Y O U R....V I S I O N....I S....O U R....M I S S I O N

Thursday, July 3, 2008

PELAYANAN PERBAIKAN MANIFES MASIH LAMBAN

Kamis, 03/07/2008

JAKARTA (Bisnis): Ribuan dokumen redress manifest atau perbaikan daftar muatan masih menumpuk di Kantor Pelayanan Umum (KPU) Bea dan Cukai Pelabuhan Tanjung Priok meskipun instansi itu telah menurunkan tim bidang kepatuhan internal dan pelayanan.
Kushari Supriyanto, Kepala KPU Bea dan Cukai Pelabuhan Tanjung Priok, mengatakan pihaknya sudah menurunkan tim untuk mengatasi kemacetan pelayanan dokumen redress manifest.
"Saya sudah memerintahkan bidang KI [kepatuhan internal] dan pelayanan untuk segera mengatasi kelambanan pelayanan dokumen itu," ujarnya kepada Bisnis, kemarin.
Namun, ribuan dokumen redress manifest yang diajukan oleh perusahaan pelayaran, keagenan kapal, dan penerima barang belum selesai diproses di KPU Bea dan Cukai Pelabuhan Tanjung Priok.
Seorang pengusaha ekspedisi di pelabuhan itu mengatakan apabila dokumen impor terkena redress (perlu diperbaiki), jangan berharap bisa diproses secara cepat.
Menurut dia, proses pelayanan dokumen redress manifest paling cepat dilayani setelah dua minggu dokumen masuk. Di sisi lain, perusahaan pelayaran dan agen kapal selalu disalahkan oleh pemilik barang akibat lambannya proses pelayanan dokumen di Bea dan Cukai karena petugas pelayaran dituding tidak cermat dalam mengisi dokumen.
"Padahal, kesalahan itu tidak selalu terjadi pada agen, tetapi juga akibat laporan agen perusahaan pelayaran di pelabuhan mencatat consignee [penerima barang] dan alamatnya yang salah," katanya.
Butuh waktu
Sebelumnya, Kushari mengakui untuk penanganan proses perbaikan nama perusahaan memang membutuhkan waktu karena harus melalui penelitian yang cermat dan melakukan wawancara dengan kedua penerima barang.
Selain itu, perlu membuat pernyataan tertulis yang diketahui oleh pengangkut atau perusahaan pelayaran agar tidak terjadi kesalahan dalam penyerahan barang.
Kushari juga mengakui KPU belum punya standar pelayanan dan kepastian waktu dalam menangani proses pelayanan dokumen redress manifest. Namun, dia berjanji akan menyiapkan standar pelayanan dan kepastian waktu proses dokumen itu.
Ketua Bidang Kepabeanan DPW Gabungan Forwarder & Ekspedisi Indonesia (Gafeksi) DKI Jakarta Widijanto mengatakan lambannya proses penanganan redress consignee di KPU sudah lama dikeluhkan oleh penerima barang, perusahaan pelayaran, dan agen kapal di Pelabuhan Tanjung Priok. (Junaidi Halik)
Oleh : Aidikar M. Saidi
Bisnis Indonesia
bisnis.com

Wednesday, July 2, 2008

SEJUMLAH PELABUHAN UTAMA TERANCAM STAGNASI

Jumat, 13/06/2008 JAKARTA (Bisnis):
Bea dan Cukai Pelabuhan Tanjung Priok mengizinkan pemindahan lokasi penumpukan peti kemas secara besar-besaran, menyusul ancaman kongesti akibat kepadatan arus peti kemas di pelabuhan tersibuk di Indonesia itu dalam sepekan ini.
Kepadatan lapangan penumpukan (yard occupancy ratio/YOR) di terminal peti kemas Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, dilaporkan sempat mencapai 130% pada awal pekan ini, atau 30% di atas batas maksimal.
Selain di Priok, pelabuhan di sejumlah daerah juga terancam stagnasi akibat keterbatasan dan kerusakan alat bongkar muat peti kemas.
Kongesti itu diduga terkait dengan penggeledahan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tanjung Priok pada 30 Mei. Kejadian itu menyebabkan petugas lebih berhati-hati dalam pemeriksaan dokumen.
Kushari Supriyanto, Kepala KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok, mengatakan untuk mengurangi penumpukan peti kemas di pelabuhan, sejak awal pekan ini instansinya menyetujui ratusan permohonan izin pemindahan lokasi penumpukan (PLP) untuk ribuan peti kemas impor.
"Dalam satu hari, ada sekitar 128 permohonan izin PLP yang masuk ke Bea dan Cukai dengan jumlah ribuan peti kemas yang dikeluarkan dari terminal asal ke tempat penimbunan sementara [TPS] di pelabuhan," ujarnya kepada Bisnis, kemarin.
Upaya itu, menurut Kushari, untuk menurunkan YOR di sejumlah terminal peti kemas. Hasilnya, YOR di sejumlah terminal peti kemas (TPK) berangsur-angsur normal.
YOR di Jakarta International Container Terminal (JICT) kemarin turun menjadi 80%, TPK Koja 85%, TPK Dwipa 45%, dan TPK Mustika Alam Lestari 70%.
"Proses pengurusan dokumen di kantor KPU sudah normal, meskipun sebelumnya diakui ada keterlambatan setelah penggeledahan KPK beberapa waktu lalu. Saat ini sudah bisa diantisipasi," paparnya.
Kushari mengakui sejak penggeledahan KPK, banyak petugas fungsional pemeriksa dokumen yang shock dan instansinya sudah membentuk tim untuk menyelesaikan masalah itu.
Ramadhan, pimpinan salah satu perusahaan penyedia jasa kepabeanan (PPJK) di Tanjung Priok, mengungkapkan keterlambatan itu akibat banyak dokumen impor jalur merah sejak penggeledahan KPK sampai saat ini tidak dikerjakan oleh petugas KPU Tanjung Priok.
"Bahkan ada dokumen pengeluaran barang yang sudah lebih dari 15 hari diajukan, tetapi belum selesai juga di KPU," ujarnya. Dokumen itu seharusnya bisa diselesaikan dalam dua sampai tiga hari kerja.
Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi mengatakan pengajuan izin PLP dari TPS asal ke TPS tujuan tidak akan dikenakan biaya apa pun, karena hal itu untuk mengantisipasi kepadatan arus peti kemas di pelabuhan.
"Kami anjurkan bagi pemilik peti kemas yang masih menumpuk di JICT-2, mengajukan izin PLP agar bisa menjaga stabilitas YOR di pelabuhan. Untuk hal ini, pemilik barang tidak dipungut biaya PLP," paparnya.
Agus Barlianto, Manajer Humas JICT, mengatakan YOR di terminal itu kemarin turun menjadi 80% setelah PLP sejak sehari sebelumnya.
Dia membantah terjadi antrean kapal di dermaga JICT. "Kami tidak tahu kalau di dermaga konvensional."
Ketua Bidang Kepelabuhanan, Kepabeanan, dan Transportasi Dewan Pemakai Jasa Angkutan Indonesia (Depalindo) Irwandy M. A. Rajabasa mempertanyakan mengapa stagnasi di Priok terjadi setelah penggeledahan oleh KPK.
Desakan Menhub
Menhub Jusman Syafii Djamal mendesak PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I, II, III, dan IV segera memodernisasi sarana dan prasarana di terminal pelabuhan yang dikelolanya.
Desakan itu menyusul stagnasi di sejumlah pelabuhan akibat minimnya investasi sarana dan prasarana terminal. Selain di Priok, stagnasi juga terjadi di Pelabuhan Pontianak, Soekarno-Hatta Makassar, Teluk Bayur Padang, Belawan Medan, dan beberapa pelabuhan lain di kawasan timur Indonesia.
"Dalam proses menghadapi kompetisi, Pelindo harus lebih kompetitif. Syarat kompetitif adalah sarana dan prasarana yang dimiliki harus dimodernisasi," ujar Menhub seusai rapat kerja di Komisi V DPR, kemarin.
Stagnasi di Pelabuhan Pontianak dan Tanjung Perak Surabaya, menurut Menhub, lebih disebabkan oleh keterbatasan alat bongkar muat kontainer. Khusus di Priok, akibat kerusakan jalan di dalam pelabuhan.
Menhub mendesak Pelindo II menambah investasi di Pontianak dan mempercepat perbaikan jalan di dalam pelabuhan. (k1/04/Hendra Wibawa) (hery.lazuardi@bisnis.co.id)
Oleh Hery Lazuardi
Bisnis Indonesia
bisnis.com

Monday, June 9, 2008

DI MANA ADA KEKUATAN, HARUS ADA KEBIJAKSANAAN


Setelah sepak bola, tennis lapangan dan terakhir olah raga futsal tidak lama lagi akan ada satu cabang olah raga yang bisa digunakan sebagai sarana menyegarkan jasmani kita di lingkungan Iska Niaga Darma Group yaitu olah raga bela diri kempo atau yang lebih kita kenal sebagai Shorinji Kempo dengan membuka “dojo” baru yang kelak pesertanya adalah para karyawan-karyawati di lingkungan Iska group ini khususnya dan masyarakat sekita dojo pada umumnya.

Tak berlebihan kiranya karena olah raga ini merupakan perpaduan antara seni dan olah raga -- seperti olah raga bela diri lainnya – yang mengakar kuat pada tradisi luhur yang berasal dari China. Tapi dalam perjalanannya kempo lebih dikenal sebagai olah raga yang berasal dari Jepang karena penyebarnya adalah orang-orang dari daratan Jepang (lihat sejarah kempo di milis resmi Perkemi, http://www.perkemi.or.id/)

Pentingnya kebugaran tubuh, dengan antara lain mengikuti kempo ini, adalah dalam rangka membina dan menjaga jasmani agar tetap segar sehingga dapat membantu otak kita berpikir cerdas dalam menghadapi persaingan bisnis yang kian sengit (men sana incorpore sano).

Demikian disampaikan Bpk Iskandar Zulkarnain yang pada tanggal 24 Mei 2008 yang lalu diberi amanah selaku Wakil Ketua Dewan Penyantun Persaudaraan Bela Diri Kempo Indonesia (Perkemi) DKI Jaya periode 2008 – 2012 oleh Pengurus Besar Perkemi melalui SK No. No.241/SK-PB/IV/2008.

Segenap keluarga besar Iska Niaga Darma Group mengucapkan Selamat atas kepercayaan ini dan semoga pembentukan dojo di lingkungan kantor segera dapat direalisasikan khususnya jika kita yang di Jakarta dapat disatukan di Jalan Pramuka nanti. Dan, sebagaimana judul di atas yang diambil dari lambang organisasi Shorinji Kempo berupa “manji”, semacam tanda swastika yang berputar ke kiri dapat diimplementasikan di kehidupan kita sehari-hari di manapun berada.

Sekali lagi SELAMAT!!!
(JS)



Catatan: Sumber Berita tentang pengukuhan dari KONI DKI Jaya.

Thursday, June 5, 2008

GAFEKSI: PEMERIKSA DOKUMEN BEA CUKAI TANPA BATAS

Rabu, 04/06/2008

JAKARTA: Gafeksi menilai wewenang yang diberikan kepada pejabat fungsional pemeriksa dokumen (PFPD) Ditjen Bea dan Cukai tanpa batas dan tidak ada dasar hukum yang jelas dalam menetapkan nilai pabean.
Widijanto, Ketua Bidang Kepabeanan DPW Gabungan Forwarder & Ekspedisi Indonesia (Gafeksi) DKI Jakarta, mengatakan kewenangan tanpa batas bagi pemeriksa dokumen perlu ditinjau ulang untuk mencegah praktik penyogokan.
"Itu membuka peluang bagi PFPD untuk menerima uang sogokan dari importir dan perusahaan forwarder agar nilai pabean bisa lebih rendah atau paling tidak sama dengan nilai transaksi dari negara asal barang," ujar kepada Bisnis, kemarin.
Menurutnya, Ditjen Bea dan Cukai harus memangkas wewenang yang begitu besar bagi PFPD, apalagi selama ini tidak ada dasar hukum yang kuat untuk menggugat pejabat pemeriksa dokumen itu apabila ada kesalahan dalam menetapkan nilai barang.
Menanggapi hal itu, Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi menegaskan pihaknya keberatan untuk meninjau ulang wewenang PFPD karena para pemeriksa dokumen itu diawasi oleh pejabat struktural, yakni kepala bidang kepabeanan di Kantor Pelayanan Umum (KPU). "Jadi, wewenang pejabat fungsional tersebut ada yang mengawasinya dan tidak ada wewenang tanpa batas," katanya.
Terkait dengan penggeledahan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Anwar menegaskan pihaknya merasa bangga dengan keberhasilan tim KPK menangkap basah beberapa orang PFPD yang diduga menerima uang sogokan dalam proses dokumen.
Menurutnya, praktik penyogokan adalah persoalan moral pejabat dan bukan soal kewenangan tanpa batas.

Oleh Aidikar M. Saidi
Bisnis Indonesia

Monday, May 26, 2008

CLIMBERS, THE WINNING TEAM



Pernah dengar pembalap climber? Bagi Anda anggota komunitas B2W atau bicycling-club akan segera tahu bahwa pembalap climber adalah pembalap sepeda spesialis tanjakan. Karena spesialisasinya ini para pembalap ini biasanya yang tampil sebagai juara (winner) dalam setiap kejuaraan tour bersepeda.

Tim Climbers FPS Plus juga rintisan bagi sebuah “Winning Team” yang telah memberikan buktinya khususnya dari Tim Climbers Import yang telah lebih dahulu terbentuk dari Tim Climbers Export. Hal ini mengemuka saat diadakan rapat gabungan pertama kedua tim climbers di Kantor Plaza Atrium pada 23 Mei 2008 yang lalu.

Disampaikan oleh Ketua Tim Climbers Import, M. Yasin, bahwa di triwulan pertama 2007 sempat terjadi penurunan. Untuk periode Januari s/d April 2007 pencapaian hanya inward container 178 TEUS dibanding 225 TEUS pada periode sama 2006. Namun sampai dengan akhir 2007 jumlah ini meningkat khususnya karena bertambahnya direct consol shipment dari pelabuhan-pelabuhan muat (port of loading) yang tergolong baru. Di tahun 2006 port of loading yang melakukan consol hanya sebanyak 8 POL tapi pada tahun 2007 ternyata meningkat menjadi 12 POL.

Tim Climbers Export yang baru terbentuk sekitar dua minggu yang lalu dan dipimpin oleh Erwin Saropie tidak mau ketinggalan dan mencoba mencanangkan targetnya. Target-target yang terdiri dari target destinasi dan target perolehan volume diusulkan di depan para anggota serta Tim Manajemen.

Sebelum pemaparan target dan perolehan masing-masing tim, Direktur FPS Indonesia, Bpk. Hendratmoko memberikan gambaran sekilas tentang kondisi eksternal yang kurang menguntungkan antara lain meningkatnya harga minyak dunia yang sudah mencapai USD 135 per barrel, masalah sekitar keagenan di lingkungan FPS Group dan juga hal-hal terkait bisnis khususnya import. Secara internal beliau juga menegaskan kembali kebijakan FPS Indonesia dalam menyikapi kebijakan pemerintah tentang kenaikan harga BBM.

Beberapa hal yang kelihatannya masih menjadi sedikit kendala bagi tim eksport antara lain kenyataan bahwa harga LCL untuk destinasi tertentu termasuk untuk direct consol masih lebih tinggi dari FCL, format promosi yang belum mampu menarik minat calon customer untuk menggunakan jasa kita maupun masalah klasik sekitar kompetitifnya harga di pasaran.

Tim impor memaparkan sedikit hambatan dalam memuluskan pencapaian targetnya antara lain : tidak rutinnya consol dari beberapa POL, berkurangnya volume, serta pekerjaan pengambilan delivery order (DO) di pelayaran dan proses pelaksanaan relokasi (overbrengen) container di pelabuhan yang masih kurang memenuhi target waktu penyelesaian.

Tawaran fasilitas khusus
Seperti yang pernah disampaikan pada saat pembentukan tim climber import di bulan September 2007 yang lalu, manajemen menawarkan fasilitas khusus bagi climber yang achieved yang sekaligus sebagai penanda peningkatan peringkat yang ditandai dengan perubahan warna. Fasilitas yang dimaksud adalah pemberian sebuah laptop bagi climber yang mampu memperoleh gross profit sebesar USD 4,000 atau lebih bagi cabang-cabang Jakarta dan Surabaya serta USD 3,000 atau lebih bagi cabang-cabang Semarang dan Bandung. Promo ini berlaku untuk shipment-shipment dari bulan Mei sampai dengan Desember 2008.

Dalam kesempatan pertemuan ini Pak Aep Suparman, GM Internusa Hasta Buana menggarisbawahi beberapa hal yang diharapkan mampu mendukung suksesnya program ini, yaitu :
- hendaknya program ini diintegrasikan dalam kerangka program keseluruhan khususnya menyangkut pemahaman product-knowledge di bidang import,
- tersedianya tools yang cukup bagi para climber sehingga harga yang ditawarkan kompetitif,
- memperbaiki format promosi dan “kemasan menjual”, serta
- melanjutkan joint-sales dari order yang telah didapatnya.

Pertemuan ini dihadiri tidak saja oleh para climber Jakarta. Ada Acep dan Alamsyah dari Cikarang, Okky Hanipradja dan Ike dari Bandung, Ahmad Syaefudin dan MA Haris dari Semarang serta Taufiqurrahman, Helmi Basalamah dan Linda dari cabang Surabaya serta tidak ketinggalan Tim Manajemen Pusat. Sebagai catatan, Helmi Basalamah adalah Ketua Tim Climber Surabaya.

Pada kata penutupannya Bpk. Iskandar Zulkarnain selaku pimpinan Iska Niaga Darma Group menandaskan hendaknya :

- The Climbers adalah The Winning Team, dan
- Buktikan bahwa FPS / Internusa / Intan Segara adalah freight forwarder terbaik di negeri ini.

Akhirnya, rapat yang diawali dengan pembacaan Sasaran Mutu FPS ini diakhiri dengan sebuah kalimat komitmen yang disampaikan oleh Okky Hanipradja berbunyi :


“Commit to the Lord whatever you do, your plan will be succeed”




Jakarta, 26 Mei 2008
Jaeroni Setyadhi

Tuesday, May 13, 2008

SOSOK EKONOMI SETELAH REFORMASI

Faisal Basri, Ekonom

Koran Tempo, 13 Mei 2008, Edisi 10 Tahun Reformasi

Kebebasan. Itulah kata yang bisa menggambarkan suasana kehidupan berbangsa pascareformasi. Perekonomian Indonesiapun turut menghirup kebebasan itu. Memang tidak sebebas negara-negara penganut aliran Neoklasik atau Neoliberal, tapi setidaknya, kesumpekan akibat monopoli dan kartel terang-terangan yang diabsahkan pemerintah bisa dikatakan sudah nyaris sirna. Kendali pemerintah pusat atas daerah sudah jauh berkurang. Pemerintah tak bisa lagi mendikte DPR untuk mengesahkan anggaran pendapatan dan belanja negara tanpa perubahan satu sen pun. Bank Indonesia tak lagi di bawah ketiak pemerintah.
Penguasaan negara di sektor produksi sudah jauh berkurang. Di sektor telekomunikasi, penerbangan, perbankan, dan perkebunan, peran badan usaha milik negara tak lagi dominan, digantikan oleh swasta domestik maupun asing.
Perlidungan terhadap industri atau usaha dalam negeri dikikis oleh liberalisasi perdagangan. Proteksi dipangkas hingga tingkat yang sangat rendah, sebagaimana tercermin dari tarif bea masuk rata-rata yang sudah di bawah 10 persen. Tidak terkecuali terhadap produk-produk pertanian yang dihasilkan oleh hampir separuh penduduk yang taraf kehidupannya terbilang sangat memprihatinkan.
Mesin mekanisme pasar berputar kencang. Laju pertumbuhan ekonomi mulai cepat. Tahun lalu, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) mencapai 6,3 persen, yang berarti hampir mendekati pertumbuhan rata-rata selama Orde Baru. Namun, kalau kita cermati corak pertumbuhannya, ternyata sangat berbeda dengan periode prakrisis. Di awal Orde Baru, sektor pertanian jadi titik perhatian. Pemerintah mendirikan pabrik pupuk berskala besar, dan membangun infrastruktur pertanian secara masif. Memasuki dasawarsa 1980-an sektor industri manufaktur menggeliat dan lebih digenjot pada dekade 1990-an.
Di era reformasi, kedua sektor tersebut relatif merana. Produk-produk pertanian kian membanjiri pasar. Banyak sekali produk pertanian yang dikonsumsi masyarakat luas yang kita impor : beras, kedelai, jagung, garam, gandum dan terigu, gula, bubuk cabai, sayur-mayur, buah-buahan. Sementara itu, industri manufaktur tumbuh jauh di bawah pertumbuhan PDB, sangat kontras dibandingkan masa Orde Baru yang tumbuh jauh di atas pertumbuhan PDB, bahkan tak jarang tumbuh dua digit. Penurunan juga terjadi di sektor pertambangan. Maka, tak mengherankan sementara kalangan mensinyalir telah terjadi gejala dini deindustrialisasi.
Padahal, pertanian, manufaktur, juga pertambangan (sektor tradable) merupakan tumpuan hidup sekitar dua pertiga penduduk. Jika pertumbuhan ketiga sektor ini melempem, maka kesejahteraan relatif mayoritas penduduk kian tertinggal. Yang tumbuh sangat pesat -- jauh melampuai pertumbuhan PDB -- adalah sektor-sektor jasa modern di kota-kota besar (non-tradable) yang kebanyakan disantap oleh kalangan menengah ke atas.
Kesenjangan pertumbuhan sektor tradable versus sektor non-tradable semakin menganga. Data untuk 2007 menunjukkan sektor tradable hanya tumbuh 3,8 persen sedangkan sektor non-tradable tumbuh 9 persen. Dengan pola pertumbuhan demikian, niscaya kita akan sangat sulit memerangi kemiskinan dan menekan pengangguran.
Selama 10 tahun terakhir jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan praktis tak berubah, yakni di sekitar 17,7 - 17,6 persen. Pada 2007 turun sedikit menjadi 16,6 persen. Jikat kita menggunakan ukuran pengeluaran per kapita di bawah satu dolar AS sehari, penurunan jumlah orang yang tergolong sangat miskin hanya turun dari 7,8 persen pada 1996 menjadi 6,7 persen pada 2007. Laju penurunan jumlah orang yang sangat miskin di Indonesia sungguh sangat lambat bila dibandingkan dengan Vietnam dan Cina. Di Vietnam, jumlah penduduk sangat miskin turun drastis dari 23,6 persen pada 1996 menjadi hanya 4 persen pada 2007. Untuk Cina, pada kurun waktu yang sama, angkanya menurun dari 16,4 persen menjadi 6,9 persen.
Perkembangan di bidang ketenagakerjaan juga tak mengalami perbaikan. Angka pengangguran terbuka bahkan melonjak dari 4,9 persen pada 1996 menjadi 9,1 persen pada 2007. Walau harus diakui bahwa dalam dua tahun terakhir telah terjadi sedikit penurunan angka pengangguran terbuka, pebaikan tersebut hanya dari sisi nominal dan belum diiringi oleh perbaikan kualitas.
Perlu dicatat pula bahwa di barisan penganggur ini, porsi yang berusia muda dan atau berpendidikan SLTA ke atas terbilang sangat tinggi. Dilihat menurut lokasi, dua provinsi dengan angka pengangguran tertinggi ialah Banten dan Jawa Barat. Mengingat kedua provinsi tersebut merupakan, basis terpenting industri manufaktur Indonesia, berarti semakin kuat konstalasi bahwa industri manufaktur mengalami kemunduran relatif yang mengarah pada gejala deindustrialisasi.
Dengan pola dan kualitas pertumbuhan seperti itu, sangat bisa dipahami mengapa kesenjangan pendapatan dalam beberapa empat tahun terakhir semakin menganga, bahkan tahun lalu kondisi memburuknya sangat mencolok. Reformasi agaknya tidak mendekatkan kita pada cita-cita kemerdekaan : mewujudkan keadilan sosial, memajukan kesejahteraan umum, mengenyahkan dominasi kapitalis, dan memerangi kemiskinan. Quo vadis reformasi? o

Friday, May 9, 2008

MEMBAKAR SEMANGAT DI SANTA MONICA

Cuaca cerah mengiringi kepergian kami dari kantor Ancol di hari Sabtu (3/5) kemarin. Persiapan yang sudah dimulai sejak sebulan lalu dan dimantapkan kembali seminggu terakhir itu memungkinkan seluruh staff Ancol dan Tanjung Priok dapat mengikuti acara yang diselenggarakan oleh FPS Indonesia Jakarta, karena seluruh kegiatan eksportasi dapat diselesaikan pada Jum’at (2/5) malam. Bahkan Henry, newcomer bagian dokumentasi rela menginap-ria di kantor Ancol di malam Sabtu itu.


Bukan! Ini bukan terminal Baranangsiang lho!

Acara ini diberi tema “United We Grow”, berupa kegiatan outbond yang diadakan di Smart Camp Santa Monica, Pancawati, Bogor, Jawa Barat pada hari Sabtu dan Minggu, 3 dan 4 Mei 2008.

Berangkat pada jam 08:30 kedua bis yang beriringan itu tidak mendapat hambatan di sepanjang tol dalam kota dan tol Jagorawi. Hambatan mulai terasa saat memasuki perapatan Ciawi sampai Pasar Cikeretek. Kendaraan melaju dengan merayap. Mungkin karena sopir yang kelelahan akibat jalan yang merayap itu maka satu bus kami sempat kebablasan hingga sejauh beberapa ratus meter dari jalan akses menuju Pancawati. Akibatnya, kami harus turun ramai-ramai sambil menunggu bus yang hendak memutar balik.







Mau mudik Mas? Pan, belum lebaran? Maaf, saya bukan TKI Mas!


Sekitar jam 11:30 kami telah tiba di lokasi yang posisinya paling ujung di antara camp-camp yang bertebaran di kawasan tersebut. Setelah melakukan penyesuaian dengan lingkungan dari rasa jetlag yang menyeruak di antara kegembiraan itu kami makan bersama di pendopo utama komplek learning center tersebut.

Biar bertampang TKI Sukabumi, tapi kami mbawa semangat lho!



Selanjutnya, setelah meyelesaikan “ishoma” kami menuju lapangan untuk peregangan otot-otot yang dilanjut dengan tracking menyusuri sungai kecil di bukit sekitaran camp yang merupakan kaki Gunung Pangrango itu.

Jalur yang sedianya dapat ditempuh dalam waktu 2 jam ternyata mundur karena ada beberapa peserta yang boleh dibilang “katrok” menghadapi medan yang lumayan curam itu. Dari yang jalannya macam siput sampe yang super keseleo kakinya sehingga harus ditandu. Tidak cuma itu, cuaca yang mendadak tidak bersahabat dengan turunnya hujan deras itu menjadikan instruktur memerintahkan sebagian peserta khususnya kelompok bagian belakang untuk tidak melanjutkan perjalanan. “Wis, aku kecewa berat nich, lantaran trackingnya nggak sampe tujuan”, kata salah seorang peserta yang bergabung belakangan.

Ada catatan yang menarik, ternyata di camp yang biasa disebut sebagai learning center ini muncul foto model dan kelompok foto model dadakan. Tidak ketinggalan, dilengkapi pula oleh para fotografer amatiran. Tapi jangan negative dulu! Sebab, ternyata gambar-gambar yang terekam pantas diusulkan di ajang pameran foto, minimal se Iska Niaga Darma grup.


“Kelompok” Panca-wati Para pecinta alam merangkap “pecinta” lensa kamera

Rasa lelah bercampur kegembiraan sangat-sangat membaur di malam itu. Apalagi saat tiba acara api unggun semua seakan larut dalam kehangatan suasana …

Api unggun telah menyala … api unggun telah menyala ….
Api … api… api, api, api …. Api unggun telah menyala ...

Api s’mangat telah menyala ... api s’mangat telah menyala ...
S’mangat... s’mangat ...., s’mangat, s’mangat, s’mangat ...
Api s’mangat telah menyala ....

Kehangatan suasana itu juga dilengkapi dengan keheningan suasana saat Pak Budi Satoto membawakan semacam puisi bebas berjudul “Bila saat ini adalah saat terakhir kita” yang kira-kira isinya koyak-koyak yang ada di amalan kita hendaknya ditambal sambil terus mengupayakan yang terbaik di sisi kuantitas dan kualitasnya. Tak ada jaminan bagi “cukupnya” amalan kita itu selain dengan upaya yang sungguh-sungguh untuk terus meningkatkan kuantitas yang dibarengi kualitas amalan kita itu.

Teram tam tam .... Fieeeessta ..... selesai pulalah acara api unggun yang sebelumnya juga diisi beberapa fun games.

Selanjutnya, acara santai di pendopo utama dengan dihibur oleh organ tunggal dari grup “Faisal Entertainment” tapi yang asli sono .... bukan para Faisal-nya FPS/Internusa. Malah para-Faisal kita itu tidak kelihatan berjoget di depan. Tidak jelas alasannya, tapi mungkin agak kurang sreg takut bersaing-saingan ...

***

Meskipun udara tidak terlalu dingin, malam telah terlewati dengan damai dan dilengkapi dengan tidur yang teramat lelap. Namun demikian, di ujung cottage sana ternyata ada “kelompok bengal” yang dari investigasi lapangan baru tidur setelah jam 03:30 dini hari setelah setengahan malam dihabiskan dengan bermain kartu. Tentu saja bermain dengan sungguh-sungguh bermain dalam suasana santai pula bukan bermain dengan tanda kutip. Record siapa yang unggul sengaja tidak ditampilkan di sini, harap maklum.

Hari ini menurut sekedul Panitia adalah outbond activities alias ritual outbond yang sesungguhnya, kenapa? Kata para keponakan, “karena nanti ada flying fox-nya”. Benar saja, sebelum ritual outbond dimulai para petugas sudah siap-siap dengan peralatannya. Maklum, di Cabang Surabaya sana ada kawan kita yang mengalami sedikit musibah saat ber-flying fox ria.





Kelompok “Bintang”, malamnya ‘dah ngimpi ... ciu..ciu..ciu

Permainan demi permainan dilalui, ada ice-breaking yang berupa lempar-lemparan bola; ada magic stick yang “susahnya” minta ampun; lalu ada electric-web; serta tentu saja flying fox.


Mejeng dulu ah, mumpung difoto gratis ... Wuuuussssss ....



Di akhir sesi acara outbond, dua games lagi disajikan. Masing-masing opposite-step beregu yang dimenangkan kelompok “Dispenser“ (nggak jelas penamaannya .... mungkin karena pengalaman bakal ada yang kehausan kali?); dan pemindahan obor melewati serangan musuh. Sangat mengasyikkan game yang terakhir ini karena “bom air“ sebagai amunisi musuh yang membasahi separoh lebih para pengawal obor ini menjadi penyegar di terik matahari. Tiga kali bolak-balik sebelum akhirnya obor sampai pada tempat yang telah ditentukan.

Hikmah dari permainan ini adalah bahwa adanya sebuah keniscayaan atau kemungkinan dalam setiap usaha meraih prestasi selalu ada saja gangguan bahkan serangan dari kompetitor. Namun, kita haruslah tetap bersikap ksatria dengan tidak membalasnya secara serta-merta sebagaimana dicontohkan dalam permainan ini yang sama sekali tidak dibolehkan adanya “serangan balasan“.

Pepatah mengatakan, “tidak ada pesta tanpa kesudahan“ dan acara dua hari itupun harus diakhiri, dan pendopo utama menjadi tempat pengakhiran acara ini. Dalam kata akhirnya di acara dua hari itu Pak Iskandar menyampaikan kata selamat menikmati pengalaman yang telah dilalui di Pancawati ini dan jadikan simulasi dari setiap fun games yang banyak berisi pembangunan team-work menjadi bekal bekerja sehari-hari sesuai tugas fungsinya. Pak Is juga menyampaikan ucapan sampai jumpa pada event outbound berikutnya. (Catatan Redaksi, tentu saja achievement first la yaw .... )



Miss Door-Prize FPS Jakarta



Akhirnya, penganugerahan predikat “Miss Door-Prize“ secara tidak formal diceletukkan kepada kawan kita Neri oleh karena keberuntungan yang terus-menerus memperoleh “significant door-prize” pada dua event terakhir yang diselenggarakan FPS Indonesia dan Iska Niaga Darma pada umumnya. Kali ini kawan kita itu mendapat first prize : mountain bike!

Sampai jumpa di event yang lain …..

Wassallam / Jaeroni Setyadhi.-


Post scriptum :
Mohon maaf dengan bahasa slank kepada semua-muanya, dan terutama untuk Pak Budi …. minta tolong judulnya yang sesungguhnya …. takut hari ini adalah hari ....