
Hinggap di keharibaan cinta-Nya

Tujuh
Masjid itu dua macamnya
Orang yang hanya punya masjid pertama
Segera mati sebelum membusuk dagingnya
Karena kiblatnya hanya batu berhala
Tetapi mereka yang sombong dengan masjid kedua
Berkeliaran sebagai ruh gentayangan
Tidak memiliki tanah pijakan
Sehingga kakinya gagal berjalan
Maka hanya bagi orang yang waspada
Dua masjid menjadi satu jumlahnya
Syariat dan hakikat
Menyatu dalam tarikat ke makrifat

Delapan
Bahkan seribu masjid, sjuta masjid
Niscaya hanya satu belaka jumlahnya
Sebab tujuh samudera gerakan sejarah
Bergetar dalam satu ukhuwah islamiyah
Sesekali kita pertengkarkan soal bid'ah
Atau jumlah rakaat sebuah shalat sunnah
Itu sekedar pertengkaran suami istri
Untuk memperoleh kemesraan kembali
Para pemimpin saling bercuriga
Kelompok satu mengafirkan lainnya
Itu namanya belajar mendewasakan khilafah
Sambil menggali penemuan model imamah

Sembilan
Seribu masjid dibangun
Seribu lainnya didirikan
Pesan Allah dijunjung di ubun-ubun
Tagihan masa depan kita cicilkan
Seribu orang mendirikan satu masjid badan
Ketika peradaban menyerah kepada kebuntuan
Hadir engkau semua menyodorkan kawruh
Seribu masjid tumbuh dalam sejarah
Bergetar menyatu sejumlah Allah
Digenggamnya dunia tidak dengan kekuasaan
Melainkan dengan hikmah kepemimpinan
Allah itu mustahil kalah
Sebab kehidupan senantiasa lapar nubuwwah
Kepada berjuta Abu Jahl yang menghadang langkah
Muadzin kita selalu mengumandangkan Hayya 'Alal Falah!

Emha Ainun Nadjib, 1994