Y O U R....V I S I O N....I S....O U R....M I S S I O N

Monday, November 23, 2009

PANDUAN MEMILIH FORWARDER BERKELAS

Posted by admin in Perdagangan on 04 3rd, 2009 | no responses

Bagi kita para ekportir, keberadaan perusahaan forwarder sangat penting sekali dalam keberlansungan bisnis yang dijalani. banyak sekali perusahaan Forwarder yang ada, oleh karena itu tentunya kita akan menjalin kerjasama yang baik dengan forwarder, oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu di perhatikan sebelum kita memiih forwarder.

Berikut ini adalah sejumlah panduan memilih forwarder :

1. Pastikan performa perusahaan tersebut memiliki pengalaman forwarding.
2. Lakukan pengecekan keanggotaan pada asosiasi profesi sebagai referensi dan jalinan kerjasama.
3. Pilih forwarder yang berpengalaman pada ekpor yang dituju untuk menghindari traffic, legalitas dokumen dan kendala ekpor lainnya.
4. Pastikan pengalaman pada barang komoditas yang menjadi spesialisasi baginya, apakah hanya cenderung untuk barang elektronik, farmasi, chemical, dll.
5. Memiliki sumber daya manusia yang andal dan profesional.
6. Jangan tergiur harga atau tarif murah karena perang tarif jasa mengaburkan jaminan dokumen dan pengiriman barang sesuai keinginan customer. Selain itu perang tarif membuat forwarder terkadang hanya memproritaskan sisi kuantitas,volume ekpor (target tonase, kontainer) daripada sisi kualitas. ini perlu diperhatikan karena beberapa perusahaan forwarding tak lebih dari perusahaan subagen alias broker saja.
7. Pastikan perusahaan tersebut memiliki akses yang baik terhadap perusahaan pelayaran maupun penerbangan sebagai shipper.
8. Forwarder memberikan kepastian jaminan kepada pelanggan atas hambatan, pelanggaran, dan keberhasilan tranport ekpor, termasuk jaminan insurance dan legal document lainnya.
9. Nama besar forwarder umumnya karena lebih memiliki jaringan (network) luas, sementara tarif yang di tetapkan justru lebih mahal.
10. Cari informasi mengenai baik buruknya track record perusahaan forwarding tersebut.

Kira-kira seperti itu, semoga anda para ekportir dapat terbantu dengan ini.


http://www.petaniindonesia.com/2009/04/03/panduan-memilih-forwarder-berkelas/

Tuesday, October 27, 2009

FPS GROUP TO MEET IN MACAU FOR ITS ANNUAL GENERAL MEETING

Wednesday, September 02, 2009
---------------------------------------------------------------------------
Plans are being laid for this year’s Annual General Meeting (AGM) and Conference of the group’s member companies which is scheduled to take place in Macau between 25 and 29 October 2009.

The four-day event will provide attendees from around the world with an agenda of meetings, forums, one-to-one networking and social events, and a great opportunity to plan and shape the future growth of the FPS group, in regards to network expansion and service development.

The event gives opportunities for attendees to hear senior FPS executives report on the general performance of the group. Add to that the chance to meet fellow member companies from around the world and you have the recipe for a successful event.

It is anticipated that over 150 executives, representing group partners from around the world, will attend the conference.


http://www.fps-group.net/News.aspx?id=68

Monday, September 14, 2009

RAHASIA SEDEKAH

14 Nov 2008
Your webmaster search is: kisah sedekah

Kisah ini saya kutip dari blognya mas Ferdian, yang merupakan dialog Dialog antara Ust. Yusuf Mansur dengan Security POM Bensin. Semoga bermanfaat bagi pembaca, panjang ceritanya tapi kalau dibaca sampe selesai pasti mendapat manfaatnya.

Banyak yang mau berubah, tapi memilih jalan mundur. Andakah orangnya?

Satu hari saya jalan melintas di satu daerah. Tetidur di dalam mobil. Saat terbangun, ada tanda pom bensin sebentar lagi. Saya pesen ke supir saya: “Nanti di depan ke kiri ya”. “Masih banyak, Pak Ustadz”. Saya paham. Supir saya mengira saya pengen beli bensin. Padahal bukan.

Saya pengen pipis. Begitu berhenti dan keluar dari mobil, ada seorang sekuriti. “Pak Ustadz!”. Dari jauh ia melambai dan mendekati saya. Saya menghentikan langkah. Menunggu beliau. “Pak Ustadz, alhamdulillah nih bisa ketemu Pak Ustadz. Biasanya kan hanya melihat di TV saja.”. Saya senyum aja. Ga ke-geeran, insya Allah, he he he. “Saya ke toilet dulu ya”. “Nanti saya pengen ngobrol boleh Ustadz?” “Saya buru-buru loh. Tentang apaan sih?”. “Saya bosen jadi satpam Pak Ustadz”. Sejurus kemudian saya sadar, ini Allah pasti yang “berhentiin” saya.

Lagi enak-enak tidur di perjalanan, saya terbangun pengen pipis. Eh nemu pom bensin. Akhirnya ketemu sekuriti ini. Berarti barangkali saya kudu bicara dengan dia. Sekuriti ini barangkali “target operasi” dakwah hari ini. Bukan jadwal setelah ini. Begitu pikir saya. Saya katakan pada sekuriti yang mulia ini, “Ok, ntar habis dari toilet ya”.

***

“Jadi, pegimana? Bosen jadi satpam? Emangnya ga gajian?”, tanya saya membuka percakapan. Saya mencari warung kopi, untuk bicara-bicara dengan beliau ini. Alhamdulillah ini pom bensin bagus banget. Ada minimart nya yang dilengkapi fasilitas ngopi-ngopi ringan. “Gaji mah ada Ustadz. Tapi masa gini-gini aja?”
“Gini-gini aja itu, kalo ibadahnya gitu-gitu aja, ya emang udah begitu. Distel kayak apa juga, agak susah buat ngerubahnya”. “Wah, ustadz langsung nembak aja nih”. Saya meminta maaf kepada sekuriti ini umpama ada perkataan saya yang salah.

Tapi umumnya begitu lah manusia. Rizki mah mau banyak, tapi sama Allah ga mau mendekat. Rizki mah mau nambah, tapi ibadah dari dulu ya begitu-begitu saja. “Udah shalat ashar?” “Barusan Pak Ustadz. Soalnya kita kan tugas. Tugas juga kan ibadah, iya ga? Ya saya pikir sama saja”. “Oh, jadi ga apa-apa telat ya? Karena situ pikir kerja situ adalah juga ibadah?” Sekuriti itu senyum aja. Disebut jujur mengatakan itu, bisa ya bisa tidak. Artinya, sekuriti itu bisa benar-benar menganggap kerjaannya ibadah, tapi bisa juga ga. Cuma sebatas omongan doangan. Lagian, kalo nganggap kerjaan-kerjaan kita ibadah, apa yang kita lakukan di dunia ini juga ibadah, kalau kita niatkan sebagai ibadah.

Tapi, itu ada syaratnya. Apa syaratnya? Yakni kalau ibadah wajibnya, tetap nomor satu. Kalau ibadah wajibnya nomor tujuh belas, ya disebut bohong dah tuh kerjaan adalah ibadah. Misalnya lagi, kita niatkan usaha kita sebagai ibadah, boleh ga? Bagus malah. Bukan hanya boleh. Tapi kemudian kita menerima tamu sementara Allah datang. Artinya kita menerima tamu pas waktu shalat datang, dan kemudian kita abaikan shalat, kita abaikan Allah, maka yang demikian masihkah pantas disebut usaha kita adalah ibadah?

Apalagi kalau kemudian hasil kerjaan dan hasil usaha, buat Allah nya lebih sedikit ketimbang buat kebutuhan-kebutuhan kita. Kayaknya perlu dipikirin lagi tuh sebutan-sebutan ibadah. “Disebut barusan itu maksudnya jam setengah limaan ya? Saya kan baru jam 5 nih masuk ke pom bensin ini”, saya mengejar. “Ya, kurang lebih dah”. Saya mengingat diri saya dulu yang dikoreksi oleh seorang faqih, seorang ‘alim, bahwa shalat itu kudu tepat waktu. Di awal waktu. Tiada disebut perhatian sama Yang Memberi Rizki bila shalatnya tidak tepat waktu.

Aqimish shalaata lidzikrii, dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku. Lalu, kita bersantai-santai dalam mendirikan shalat. Entar-entaran. Itu kan jadi sama saja dengan mengentar-entarkan mengingat Allah. Maka lalu saya ingatkan sekuriti yang entahlah saya merasa he is the man yang Allah sedang berkenan mengubahnya dengan mempertemukan dia dengan saya. “Gini ya Kang. Kalo situ shalatnya jam setengah lima, memang untuk mengejar ketertinggalan dunia saja, jauh tuh. Butuh perjalanan satu setengah jam andai ashar ini kayak sekarang, jam tiga kurang dikit.

Bila dalam sehari semalam kita shalat telat terus, dan kemudian dikalikan sejak akil baligh, sejak diwajibkan shalat, kita telat terus, maka berapa jarak ketertinggalan kita tuh? 5x satu setengah jam, lalu dikali sekian hari dalam sebulan, dan sekian bulan dalam setahun, dan dikali lagi sekian tahun kita telat. Itu baru telat saja, belum kalo ketinggalan atau kelupaan, atau yang lebih bahayanya lagi kalau bener-benar lewat tuh shalat? Wuah, makin jauh saja mestinya kita dari senang”.

Mudah-mudahan sekuriti ini paham apa yang saya omongin. Dari raut mukanya, nampaknya ia paham. Mudah-mudahan demikian juga saudara-saudara ya? He he he. Belagu ya saya? Masa omongan cetek begini kudu nanya paham apa engga sama lawan bicara? Saya katakan pada dia. Jika dia alumni SMU, yang selama ini telat shalatnya, maka kawan-kawan selitingnya mah udah di mana, dia masih seperti diam di tempat. Bila seseorang membuka usaha, lalu ada lagi yang buka usaha, sementara yang satu usahanya maju, dan yang lainnya sempit usahanya, bisa jadi sebab ibadah yang satu itu bagus sedang yang lain tidak.

Dan saya mengingatkan kepada Anda sekalian untuk tidak menggunakan mata telanjang untuk mengukur kenapa si Fulan tidak shalat, dan cenderung jahat lalu hidupnya seperti penuh berkah? Sedang si Fulan yang satu yang rajin shalat dan banyak kebaikannya, lalu hidupnya susah. Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti ini cukup kompleks. Tapi bisa diurai satu-satu dengan bahasa-bahasa kita, bahasa-bahasa kehidupan yang cair dan dekat dengan fakta. Insya Allah ada waktunya pembahasan yang demikian.

Kembali kepada si sekuriti, saya tanya, “Terus, mau berubah?” “Mau Pak Ustadz. Ngapain juga coba saya kejar Pak Ustadz nih, kalo ga serius?” “Ya udah, deketin Allah dah. Ngebut ke Allah nya”. “Ngebut gimana?” “Satu, benahin shalatnya. Jangan setengah lima-an lagi shalat asharnya. Pantangan telat. Buru tuh rizki dengan kita yang datang menjemput Allah. Jangan sampe keduluan Allah”. Si sekuriti mengaku mengerti, bahwa maksudnya, sebelum azan udah standby di atas sajadah. Kita ini pengen rizkinya Allah, tapi ga kenal sama Yang Bagi-bagiin rizki.

Contohnya ya pekerja-pekerja di tanah air ini. Kan aneh. Dia pada kerja supaya dapat gaji. Dan gaji itu rizki. Tapi giliran Allah memanggil, sedang Allah lah Tuhan yang sejatinya menjadikan seseorang bekerja, malah kelakuannya seperti ga menghargai Allah. Nemuin klien, rapih, wangi, dan persiapannya masya Allah. Eh, giliran ketemu Allah, amit-amit pakaiannya, ga ada persiapan, dan tidak segan-segan menunjukkan wajah dan fisik lelahnya. Ini namanya ga kenal sama Allah. “Yang kedua,” saya teruskan. “Yang kedua, keluarin sedekahnya”. Saya inget betul. Sekuriti itu tertawa. “Pak Ustadz, pegimana mau sedekah, hari gini aja nih, udah pada habis belanjaan. Hutang di warung juga terpaksa dibuka lagi,. Alias udah mulai ngambil dulu bayar belakangan”.

“Ah, ente nya aja kali yang kebanyakan beban. Emang gajinya berapa?” “Satu koma tujuh, Pak ustadz”.
“Wuah, itu mah gede banget. Maaf ya, untuk ukuran sekuriti, yang orang sering sebut orang kecil, itu udah gede”. “Yah, pan kudu bayar motor, bayar kontrakan, bayar susu anak, bayar ini bayar itu. Emang ga cukup Pak ustadz”. “Itu kerja bisa gede, emang udah lama kerjanya?” “Kerjanya sih udah tujuh taon. Tapi gede gaji bukan karena udah lama kerjanya. Saya ini kerjanya pagi siang sore malem, ustadz”.
“Koq bisa?” “Ya, sebab saya tinggal di mess. Jadi dihitung sama bos pegimana gitu sampe ketemu angka 1,7jt”. “Terus, kenapa masih kurang?” “Ya itu, sebab saya punya tanggungan banyak”. “Secara dunianya, lepas aja itu tanggungan. Kayak motor. Ngapain juga ente kredit motor? Kan ga perlu?” “Pengen kayak orang-orang Pak Ustadz”. “Ya susah kalo begitu mah. Pengen kayak orang-orang, motornya. Bukan ilmu dan ibadahnya. Bukan cara dan kebaikannya. Repot”. Sekuriti ini nyengir. Emang ini motor kalo dilepas, dia punya 900 ribu.

Rupanya angsuran motornya itu 900 ribu. Ga jelas tuh darimana dia nutupin kebutuhan dia yang lain. Kontrakan saja sudah 450 ribu sama air dan listrik. Kalo ngelihat keuangan model begini, ya nombok dah jadinya. “Ya udah, udah keterlanjuran ya? Ok. Shalatnya gimana? Mau diubah?” “Mau Ustadz. Saya benahin dah”. “Bareng sama istri ya. Ajak dia. Jangan sendirian. Ibarat sendal, lakukan berdua. Makin cakep kalo anak-anak juga dikerahin. Ikutan semuanya ngebenahin shalat”. “Siap ustadz”. “Tapi sedekahnya tetap kudu loh”. “Yah Ustadz. Kan saya udah bilang, ga ada”. “Sedekahin aja motornya. Kalo engga apa keq”. “Jangan Ustadz. Saya sayang-sayang ini motor. Susah lagi belinya. Tabungan juga ga ada. Emas juga ga punya”.

Sekuriti ini berpikir, saya kehabisan akal untuk nembak dia. Tapi saya akan cari terus. Sebab tanggung. Kalo dia hanya betulin shalatnya saja, tapi sedekahnya tetap ga keluar, lama keajaiban itu akan muncul. Setidaknya menurut ilmu yang saya dapat. Kecuali Allah berkehendak lain. Ya lain soal itu mah. Sebentar kemudian saya bilang sama ini sekuriti, “Kang, kalo saya unjukin bahwa situ bisa sedekah, yang besar lagi sedekahnya, situ mau percaya?”. Si sekuriti mengangguk. “Ok, kalo sudah saya tunjukkan, mau ngejalanin?”. Sekuriti ini ngangguk lagi. “Selama saya bisa, saya akan jalanin,” katanya, manteb. “Gajian bulan depan masih ada ga?” “Masih. Kan belum bisa diambil?” “Bisa. Dicoba dulu”. “Entar bulan depan saya hidup pegimana?” “Yakin ga sama Allah?” “Yakin”. “Ya kalo yakin, titik. Jangan koma. Jangan pake kalau”. Sekuriti ini saya bimbing untuk kasbon. Untuk sedekah. Sedapetnya. Tapi usahakan semua. Supaya bisa signifikan besaran sedekahnya. Sehingga perubahannya berasa. Dia janji akan ngebenahin mati-matian shalatnya. Termasuk dia akan polin shalat taubatnya, shalat hajatnya, shalat dhuha dan tahajjudnya. Dia juga janji akan rajinin di waktu senggang untuk baca Al Qur’an.

Perasaan udah lama banget dia emang ga lari kepada Allah. Shalat Jum’at aja nunggu komat, sebab dia sekuriti. Wah, susah dah. Dan itu dia aminin. Itulah barangkali yang sudah membuat Allah mengunci mati dirinya hanya menjadi sekuriti sekian tahun, padahal dia Sarjana Akuntansi! Ya, rupanya dia ini Sarjana Akuntansi. Pantesan juga dia ga betah dengan posisinya sebagai sekuriti. Ga kena di hati. Ga sesuai sama rencana. Tapi ya begitu dah hidup. Apa boleh buta, eh, apa boleh buat. Yang penting kerja dan ada gajinya.

Bagi saya sendiri, ga mengapa punya banyak keinginan. Asal keinginan itu keinginan yang diperbolehkan, masih dalam batas-batas wajar. Dan ga apa-apa juga memimpikan sesuatu yang belom kesampaian sama kita. Asal apa? Asal kita barengin dengan peningkatan ibadah kita. Kayak sekarang ini, biarin aja harga barang pada naik. Ga usah kuatir. Ancem aja diri, agar mau menambah ibadah-ibadahnya. Jangan malah berleha-leha. Akhirnya hidup kemakan dengan tingginya harga,. Ga kebagian.
***

Sekuriti ini kemudian maju ke atasannya, mau kasbon. Ketika ditanya buat apa? Dia nyengir ga jawab. Tapi ketika ditanya berapa? Dia jawab, Pol. Satu koma tujuh. Semuanya. “Mana bisa?” kata komandannya. “Ya Pak, saya kan ga pernah kasbon. Ga pernah berani. Baru ini saya berani”. Komandannya terus mengejar, buat apa? Akhirnya mau ga mau sekuriti ini jawab dengan menceritakan pertemuannya dengan saya. Singkat cerita, sekuriti ini direkomendasikan untuk ketemu langsung sama ownernya ini pom bensin. Katanya, kalau pake jalur formal, dapet kasbonan 30% aja belum tentu lolos cepet. Alhamdulillah, bos besarnya menyetujui. Sebab komandannya ini ikutan merayu, “Buat sedekah katanya Pak”, begitu kata komandannya.

Subhaanallaah, satu pom bensin itu menyaksikan perubahan ini. Sebab cerita si sekuriti ini sama komandannya, yang merupakan kisah pertemuannya dengan saya, menjadi kisah yang dinanti the end story nya. Termasuk dinanti oleh bos nya. “Kita coba lihat, berubah ga tuh si sekuriti nasibnya”, begitu lah pemikiran kawan-kawannya yang tahu bahwa si sekuriti ini ingin berubah bersama Allah melalui jalan shalat dan sedekah.

Hari demi hari, sekuriti ini dilihat sama kawan-kawannya rajin betul shalatnya. Tepat waktu terus. Dan lumayan istiqamah ibadah-ibadah sunnahnya. Bos nya yang mengetahui hal ini, senang. Sebab tempat kerjanya jadi barokah dengan adanya orang yang mendadak jadi saleh begini. Apalagi kenyataannya si

sekuriti ga mengurangi kedisiplinan kerjaannya. Malah tambah cerah muka nya. Sekuriti ini mengaku dia cerah, sebab dia menunggu janjinya Allah. Dan dia tahu janji Allah pastilah datang. Begitu katanya, menantang ledekan kawan-kawannya yang pada mau ikutan rajin shalat dan sedekah, asal dengan catatan dia berhasil dulu.

Saya ketawa mendengar dan menuliskan kembali kisah ini. Bukan apa-apa, saya demen ama yang begini. Sebab insya Allah, pasti Allah tidak akan tinggal diam. Dan barangkali akan betul-betul mempercepat perubahan nasib si sekuriti. Supaya benar-benar menjadi tambahan uswatun hasanah bagi yang belum punya iman. Dan saya pun tersenyum dengan keadaan ini, sebab Allah pasti tidak akan mempermalukannya juga, sebagaimana Allah tidak akan mempermalukan si sekuriti.

Suatu hari bos nya pernah berkata, “Kita lihatin nih dia. Kalo dia ga kasbon saja, berarti dia berhasil. Tapi kalo dia kasbon, maka kelihatannya dia gagal. Sebab buat apa sedekah 1 bulan gaji di depan yang diambil di muka, kalau kemudian kas bon. Percuma”. Tapi subhaanallah, sampe akhir bulan berikutnya, si sekuriti ini ga kasbon.

Berhasil kah? Tunggu dulu. Kawan-kawannya ini ga melihat motor besarnya lagi. Jadi, tidak kasbonnya dia ini, sebab kata mereka barangkali aman sebab jual motor. Bukan dari keajaiban mendekati Allah. Saatnya ngumpul dengan si bos, ditanyalah si sekuriti ini sesuatu urusan yang sesungguhnya adalah rahasia dirinya. “Bener nih, ga kasbon? Udah akhir bulan loh. Yang lain bakalan gajian. Sedang situ kan udah diambil bulan kemaren”.

Sekuriti ini bilang tadinya sih dia udah siap-siap emang mau kasbon kalo ampe pertengahan bulan ini ga ada tanda-tanda. Tapi kemudian cerita si sekuriti ini benar-benar bikin bengong orang pada. Sebab apa? Sebab kata si sekuriti, pasca dia benahin shalatnya, dan dia sedekah besar yang belum pernah dia lakukan seumur hidupnya, yakni hidupnya di bulan depan yang dia pertaruhkan, trjadi keajaiban. Di kampung, ada transaksi tanah, yang melibatkan dirinya. Padahal dirinya ga trlibat secara fisik. Sekedar memediasi saja lewat sms ke pembeli dan penjual. Katanya, dari transaksi ini, Allah persis mengganti 10x lipat. Bahkan lebih.

Dia sedekah 1,7jt gajinya. Tapi Allah mengaruniainya komisi penjualan tanah di kampungnya sebesar 17,5jt. Dan itu trjadi begitu cepat. Sampe-sampe bulan kemaren juga belum selesai. Masih tanggalan bulan kemaren, belum berganti bulan. Kata si sekuriti, sadar kekuatannya ampe kayak gitu, akhirnya dia malu sama Allah. Motornya yang selama ini dia sayang-sayang, dia jual! Uangnya melek-melek buat sedekah. Tuh motor dia pake buat ngeberangkatin satu-satunya ibunya yang masih hidup. Subhaanallaah kan? Itu jual motor, kurang. Sebab itu motor dijual cepat harganya ga nyampe 13 juta. Tapi dia tambahin 12 juta dari 17jt uang cash yang dia punya. Sehingga ibunya punya 25 juta. Tambahannya dari simpenan ibunya sendiri.

Si sekuriti masih bercerita, bahwa dia merasa aman dengan uang 5 juta lebihan transaksi. Dan dia merasa ga perlu lagi motor. Dengan uang ini, ia aman. Ga perlu kasbon. Mendadak si bos itu yang kagum. Dia lalu kumpulin semua karyawannya, dan menyuruh si sekuriti ini bercerita tentang keberkahan yang dilaluinya selama 1 bulan setengah ini. Apakah cukup sampe di situ perubahan yang trjadi pada diri si sekuriti?
Engga. Si sekuriti ini kemudian diketahui oleh owner pom bensin tersebut sebagai sarjana S1 Akuntansi. Lalu dia dimutasi di perusahaan si owner yang lain, dan dijadikan staff keuangan di sana. Masya Allah, masya Allah, masya Allah. Berubah, berubah, berubah. Saudara-saudaraku sekalian. Cerita ini bukan sekedar cerita tentang Keajaiban Sedekah dan Shalat saja. Tapi soal tauhid. soal keyakinan dan iman seseorang kepada Allah, Tuhannya. Tauhid, keyakinan, dan imannya ini bekerja menggerakkan dia hingga mampu berbuat sesuatu. Tauhid yang menggerakkan!
Begitu saya mengistilahkan. Sekuriti ini mengenal Allah. Dan dia baru sedikit mengenal Allah. Tapi lihatlah, ilmu yang sedikit ini dipake sama dia, dan diyakini.

Akhirnya? Jadi! Bekerja penuh buat perubahan dirinya, buat perubahan hidupnya. Subhaanallaah, masya Allah. Dan lihat juga cerita ini, seribu kali si sekuriti ini berhasil keluar sebagai pemenang, siapa kemudian yang mengikuti cerita ini? Kayaknya kawan-kawan sepom bensinnya pun belum tentu ada yang mengikuti jejak suksesnya si sekuriti ini. Barangkali cerita ini akan lebih dikenang sebagai sebuah cerita manis saja. Setelah itu, kembali lagi pada rutinitas dunia.

Yah, barangkali tidak semua ditakdirkan menjadi manusia-manusia pembelajar. Pertanyaan ini juga layak juga diajukan kepada Peserta KuliahOnline yang saat ini mengikuti esai ini? Apa yang ada di benak Saudara? Biasa sajakah? Atau mau bertanya, siapa sekuriti ini yang dimaksud? Di mana pom bensinnya? Bisa kah kita bertemu dengan orang aslinya? Berdoa saja. Sebab kenyataannya juga buat saya tidak gampang menghadirkan testimoni aslinya. Semua orang punya prinsip hidup yang berbeda. Di antara semua peserta

KuliahOnline saja ada yang insya Allah saya yakin mengalami keajaiban-keajaiban dalam hidup ini.

Sebagiannya memilih diam saja, dan sebagiannya lagi memilih menceritakan ini kepada satu dua orang saja, dan hanya orang-orang tertentu saja yang memilih untuk benar-benar terbuka untuk dicontoh. Dan memang bukan apa-apa, ketika sudah dipublish, memang tidak gampang buat seseorang menempatkan dirinya untuk menjadi contoh. Yang lebih penting buat kita sekarang ini, bagaimana kemudian kisah ini mengisnpirasikan kita semua untuk kemudian sama-sama mencontoh saja kisah ini. Kita ngebut engebut2nya menuju Allah. Yang merasa dosanya banyak, sudah, jangan terus-terusan meratapi dosanya.

Kejar saja ampunan Allah dengan memperbanyak taubat dan istighfar, lalu mengejarnya dengan amal saleh. Persis seeperti yang kemaren-kemaren juga dijadikan statement esai penutup.

Kunjungi juga wisahati.com untuk kuliah online tentang berbagai ilmu Agama.



http://fahry.com/rahasia-sedekah.htm

Thursday, August 27, 2009

KABAR BAIK DARI PEREKONOMIAN DUNIA

Rabu, 26/08/2009 10:27 WIB
oleh : Erna S. U. Girsang

Sinyal pemulihan ekonomi global semakin menguat setelah beberapa negara besar dunia mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada pertengahan tahun ini yang ditunjukkan oleh membaiknya angka laju produk domestik bruto (PDB).

Arah perbaikan ini seolah-olah menjadi titik balik ancaman resesi yang mulai memanas sejak pertengahan 2007. Kondisi ini juga seakan memberi titik terang dari resesi terparah yang terjadi sejak Perang Dunia II.
Perlambatan ekonomi dunia begitu dalam telah membawa perekonomian dunia masuk ke dalam daftar peristiwa resesi dunia. Bahkan, resesi yang terjadi masuk katagori terparah sejak Perang Dunia II, di mana saat itu terjadi hiperinflasi di Eropa pada Agustus 1918-Maret 1919 akibat perang.

Betapa tidak. Selama resesi sejumlah indikator makroekonomi, seperti PDB, angka pengangguran, belanja investasi, kapasitas produksi pabrik, pendapatan rumah tangga, dan keuntungan usaha anjlok.
Situs resmi Departemen Keuangan AS menyebutkan Negeri Paman Sam itu telah masuk ke resesi pada kuartal I/2009 karena tumbuh negatif 3,3%, menyusul pertumbuhan minus 1,9% selama kuartal IV/2008. Adapun Jepang telah mengalami pertumbuhan negatif selama 5 kuartal berturut-turut hingga kuartal I/2009.

Secara beruntun, Australia, Selandia Baru, Singapura, Hong Kong, Malaysia dan kawasan Euro dianggap telah terjerembap ke jurang resesi.

Namun, untung saja ada kabar baik yang mulai terdengar pada pertengahan tahun ini. Secara serentak beberapa proyeksi ekonom menyatakan titik terendah dari krisis telah berlalu, meskipun belum ada kepastian mengenai fundamental pemulihan.

Bulan lalu, Bloomberg juga mengutip pernyataan Alan Greenspan, mantan Chairperson bank sentral AS (Federal Reserve/the Fed) yang menilai kebangkrutan ekonomi telah berlalu. Perekonomian AS, sumber resesi akibat kredit kepemilikan rumah murah (subprime mortgage), sedang mendekati stabilisasi.

Kebijakan memaksimalkan ekspansi moneter dan fiskal dinilai mulai membawa dunia keluar dari resesi. Dari sisi moneter, bank sentral ramai-ramai menurunkan suku bunga selama krisis dan saat ini masih bertahan pada rekor terendah.

AS menurunkan suku bunga rata-rata dari 2% pada 2007 menjadi 0,25% pada 16 Desember 2008 dan berlaku sampai sekarang. Tingkat bunga overnight Jepang diturunkan dari 0,5% pada 2007 menjadi 0,1% pada 19 Sesember 2008.

Kawasan Euro juga telah mengambil sikap serupa dengan menurunkan suku bunga acuan menjadi 1% pada 21 April 2009 dari 2,73% pada 2007. Akan tetapi, kebijakan yang sangat ekspansif ini tidak diikuti negara dengan ancaman inflasi yang masih tinggi, di sejumlah negara di Asia.

Dari sisi fiskal, pertemuan negara maju dan berkembang dalam Group of Twenty (G-20) di London, Inggris, awal April 2009, telah menyepakati stimulus anggaran minimal 2% dari PDB guna mendorong pertumbuhan.
Perdana Menteri Taro Aso sudah membelanjakan stimulus senilai US$263 miliar (25 triliun yen). Obama mengalokasikan dana penyelamatan sektor keuangan (Troubled Asset Relief Program/TARP) senilai US$700 miliar bagi 19 bank terbesar di AS.

Sementara itu, Presiden China Hu Jintao meluncurkan stimulus senilai US$586 miliar selama 2008 dan 2009. Pemerintah Australia memberikan US$10 miliar bantuan langsung tunai kepada rumah tangga dan berjanji menambah A$22 miliar untuk perbaikan infrastruktur. Sikap untuk mempertahankan dukungan fiskal pemerintah ini sepertinya masih akan berlanjut pada pertemuan G-20 berikutnya.

Kabar baik selanjutnya datang dari perekonomian Jepang yang semakin menguat sejak kuartal II/2009. Realisasi indikator ekonomi di sejumlah negara juga lebih baik dibandingkan satu setengah tahun terakhir.
Takahide Kiuchi, Kepala Ekonom Nomura Securities Co, bahkan meyakini ekonomi Jepang telah melalui kondisi terburuk.

Keyakinan tersebut tidak lepas dari laporan Pemerintah Jepang yang sebelumnya menyatakan negara itu untuk pertama kalinya dalam lima kuartal terakhir mengalami pertumbuhan positif pada kuartal II/2009. Pemulihan ekspor dan belanja konsumen telah mendorong PDB tahunan Jepang naik 3,7%.

Pengangguran AS

Meskipun ada sinyal kuat perekonomian global mulai keluar dari resesi, dunia tampaknya masih harus terus waspada dan mempertahankan langkah agresif. Di AS, tantangan muncul dari lonjakan angka pengangguran yang diperkirakan mendekati 10% pada akhir 2009.

Untuk mempertahankan kesinambungan kabar baik dari resesi ini, sejumlah negara masih perlu memberlakukan ekspansi moneter dan fiskal. Ini tecermin dari sikap bank sentral belum menaikkan buku bunga acuan.

Dari sisi fiskal, Menkeu Australia Wayne Swan pada hari lalu mengatakan pertemuan G-20 tingkat menteri yang dijadwalkan digelar pada 4 September 2009 akan menentang gagasan yang mengusung penghentian stimulus anggaran.

Pemulihan memang belum pasti terjadi, tetapi setidaknya, indikasi perekonomian dari berbagai penjuru dunia itu sudah memberikan kabar baik. Mari berharap sinyal pemulihan ini terus berlanjut.

(erna.girsang@bisnis.co.id)
bisnis.com

"http://web.bisnis.com/artikel/2id2458.html"

Monday, August 10, 2009

TURNAMEN FUTSAL "GAFEKSI CUP" DIMENANGKAN FPS INDONESIA


Dalam upaya lebih mendekatkan keberadaan asosiasi ini dengan para anggotanya serta terjalinnya silaturahmi antar-anggota, pada 8 – 9 Agustus 2009 yang lalu Gafeksi (Gabungan Freight Forwarder Ekspedisi Seluruh Indonesia) mengadakan turnamen futsal yang dilangsungkan di Semanggi Expo di kawasan SCBD Jakarta Pusat. Turnamen ini diikuti oleh 16 tim peserta anggota Gafeksi wilayah DKI Jakarta dari rencana semula 32 tim. Turnamen ini juga sekaligus dalam rangka ulang tahun Gafeksi ke-20 yang jatuh pada tanggal 25 Juli 2009 yang baru lalu.

Tampil sebagai pemenang dalam turnamen ini adalah PT FPS Indonesia (FPS) setelah dalam final mengalahkan tim yang “masih satu saudara” yaitu PT Internusa Hasta Buana (IHB). Partai final bagi kedua tim ini merupakan parti anti klimaks setelah sebelumnya mereka mengalahkan lawan-lawannya di semi final.

Semifinal, Partai Final Sesungguhnya

Di semi final, FPS mengalahkan PT Samudera Naga (SN) dengan angka yang cukup tipis 6 – 4. FPS yang mendominasi permainan sejak peluit awal dibunyikan mendominasi perolehan angka. Tidak mau kecolongan, SN pun melayani permainan FPS dengan sengit. Kejar-kejaran angkapun tidak terelakkan hingga kedudukan 4 – 4. Semangat SN mulai mengendor saat eksekusi penalti tidak dapat dimanfaatkan dengan baik oleh SN setelah diblok kiper FPS pada babak kedua. Seperti tidak menyia-nyiakan kesempatan kendornya semangat tim SN, pasukan FPS terus menggempur dengan kombinasi serangan kiri-kanan dan umpan-umpan panjang. Kemenangan pun sudah mulai terlihat manakala penalti yang didapat dimanfaatkan untuk mencetak gol, 5 – 4. Dan akhirnya, dengan kombinasi dan gencarnya serangan, FPS dapat memetik kemenangan setelah beberapa menit menjelang usai diperoleh satu gol lagi. Kedudukan 6 – 4 tidak lagi dapat dikejar SN dalam sisa waktu yang tidak seberapa.

Sama seperti di lapangan 7, di lapangan 5 pertandingan juga tidak kalah serunya. IHB yang ditantang PT Jatidiri Trans (JT) tidak mau menyerah dengan gempuran sengit lawannya. Kedudukan di akhir babak pertama menunjukkan bahwa IHB hanya sedikit unggul dari lawannya dengan skor tipis 6 – 5. Seolah mendapat spirit baru, di babak kedua IHB tidak memberikan kesempatan kepada lawan untuk berkembang dalam menyerang. Selain kepiawaian kiper dalam mematahkan shooting-shooting pasukan JT, para penyerang IHB tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan bola berada di kakinya. Tembakan langsung panjang maupun kerja sama dari kaki ke kaki diperagakannya dengan piawai. Alhasil, tim ini meraih angka mutlak dengan kedudukan akhir 14 – 7.

Di partai final, seperti terlihat dari ketatnya kedudukan angka di semi final sebelumnya, permainan banyak didominasi oleh pasukan FPS sejak peluit awal dibunyikan. Ini terbukti dengan kedudukan 3 – 0 hanya dalam waktu tidak lebih dari 4 menit pertama. Pertandingan yang dipimpin oleh Adi (Wasit I) dan Tomi (Wasit II) sesekali memperlihatkan serangan balik yang gencar dari IHB. Hasilnya, pada menit ke-14 IHB dapat memperkecil kedudukan pada babak pertama itu lewat pemain bernomor 21, 4 – 1. Setelah kemasukan 1 gol lagi, berturut-turut kemudian IHB terus memperkecil kekalahan dengan gol-golnya pada menit 16 dan 17, 5 – 2. Kedudukan ini tidak berubah sampai babak pertama berakhir.

Di babak kedua dominasi serangan masih berada di pasukan FPS. Tak ayal kiper IHB harus jatuh bangun mengeblok setiap bola yang mengancam gawangnya dari shooting-shooting jarak jauh. Namun demikian sang kiper ini rupanya tidak cukup piawai dalam menghadapi serangan dari kaki ke kaki. Pertandingan ini berakhir dengan kedudukan telak 14 – 5 untuk kemenangan FPS.

Ketua Umum Gafeksi Menutup Turnamen

Di partai final, selain suporter dari tim-tim yang bertanding juga dihadiri oleh Pengurus Gafeksi. Hadir dalam kesempatan itu Arman Yahya dan juga Iskandar Zulkarnain selaku Ketua Umum Gafeksi selain jajaran manajemen lainnya. Kepada Peserta peraih Juara Pertama, yaitu FPS dianugerahi Piala Kejuaraan beserta uang tunai secara simbolis sebesar Rp 5.000.000,-. Piala kejuaraan juga diberikan kepada Juara Kedua dan Ketiga serta uang tunai masing-masing sebesar Rp 3.000.000,- dan Rp 1.000.000. Di samping piala kejuaraan dan uang tunai, hadiah juga diberikan kepada pencetak gol terbanyak (top scorer) yaitu Bima, pemain bernomor punggung 10 dari FPS, uang tunai sebesar Rp 500.000,-. Dia berhak atas uang tunai itu setelah mencetak 18 gol dalam keseluruhan pertandingan dua hari itu.




Ketua Umum Gafeksi berfoto bersama peraih Juara 1 s/d 3



Dalam kata penutupannya, Iskandar mengatakan bahwa turnamen serupa akan kembali digelar di tahun-tahun mendatang dan diharapkan kepada peserta dapat mempersiapkan lebih baik lagi di masa mendatang. Ucapan beliau ini seolah menegaskan kembali kalimat yang tertulis di salah satu spanduk di lapangan 7 yang berbunyi,

“Kemenangan terbesar manusia bukanlah karena dia tidak pernah jatuh (“kalah”, red), namun karena dia bangun kembali pada setiap kali jatuh”.

Ya, mudah-mudahan kata-kata ini dapat memberikan inspirasi bagi tim yang belum beruntung pada saat ini dan bangkit lagi nanti dengan tim yang lebih handal sebagaimana kehandalan yang dikehendaki bagi setiap insan freight forwarder di persada ini.

Selamat Ulang Tahun Gafeksi ke-20!


(Jaeroni Setyadhi)

Thursday, August 6, 2009

STRAIGHT VS ORDER BILL OF LADING

Saat ini saya sedang mempersiapkan Materi Basic Forwarding 2 untuk teman-teman FPS dan Iska Group di kesempatan training mendatang. Salah satu pertanyaan yang sifatnya review mungkin akan diujikan, bunyinya begini :

Kenapa Air Waybill (AWB) tidak dapat diperjualbelikan (non-negotiable)?

Mungkin sudah ada yang tahu jawabannya, tapi saya yakin banyak di antara kita yang belum memahami.

Menulis dengan judul tulisan di atas bukan tanpa dasar. Beberapa kasus yang pernah terjadi di lingkungan IHB / Iska sejak 90-an antara lain terkait pada pemahaman judul tulisan di atas.

AWB tidak dapat diperjualbelikan (non-negotiable) dengan alasan karena dokumen tersebut termasuk “straight” document atau dalam istilah lain dinamakan sebagai dokumen-recta. Dalam transportasi laut dokumen ini diadaptasi dengan nama Sea Waybill atau juga Bill of Lading biasa dengan ciri tertentu. Ciri dokumen ini adalah bahwa dalam kolom Consignee dan Notify Party ditulis lengkap nama yang akan menerima barang di tujuan tanpa embel-embel lain.

Kenapa AWB harus berbentuk straight document? Ini dikarenakan bahwa proses transportasi udara demikian cepat termasuk dalam proses customs clearance-nya. Keharusan pelaksanaan pemrosesan secara cepat juga diindikasikan dengan tingginya tarif gudang di bandar udara dibandingkan dengan tarif gudang di pelabuhan laut dan juga demikian tingginya arus barang di bandar / pelabuhan udara.

Jadi,

Straight B/L = Sea Waybill = B/L-recta = Air Waybill

Lawan dari “straight” documents adalah “order” document (atau “to order” documents). Cirinya jelas bahwa di kolom Consignee atau Notify Party tertulis “to order ......”. Order ini bisa order of shipper atau bisa juga order of bank.

Penanganan Hati-hati atas Shipment Tertentu

Salah satu nilai tambah bagi sebuah freight forwarder adalah posisinya sebagai Adviser (Consultant) di banding bisnis usaha yang lain semisal pelayaran. Seorang adviser harus dibekali dengan pengetahuan dan pemahaman tentang ruang lingkup dan aspek yang melingkupi atas apa yang dikerjakannya.

Akan halnya dengan kedua dokumen di atas, jika dalam Shipping Instruction yang kita terima di kolom Consignee terdapat kata “to order” kita boleh sedikit tenang bahwa kondisi penyerahan barang akan merujuk kepada persyaratan yang ditentukan oleh pihak yang disebut di belakang kata “to order” tersebut. Dan biasanya shipment dimaksud dicover dengan Letter of Credit (L/C).

Sebaliknya, jika di kolom Consignee (dan/atau juga Notify) secara lengkap dituliskan alamat si penerima, periksalah! Barang apa yang akan diangkut? Berapa nilai barang yang diangkut itu? Jika termasuk ke dalam barang yang spesific (berharga, nilai nominal tinggi dsb.), konfirmasikan kepada shipper apakah penggunaan jenis dokumen dimaksud tidak “membahayakan” shipper terutama terkait dengan masalah pembayaran dsb.?

Common Law Country dan Civil Law Country

Apa pula ini dengan kaitan judul di atas?
Sebagai ilustrasi singkat, bahwa negara yang menganut hukum kebiasaan (common law) akan secara otomatis menerapkan putusan pengadilan sebagai hukum positif. Sedangkan, negara dengan hukum sipil (civil law) akan mengacu hanya pada undang-undang dan regulasi yang berlaku. Jika tidak ada undang-undang atau regulasi yang mengatur hal tertentu maka itu bukan suatu hukum positif meskipun sebuah pengadilan negeri pernah memutuskan suatu perkara tertentu.

Negara yang menganut common law adalah Inggris dan negeri bekas jajahannya, sedangkan yang menganut civil law adalah negara-negara Eropa daratan (termasuk Belanda) dan negara jajahannya termasuk Indonesia.

Sikap hati-hati yang saya maksud di atas adalah jika suatu shipment freightnya adalah “prepaid” atau ada pembubuhan kata “as arranged”, maka bagi common law country, Consignee sudah berhak atas barangnya. Penyerahan (release) barang bukan berdasar pada ada tidaknya original documents sebagaimana jika dicover L/C tapi pada bagaimana status freightnya apakah sudah dibayar atau tidak. Apalagi jika jenis dokumennya adalah “straight B/L”. Sebaliknya tidak demikian bagi civil law country sepanjang tidak diatur.

Oleh karena itu, dalam posisi kita sebagai Principal (pemilik order shipment) kita harus tahu posisi kita termasuk instruksi apa yang proper dan yang tidak terkait dengan pemberlakuan hukum di negara setempat.

Dalam ISO 9001 versi 2008 (ISO 9001:2008) compliant terhadap statutory dan regulatory ditambahkan sebagai persyaratan dibanding versi sebelumnya, mencakup tidak saja undang-undang dan peraturan negara setempat tapi juga undang-undang dan peraturan negara yang menjadi jangkauan bisnisnya.

Kesimpulan

Kesimpulannya lebih kurang sebagai berikut :

1. Kalau shipment dicover L/C maka release barang tidak hanya “against documents” tapi juga verifikasi dari pihak bank. Jadi shipmentnya relatif aman utamanya bagi Seller / shipper.

2. Shipment yang dicover dengan Straight B/L sama dengan yang dicover dengan Sea Waybill. Barang dapat direlease tanpa original documents.

3. Undang-undang dan regulasi di negara-negara common law lebih dinamis / maju dibanding negara-negara yang menganut civil law. Undang-undang dan peraturan di negara kita boleh jadi tertinggal jauh.

4. ISO 9001:2008 mensyaratkan agar perusahaan tersertifikasi compliant tidak hanya terhadap statutory dan regulatory setempat tapi juga negara lain yang menjadi cakupan kerjanya dalam bentuk pemahaman undang-undang dan regulasi negara terkait tersebut.


Referensi : www.forwarderlaw.com


(Jaeroni Setyadhi)

Thursday, July 9, 2009

LOKA KARYA "MEKANISME PENGADUAN PENGGUNA JASA B.C."

Dari Loka Karya Bea Cukai
MEKANISME PENGADUAN PENGGUNA JASA


Sebagai upaya berkelanjutan dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam melakukan reformasi internalnya, selama dua hari yaitu Senin dan Selasa, 6 dan 7 Juli 2009 DJBC bekerja sama dengan “GTZ SFGG” menyelenggarakan Loka Karya bertajuk “Mekanisme Pengaduan Pengguna Jasa” yang diikuti oleh pihak-pihak pengguna jasa kepabeanan yaitu :

- Importir/eksportir umum,
- Importir/eksportir mitra utama BC (MITA),
- Importir/eksportir jalur prioritas,
- Importir/eksportir pemegang fasilitas KITE,
- Pengusaha tempat penimbunan berikat (TPB), dan
- Perusahaan Penyedia Jasa Kepabeanan (PPJK),

Loka karya yang bertujuan antara lain merubah paradigma dari pandangan bahwa BC sebagai penguasa kepabeanan menjadi fasilitator bagi dunia industri dan perekonomian dalam arti seluas-luasnya di samping kinerjanya yang terkesan tidak kunjung membaik dan korup itu dibuka oleh Cerdas Kaban, Deputy Pelayanan Publik Kementerian PAN. Ikut memberikan sambutan pembukaan yaitu Thomas Sugiyata (Ketua Tim Percepatan Reformasi DJBC) dan Peter Rimelle, Principal Adviser GTZ SFGG yang merupakan fasilitator bagi terselenggaranya loka karya ini.

Pada siang harinya saat jeda di hari pertama Dirjen Bea Cukai Anwar Suprijadi berkesempatan meninjau pelaksanaan acara ini dan terlihat berbincang dengan beberapa peserta loka karya ini.

Loka karya ini merupakan jembatan bagi DJBC sebagai penyedia jasa dengan para penggunanya sebagaimana tersebut di atas dalam merumuskan langkah-langkah pembuatan survey pengaduan yang selanjutnya akan diikuti oleh loka karya lanjutan berupa analisis pemecahan masalah.

Pembagian Kelompok Pengguna Jasa

Penjelasan tentang definisi “Pengaduan (Complaint)” termasuk uraian tentang motivasi seseorang dalam mengajukan keluhan terlebih dahulu diuraikan dan dijelaskan kepada peserta di awal acara sebagai dasar pijakan/kesepakatan dalam melakukan loka karya ini.

Dalam menjaring keluhan-keluhan pengguna atas kinerja DJBC, peserta dikelompokkan menjadi 4 kelompok pengguna.

- Kelompok I : importer/eksportir umum dan PPJK
- Kelompok II : importer/eksportir MITA dan jalur prioritas
- Kelompok III : importer/eksportir pemegang fasilitas KITE, dan
- Kelompok IV : pengusaha tempat penimbunan berikat (TPB).

Dari beraneka macam keluhan yang dihimpun dari kelompok-kelompok tersebut selanjutnya dibuatkan kuesioner simulasi dan juga simulasi pelaksanaan surveynya sendiri. Selanjutnya, hasil simulasi survey ditabulasi dalam bentuk grafik sebagai satu bentuk teknik statistic.

Simulasi kuesioner dan simulasi survey ini nantinya dijadikan prototype pelaksanaan survey yang sesungguhnya bagi Tim Percepatan Reformasi (TPR) DJBC yang dijadwalkan dilaksanakan pada pertengahan Juli 2009 (penyelesaian kuesioner survey) dan 1 – 31 Agustus (pelaksanaan survey). Bulan Agustus 2009 ini akan dicanangkan sebagai Bulan Pengaduan Pengguna Jasa DJBC.

Untuk pelaksanaan survey nanti, loka karya telah menjaring relawan bagi pelaksanaannya dan penulis sendiri termasuk dalam Tim Relawan tersebut.

Keyakinan Pengguna Jasa tentang Hasil yang Diharapkan

Sebagaimana halnya berbagai langkah reformasi yang dilakukan terhadap institusi birokrasi, harapan dan keyakinan peserta akan langkah-langkah DJBC ini masih sangat minim kalau tidak dibilang sebagai bentuk ekspresi apatisme. Ini tergambar saat peserta diminta untuk memberikan “suara”-nya dalam bentuk umpan balik (feed back) penyelenggaraan loka karya ini di sesi akhir acara dua hari itu.

Dari kesepuluh item feed back yang disodorkan, kinerja penyelenggara (organizer) dan fasilitator masing-masing menempati peringkat pertama dan kedua. Ini bisa dimaklumi mengingat tempat penyelenggaraannya di sebuah hotel yang cukup bagus (Hotel Atlit Century Senayan) dan metodologi diciptakan sedemikian rupa sehingga terjadi interaksi yang seimbang di antara peserta yang di dalamnya termasuk juga Tim Percepatan Reformasi DJBC tersebut. Sementara itu, keyakinan akan hasil yang diharapkan dalam bentuk kecepatan pelayanan dan terhapusnya korupsi menempati peringkat paling bawah (kesepuluh).

Namun demikian, apapun persepsi yang masih membekas tentang kinerja DJBC, langkah yang telah dilakukan DJBC ini patut diapresiasi. Selanjutnya, keberhasilan termasuk terciptanya persepsi yang lebih baik menyangkut kinerja dan bersihnya praktek-praktek korupsi lebih berpulang pada orang-orang DJBC sendiri : mau ke mana?


Jaeroni Setyadhi
PT FPS Indonesia - Jakarta